Taliban Perintahkan Murid dan Guru Laki-laki Kembali ke Sekolah, Tanpa Wanita

Minggu, 19 September 2021 - 07:01 WIB
loading...
Taliban Perintahkan...
Anak perempuan berangkat sekolah setelah Taliban merebut Herat, Afghanistan, pada 3 September 2021. Foto/anadolu
A A A
KABUL - Taliban memerintahkan anak laki-laki dan guru laki-laki kembali ke sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) di Afghanistan pada Sabtu (18/9/2021).

Penguasa baru Afghanistan itu tak memerintahkan anak perempuan kembali berangkat ke sekolah menengah tersebut.

Taliban menggulingkan pemerintah yang didukung Amerika Serikat (AS) bulan lalu. Mereka menjanjikan pemerintahan yang lebih moderat daripada pemerintahan represif mereka pada 1990-an, saat sebagian besar perempuan dilarang bersekolah dan bekerja.

Baca juga: Fakta Baru Baku Tembak di Istana Presiden, Tokoh Moderat Taliban Baradar Tersingkir

Namun diktat dari Kementerian Pendidikan adalah langkah terbaru dari pemerintahan Imarah Islam Afghanistan yang mengancam hak-hak perempuan.

Baca juga: Iran Tak Akan Biarkan ISIS Hadir di Perbatasan Afghanistan

"Semua guru dan siswa laki-laki harus menghadiri lembaga pendidikan mereka," papar pernyataan menjelang pembukaan kembali sekolah pada Sabtu.

Baca juga: Viral! Preman Salah Sasaran, Balik Dihajar Remaja Juara Bela Diri Jiu-jitsu

Pernyataan itu, yang dikeluarkan Jumat malam, tidak menyebutkan guru perempuan atau murid perempuan.

SMP dan SMA dengan siswa biasanya berusia antara 13 dan 18, sering dipisahkan berdasarkan jenis kelamin di Afghanistan.

Selama pandemi Covid-19, mereka menghadapi penutupan berulang kali dan ditutup sejak Taliban merebut kekuasaan.

Sejak invasi pimpinan AS menggulingkan Taliban pada 2001, kemajuan signifikan telah dibuat dalam pendidikan anak perempuan, dengan jumlah sekolah bertambah tiga kali lipat dan melek huruf perempuan hampir dua kali lipat menjadi 30%. Namun, perubahan itu sebagian besar terbatas pada kota-kota.

PBB mengatakan "sangat khawatir" untuk masa depan sekolah perempuan di Afghanistan.

“Sangat penting bahwa semua anak perempuan, termasuk anak perempuan yang lebih tua, dapat melanjutkan pendidikan mereka tanpa penundaan lebih lanjut. Untuk itu, kami membutuhkan guru perempuan untuk melanjutkan mengajar,” papar badan anak-anak PBB, UNICEF.

Sekolah dasar (SD) telah dibuka kembali, dengan anak laki-laki dan perempuan kebanyakan menghadiri kelas terpisah dan beberapa guru perempuan kembali bekerja.

Rezim baru juga mengizinkan perempuan untuk kuliah di universitas swasta, meskipun dengan pembatasan ketat pada pakaian dan pergerakan mereka.

Sebagai tanda lebih lanjut bahwa pendekatan Taliban terhadap perempuan dan anak perempuan belum melunak, mereka tampaknya telah menutup Kementerian Urusan Wanita dan menggantinya dengan departemen yang terkenal menegakkan doktrin agama yang ketat selama pemerintahan awal mereka.

Di Kabul pada Jumat, para pekerja terlihat mengangkat tanda untuk Kementerian Promosi Kebajikan dan Pencegahan Kejahatan di gedung lama Kementerian Urusan Wanita di Kabul.

Video yang diposting ke media sosial menunjukkan pekerja perempuan dari Kementerian Urusan Wanita melakukan protes di luar gedung setelah kehilangan pekerjaan.

Tidak ada pejabat dari Taliban yang menanggapi permintaan komentar.

Meski masih terpinggirkan, perempuan Afghanistan telah memperjuangkan dan memperoleh hak-hak dasar dalam 20 tahun terakhir, seperti menjadi anggota parlemen, hakim, pilot, dan polisi.

Ratusan ribu wanita memasuki dunia kerja. Hal itu jadi suatu keharusan dalam beberapa kasus karena banyak wanita menjadi janda atau sekarang mendukung suami yang tidak sah sebagai akibat dari konflik selama beberapa dekade.

Taliban telah menunjukkan sedikit kecenderungan untuk menghormati hak-hak itu seperti tidak ada perempuan yang dimasukkan dalam pemerintahan dan banyak yang dipecat dari pekerjaannya.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Hukum Baru Taliban:...
Hukum Baru Taliban: Diamnya Gadis Perawan Berarti Persetujuan untuk Menikah
Afghanistan: Pakistan...
Afghanistan: Pakistan Bombardir Rumah Sakit Kabul, 400 Orang Tewas!
Taliban Afghanistan...
Taliban Afghanistan Terbuka untuk Dialog setelah Pakistan Bom Kota-kota Besar
Perbandingan Kekuatan...
Perbandingan Kekuatan Militer Pakistan vs Afghanistan: Bak David vs Goliath
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Mencapai 920 Orang, Pencarian Korban Masih Berlangsung
Duh, AS-Iran Saling...
Duh, AS-Iran Saling Serang Lagi Gara-Gara Salah Menafsirkan MoU Perjanjian Damai
Rekomendasi
AI Analytics-Trade Flow...
AI Analytics-Trade Flow Siapkan Keputusan Investasi buat Pemula
Besok Komisi I DPR Tetapkan...
Besok Komisi I DPR Tetapkan 7 Anggota KIP 2026-2030
Implementasi B50 Perkuat...
Implementasi B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Tingkatkan Nilai Tambah Sawit
Berita Terkini
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Infografis
Berapa Gaji Guru PPPK...
Berapa Gaji Guru PPPK dan PNS 2025? Ini Rinciannya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved