Iran Bakal Hindari Perang dengan AS Meski Retorikanya Pedas, Ini Alasan Logisnya
Jum'at, 02 Februari 2024 - 07:08 WIB
loading...
Iran dinilai akan mengindari perang dengan Amerika Serikat. Nasib rezim Ali Khamenei yang terancam tamat menjadi alasan logis. Foto/National Interest
A
A
A
TEHERAN - Iran telah mengumbar retorika pedas, termasuk sesumbar tidak takut untuk perang dengan Amerika Serikat (AS). Namun, para analis menilai Teheran akan menghindari perang dengan alasan logisnya adalah nasib rezim Ayatollah Ali Khamenei bisa terancam tamat.
Presiden AS Joe Biden tidak merahasiakan keengganannya untuk terlibat dalam konfrontasi militer langsung dengan Iran.
Dia telah menerapkan kebijakan yang mengutamakan diplomasi dengan Teheran sejak menjabat—sebuah kebijakan yang gagal mencapai salah satu tujuan utamanya: menghidupkan kembali perjanjian nuklir tahun 2015 yang sudah tidak berlaku lagi.
Namun, setelah serangan pesawat tak berawak akhir pekan lalu oleh kelompok milisi yang didukung Iran di dekat perbatasan Yordania-Suriah yang menewaskan tiga tentara AS—sebuah serangan yang Biden sendiri tuduhkan dilakukan oleh kelompok militan radikal yang didukung Iran—presiden Amerika tersebut menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mempertimbangkan menyerang Iran.
Baca Juga: Jenderal Iran: Kami Tidak Takut Perang dengan AS!
Ada dua kubu utama dalam wacana saat ini. Yang pertama, yang kritis terhadap kebijakan Biden terhadap Iran bahkan sebelum serangan baru-baru ini terjadi, menganjurkan serangan yang ditargetkan terhadap situs militer di Iran sebagai satu-satunya cara untuk memulihkan pencegahan AS.
Kubu kedua mendesak Amerika untuk menahan diri, dan menekankan risiko eskalasi yang lebih besar di wilayah yang sudah "dilalap api" sejak serangan Hamas 7 Oktober terhadap Israel—yang memicu perang besar di Gaza sekarang ini.
Para pejabat, analis dan pengamat pola pikir ini berpendapat bahwa kunci untuk mengurangi ketegangan dan menghentikan serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah adalah dengan menekan sekutunya; Israel, agar menerima gencatan senjata dengan Hamas—kelompok perlawanan Palestina yang menguasai Jalur Gaza.
“Saya tidak yakin Presiden Biden akan menyerang Iran secara langsung,” kata Saeid Golkar, profesor Ilmu Politik di Universitas Tennessee di Chattanooga dan penasihat senior di United Against Nuclear Iran.
Golkar mengatakan kepada Al Arabiya English, yang dilansir Jumat (2/2/2024), bahwa Biden lebih cenderung memerintahkan serangan terhadap sasaran-sasaran yang terkait dengan Iran di Suriah dan Irak.
“Berdasarkan reaksi awal Biden dan portofolio tim keamanan nasionalnya, saya skeptis serangan di Iran akan terjadi,” katanya.
Ali Fathollah-Nejad, direktur Center for Middle East and Global Order, sepakat bahwa serangan langsung AS ke wilayah Iran tidak mungkin dilakukan. Dia mengatakan AS dapat menargetkan situs-situs yang terkait dengan Iran di tempat lain di wilayah tersebut.
Aspek yang sering diabaikan, terutama selama periode ketegangan yang meningkat antara Teheran dan Washington, adalah keengganan Iran untuk melibatkan diri dalam perang skala penuh dengan AS, meskipun terdapat retorika yang pedas.
Presiden AS Joe Biden tidak merahasiakan keengganannya untuk terlibat dalam konfrontasi militer langsung dengan Iran.
Dia telah menerapkan kebijakan yang mengutamakan diplomasi dengan Teheran sejak menjabat—sebuah kebijakan yang gagal mencapai salah satu tujuan utamanya: menghidupkan kembali perjanjian nuklir tahun 2015 yang sudah tidak berlaku lagi.
Namun, setelah serangan pesawat tak berawak akhir pekan lalu oleh kelompok milisi yang didukung Iran di dekat perbatasan Yordania-Suriah yang menewaskan tiga tentara AS—sebuah serangan yang Biden sendiri tuduhkan dilakukan oleh kelompok militan radikal yang didukung Iran—presiden Amerika tersebut menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mempertimbangkan menyerang Iran.
Baca Juga: Jenderal Iran: Kami Tidak Takut Perang dengan AS!
Ada dua kubu utama dalam wacana saat ini. Yang pertama, yang kritis terhadap kebijakan Biden terhadap Iran bahkan sebelum serangan baru-baru ini terjadi, menganjurkan serangan yang ditargetkan terhadap situs militer di Iran sebagai satu-satunya cara untuk memulihkan pencegahan AS.
Kubu kedua mendesak Amerika untuk menahan diri, dan menekankan risiko eskalasi yang lebih besar di wilayah yang sudah "dilalap api" sejak serangan Hamas 7 Oktober terhadap Israel—yang memicu perang besar di Gaza sekarang ini.
Para pejabat, analis dan pengamat pola pikir ini berpendapat bahwa kunci untuk mengurangi ketegangan dan menghentikan serangan terhadap pasukan AS di Timur Tengah adalah dengan menekan sekutunya; Israel, agar menerima gencatan senjata dengan Hamas—kelompok perlawanan Palestina yang menguasai Jalur Gaza.
“Saya tidak yakin Presiden Biden akan menyerang Iran secara langsung,” kata Saeid Golkar, profesor Ilmu Politik di Universitas Tennessee di Chattanooga dan penasihat senior di United Against Nuclear Iran.
Golkar mengatakan kepada Al Arabiya English, yang dilansir Jumat (2/2/2024), bahwa Biden lebih cenderung memerintahkan serangan terhadap sasaran-sasaran yang terkait dengan Iran di Suriah dan Irak.
“Berdasarkan reaksi awal Biden dan portofolio tim keamanan nasionalnya, saya skeptis serangan di Iran akan terjadi,” katanya.
Ali Fathollah-Nejad, direktur Center for Middle East and Global Order, sepakat bahwa serangan langsung AS ke wilayah Iran tidak mungkin dilakukan. Dia mengatakan AS dapat menargetkan situs-situs yang terkait dengan Iran di tempat lain di wilayah tersebut.
Aspek yang sering diabaikan, terutama selama periode ketegangan yang meningkat antara Teheran dan Washington, adalah keengganan Iran untuk melibatkan diri dalam perang skala penuh dengan AS, meskipun terdapat retorika yang pedas.
Lihat Juga :