Siapa Itu RSF, Kelompok Bengis yang Bantai Massal Warga Sipil Sudan?
Minggu, 02 November 2025 - 09:40 WIB
loading...
A
A
A
Selama krisis politik Sudan tahun 2019, junta militer yang mengambil alih kendali negara tersebut menggunakan RSF untuk menindak keras demonstran pro-demokrasi. Bersama pasukan keamanan lainnya, RSF melakukan pembantaian Khartoum pada 3 Juni 2019.
Pada 15 April 2023, perang saudara pecah antara RSF dan SAF setelah RSF memobilisasi pasukannya di berbagai kota di Sudan, termasuk Darfur.
SAF pada akhirnya menetapkan RSF sebagai kelompok pemberontak. Pasukan RSF kini menguasai hampir seluruh wilayah Sudan, sebagian besar di selatan dan barat.
Berbagai kekuatan asing yang dilaporkan mendukung RSF antara lain Uni Emirat Arab, Chad, dan Israel. Namun ketiga negara itu kebanyakan bungkam atau pun menyangkal.
Kelompok tentara bayaran Rusia, Wagner Group, juga dilaporkan menyokong RSF. Namun Wagner tidak berkomentar.
Babak baru yang menghancurkan dalam perang saudara Sudan telah terjadi ketika RSF merebut El-Fasher dari tangan tentara militer Sudan setelah pengepungan selama 18 bulan yang menjebak puluhan ribu warga sipil di kota Darfur tersebut.
RSF kini menguasai semua pusat kota besar di Darfur, sebuah perkembangan yang meningkatkan kemungkinan negara tersebut menghadapi pemisahan diri.
Dalam sebuah pernyataan, RSF mengatakan telah memperluas kendali atas kota El-Fasher dari apa yang mereka gambarkan sebagai cengkeraman "tentara bayaran dan milisi".
Panglima militer Sudan, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, mengonfirmasi bahwa pasukannya telah mundur dari kota El-Fasher ke lokasi yang lebih aman, yang secara efektif mengakui kekalahannya.
Pada 15 April 2023, perang saudara pecah antara RSF dan SAF setelah RSF memobilisasi pasukannya di berbagai kota di Sudan, termasuk Darfur.
SAF pada akhirnya menetapkan RSF sebagai kelompok pemberontak. Pasukan RSF kini menguasai hampir seluruh wilayah Sudan, sebagian besar di selatan dan barat.
Berbagai kekuatan asing yang dilaporkan mendukung RSF antara lain Uni Emirat Arab, Chad, dan Israel. Namun ketiga negara itu kebanyakan bungkam atau pun menyangkal.
Kelompok tentara bayaran Rusia, Wagner Group, juga dilaporkan menyokong RSF. Namun Wagner tidak berkomentar.
Apa yang Terjadi di El-Fasher?
Babak baru yang menghancurkan dalam perang saudara Sudan telah terjadi ketika RSF merebut El-Fasher dari tangan tentara militer Sudan setelah pengepungan selama 18 bulan yang menjebak puluhan ribu warga sipil di kota Darfur tersebut.
RSF kini menguasai semua pusat kota besar di Darfur, sebuah perkembangan yang meningkatkan kemungkinan negara tersebut menghadapi pemisahan diri.
Dalam sebuah pernyataan, RSF mengatakan telah memperluas kendali atas kota El-Fasher dari apa yang mereka gambarkan sebagai cengkeraman "tentara bayaran dan milisi".
Panglima militer Sudan, Jenderal Abdel Fattah al-Burhan, mengonfirmasi bahwa pasukannya telah mundur dari kota El-Fasher ke lokasi yang lebih aman, yang secara efektif mengakui kekalahannya.
Lihat Juga :