7 Fakta Genosida Rwanda yang Sudah Berlalu 30 Tahun

Kamis, 25 April 2024 - 18:40 WIB
Diidentifikasi sebagai Tutsi atau Hutu sebelum kolonialisme bersifat “fluid” dan sangat didasarkan pada kelas. Hutu yang kaya mampu memperoleh gelar kehormatan Tutsi. “Itu sebenarnya didasarkan pada berapa banyak sapi yang Anda miliki, [tetapi] orang-orang Belgia membangun perbedaan antara keduanya dan memanipulasinya. Suku Tutsi sudah lebih baik keadaannya, dan tentu saja mereka menggunakan hak istimewa mereka untuk meningkatkan kehidupan mereka,” kata Wohlgemuth.

Pada tahun 1932, penjajah Belgia semakin memperkuat perbedaan tersebut ketika mereka memperkenalkan kartu identitas yang mencantumkan etnis seseorang.

Pada tahun 1959, ketika gerakan kemerdekaan melanda Afrika, suku Hutu melakukan pemberontakan dengan kekerasan melawan penjajah Belgia dan elit Tutsi. Sekitar 120.000 orang, terutama orang Tutsi, melarikan diri dari pembunuhan dan serangan tersebut, dan berlindung di negara-negara tetangga.

Pemerintahan Hutu berkuasa setelah kemerdekaan pada tahun 1962. Namun, negara baru ini sejak awal menghadapi ancaman dari pengungsi Tutsi yang mengorganisir diri di pengasingan.

Salah satu kelompoknya, Front Patriotik Rwanda (RPF) yang berbasis di Uganda, bertujuan untuk merebut kekuasaan dan memulangkan pengungsi yang diasingkan dengan melancarkan serangan terhadap sasaran sipil dan militer di Rwanda. RPF didukung oleh pemerintahan Yoweri Museveni di Uganda dan dipimpin terutama oleh para komandan Tutsi, termasuk presiden Rwanda saat ini, Paul Kagame.

Pada akhir tahun 1990, perang saudara pecah antara RPF dan pemerintah Rwanda.

2. Bermotif Politik dan Balas Dendam

sindopict-c8GvTNogqVb


Foto/AP

Pemerintah Hutu menindak orang Tutsi selama perang, mengklaim mereka adalah kaki tangan RPF. Propaganda pemerintah menggambarkan mereka sebagai pengkhianat, sehingga menimbulkan kemarahan luas terhadap mereka.

Namun, setelah intervensi internasional, presiden Rwanda, Juvenal Habyarimana, menandatangani Perjanjian Arusha pada Agustus 1993 untuk mengakhiri perang, sehingga serangan RPF terhenti. PBB mengerahkan pasukan untuk memfasilitasi proses perdamaian di bawah Misi Bantuan PBB untuk Rwanda (UNAMIR).
Halaman :
Lihat Juga :
tulis komentar anda
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Video Rekomendasi
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More