Hacker Korut Coba Retas Pusat Penelitian Nuklir Korsel

loading...
Hacker Korut Coba Retas Pusat Penelitian Nuklir Korsel
Kelompok hacker dari Korut coba retas pusat penelitian nuklir Korsel. Foto/Ilustrasi
SEOUL - Seorang anggota parlemen Korea Selatan (Korsel) mengatakan sebuah kelompok hacker Korea Utara (Korut) diduga telah masuk ke pusat penelitian nuklir negara itu bulan lalu. Ini menandai serangan terbaru dalam serangkaian upaya serangan siber.

"Institut Penelitian Energi Atom Korea (KAERI) melihat akses pengguna tak dikenal, menembus sistem VPN pada 14 Mei," ungkap Ha Tae-keung, anggota komite intelijen parlemen Korsel seperti dikutip dari ABC News, Sabtu (19/6/2021).

Lembaga think tank nuklir Korsel itu telah memblokir alamat IP penyerang dan meningkatkan keamanan sistemnya sebagai tindakan balasan ketika ditemukan pada 31 Mei.

Menurut KAERI pihak berwenang masih menyelidiki skala peretasan.



Baca juga: Kim Jong-un: Korut Siap Dialog atau Konfrontasi dengan AS

Perusahaan keamanan siber yang berbasis di Seoul, IssueMakersLab, melakukan analisis pada alamat IP penyerang pada hari Kamis dan menemukan bahwa salah satu dari tiga alamat ditelusuri kembali ke kelompok peretas terkenal Kimsuky, yang dikenal karena afiliasinya dengan agen mata-mata Korut. Analisis mengidentifikasi bahwa itu adalah alamat yang sama yang menargetkan pengembang vaksin COVID-19 di Korsel tahun lalu.

"Kimsuky adalah kelompok peretas yang diidentifikasi pada tahun 2011. Kami telah mengamati upaya peretasan mereka yang konsisten terhadap lembaga terkait pemerintah Korea Selatan dan beberapa perusahaan," kata Simon Choi, kepala IssueMakersLab, kepada ABC News.

Analis di Korsel dengan hati-hati berspekulasi bahwa peretasan itu mungkin ada hubungannya dengan visi pemimpin Korut untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Sebelumnya, pada tahun 2014, Kimsuky berhasil melakukan serangan hacking terhadap Korea Hydro & Nuclear Power Co. Ltd Korsel.

"Masuk akal untuk berpikir bahwa Korea Utara mungkin terlibat dalam meretas think tank nuklir, mengingat situasi kekurangan tenaga listrik dan minat yang kuat pada kemandirian energi," ucap Park Jiyoung, seorang ahli fisika nuklir di Asan Institute di Seoul, kepada ABC News.
halaman ke-1
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top