Apa itu Virus Marburg? Virus Mematikan yang Memicu Alarm WHO

Selasa, 19 Juli 2022 - 17:49 WIB
loading...
Apa itu Virus Marburg?...
Virus Marburg virus mematikan yang mempunyai kemiripan dengan Ebola. Foto/Ilustrasi/Sindonews
A A A
JAKARTA - Setidaknya dua orang dilaporkan meninggal karena virus Marburg di Ghana , dan 98 orang telah ditempatkan di karantina untuk mencegah penyebaran yang lebih luas. Peristiwa ini memicu alarm badan kesehatan dunia, WHO .

Penyakit yang sangat menular ini mirip dengan Ebola, di mana ada wabah di Afrika Barat antara 2013 dan 2016 yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.

Baik virus Ebola dan Marburg diketahui dapat menyebabkan virus demam berdarah yang fatal.

Di tempat lain, di Tanzania, Afrika timur, tercatat ada 13 kasus virus demam berdarah, dan tiga orang telah meninggal. Mereka menderita gejala termasuk demam, sakit kepala, kelelahan, dan mimisan, tetapi dinyatakan negatif Ebola dan Marburg.

Tetapi sementara para ahli kesehatan terus menyelidiki penyakit misterius di Tanzania, Ghana telah mengkonfirmasi kasus virus Marburg.

Lalu apa itu virus Marburg? berikut penjelasannya seperti dikutip dari Evening Standard, Selasa (19/7/2022).

Baca juga: WHO Peringatkan Wabah Virus Baru Marburg yang Ganas dan Mematikan

Virus Marburg adalah Filovirus yang dapat menyebabkan virus demam berdarah (VHF) yang parah dan fatal.

Sebuah virus yang lebih terkenal dalam keluarga Filovirus adalah virus Ebola, yaman mana penyakitnya dengan virus Marburg hampir tidak dapat dibedakan secara klinis.

Virus Marburg pertama kali ditemukan pada tahun 1967 ketika terjadi wabah simultan di laboratorium Marburg dan Frankfurt Jerman, serta di Beograd di Serbia.

Para pekerja laboratorium yang jatuh sakit telah melakukan kontak dengan darah, organ, atau kultur sel monyet hijau Afrika yang diimpor dari Uganda barat laut.

Marburg umumnya dianggap sebagai virus zoonosis, yang berarti ditularkan oleh hewan. Kelelawar buah dianggap sebagai inang alami dan kera rentan, tetapi karena mereka mati dengan cepat setelah terinfeksi, mereka biasanya bukan inang.

Virus ini memiliki gejala seperti sakit kepala parah, rasa tidak enak, demam tinggi, kelemahan progresif dan cepat. Sekitar tiga hari kemudian, gejalanya meliputi diare berair, sakit perut, kram, mual, dan muntah

Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak di Dunia, WHO Desak Pemakaian Masker Diwajibkan Lagi

Gejala menjadi semakin parah, dan setelah sekitar lima sampai tujuh hari, banyak pasien akan mengalami demam berdarah yang parah. Kasus fatal biasanya melibatkan beberapa bentuk perdarahan.

Masa inkubasi virus Marburg biasanya antara tiga dan 10 hari.

Saat ini tidak ada pengobatan khusus untuk virus Marburg, tetapi pasien menerima terapi suportif seperti mempertahankan oksigen dan tekanan darah serta mengganti darah yang hilang.

Pada awal-awal kemunculannya, wabah virus ini terjadi melalui paparan di tambang atau gua yang dihuni oleh koloni kelelawar Rousettus.

Tetapi penularan dari orang ke orang terjadi melalui kontak dekat dengan orang yang terinfeksi, terutama darah dan cairan tubuh, yang mengandung konsentrasi virus yang tinggi.

Virus Marburg juga dapat ditularkan secara seksual dan dapat tetap berada dalam air mani hingga tujuh minggu setelah pemulihan.

Selain itu, virus Marburg dapat ditularkan melalui peralatan injeksi yang terkontaminasi, serta kontak dekat dengan tubuh atau cairan tubuh orang yang telah meninggal karena Marburg.

Baca juga: WHO: Gelombang Baru Virus Menunjukkan COVID-19 Belum Berakhir

(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ghana Sahkan RUU Anti-LGBT,...
Ghana Sahkan RUU Anti-LGBT, Membela Gay Bakal Dipenjara 5 Tahun
Kepala WHO Kunjungi...
Kepala WHO Kunjungi Pusat Wabah Ebola
Disebut Calon Kuat Jadi...
Disebut Calon Kuat Jadi Direktur Jenderal WHO, Menkes Budi: Saya akan Konfirmasi
Kepala WHO Peringatkan...
Kepala WHO Peringatkan Lebih Banyak Kasus Hantavirus akan Muncul
WHO: Wabah Hantavirus...
WHO: Wabah Hantavirus Bukan Awal Pandemi Covid-19 Berikutnya
WHO Peringatkan Skenario...
WHO Peringatkan Skenario Nuklir Terburuk di Iran, Rusia Kutuk Serangan Israel
Ghana Lolos ke 32 Besar,...
Ghana Lolos ke 32 Besar, Skotlandia Tersingkir dan Steve Clarke Mundur
AS Lancarkan Serangan...
AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran, Sasar Pertahanan Udara hingga Fasilitas Drone
Putin: Ukraina Minta...
Putin: Ukraina Minta Serangan ke Wilayah Lebih Dalam Dihentikan
Rekomendasi
Polisi Ungkap Alasan...
Polisi Ungkap Alasan Pelaku Sekap 3 Karyawan Percetakan, Tuduh Korban Curi Pelat Rp230 Juta
Liburan Terima Beres...
Liburan Terima Beres ke Jepang: Jelajah Fukuoka dan Oita yang Unik
Tito Dorong Penguatan...
Tito Dorong Penguatan BNPP RI untuk Percepatan Pembangunan dan Keamanan Perbatasan
Berita Terkini
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Infografis
34 PTS yang Masuk THE...
34 PTS yang Masuk THE Sustainability Impact Ratings 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved