'Berbalas Pantun', Donald Trump Sebut Joe Biden Gila

Jum'at, 02 September 2022 - 21:01 WIB
loading...
Berbalas Pantun, Donald...
Berbalas pantun, Donald Trump sebut Presiden AS Joe Biden gila. Foto/Ilustrasi
A A A
WASHINGTON - Donald Trump bereaksi keras atas pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden yang menyebut ia dan pendukungnya ancaman bagi negara itu. Trump membalas dengan menyebut Biden pasti gila atau menderita demensia.

Trump mempertanyakan kesehatan Biden dalam sebuah postingan di media sosial buatannya, Truth Social, setelah Biden memberikan pidato berapi-api di Pennsylvania yang menuduh pendahulunya itu dan agenda MAGA atau Make American Great Again sebagai ekstremisme yang mengancam fondasi republik Amerika.

Selama pidato primetime-nya di Taman Sejarah Nasional Kemerdekaan di Philadelphia, Biden mengatakan bahwa sementara mayoritas Republiken tidak menganut "ideologi ekstrem," jelas bahwa partai itu didominasi, didorong, dan diintimidasi oleh Donald Trump dan Partai Republik MAGA, dan itu adalah ancaman bagi Amerika.

Sebagai tanggapan, Trump membela gerakan MAGA-nya sambil mengulangi serangan umum Partai Republik yang menunjukkan bahwa presiden berusia 79 tahun itu mungkin menderita penurunan kognitif.

Baca: Survei: 40% Lebih Orang Amerika Berpikir Perang Saudara Mungkin Terjadi

"Seseorang harus menjelaskan kepada Joe Biden, perlahan tapi penuh semangat, bahwa MAGA berarti, sekuat kata-kata, MEMBUAT AMERIKA HEBAT LAGI! Jika dia tidak ingin Membuat Amerika Hebat Lagi, yang melalui kata-kata, tindakan, dan pikiran, dia tidak, maka dia tentu tidak boleh mewakili Amerika Serikat," tulis Trump.

"Jika Anda melihat kata-kata dan makna pidato Biden yang canggung dan marah malam ini, dia mengancam Amerika, termasuk dengan kemungkinan penggunaan kekuatan militer. Dia pasti gila, atau menderita demensia tahap akhir!" sambungnya seperti dikutip dari Newsweek, Jumat (2/9/2022).

Biden, yang bersumpah untuk menyatukan negara itu sebagai presiden setelah empat tahun yang memecah belah dari pemerintahan sebelumnya, baru-baru ini meningkatkan serangannya terhadap Trump dan gerakan politiknya, termasuk merujuk pada agenda MAGA sebagai "semi-fasisme."

Di tempat lain selama pidatonya di Philadelphia, Biden juga menyerang Partai Republik MAGA atas upaya mereka untuk membatalkan hasil Pemilu 2020, serta dukungan mereka bagi mereka yang menyerbu Capitol selama penyerangan pada 6 Januari tahun lalu.

"Partai Republik MAGA tidak menghormati Konstitusi. Mereka tidak percaya pada aturan hukum. Mereka tidak mengakui kehendak rakyat," kata Biden.

Baca: Partai Republik Marah Biden Terlalu Banyak Liburan

"Mereka mempromosikan para pemimpin otoriter, dan mereka mengobarkan api kekerasan politik yang merupakan ancaman bagi hak-hak pribadi kita, untuk mengejar keadilan, terhadap supremasi hukum, bagi jiwa negara ini," sambungnya.

"Mereka melihat massa yang menyerbu Gedung Kongres Amerika Serikat pada 6 Januari - menyerang penegak hukum secara brutal - bukan sebagai pemberontak yang menikam tenggorokan demokrasi kita, tetapi mereka melihat mereka sebagai patriot," tambah Biden.

Dalam pidatonya dua bulan sebelum pemilihan paruh waktu, Biden menuduh Partai Republik yang mendukung Trump bertekad untuk membawa kemunduran bagi Amerika, dengan mencabut hak aborsi setelah Mahkamah Agung membatalkan Roe v. Wade, serta menghapus akses ke kontrasepsi dan pernikahan gay.

Biden memang menyerukan semacam persatuan di negara itu, dengan mengatakan Demokrat, independen, dan "Republik arus utama" perlu bersatu dan menjadi lebih kuat, lebih bertekad, dan lebih berkomitmen untuk menghentikan Partai Republik MAGA dari menghancurkan demokrasi Amerika.

Baca: Penggerebekan Rumah Trump Berbuntut Panjang, Masih Belum Jelas Apa yang Dicari FBI

(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Nyatakan Menang...
Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel
Trump: AS Harus Kembalikan...
Trump: AS Harus Kembalikan Uang Iran atau Kepercayaan Dunia pada Dolar Rusak
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
AS Identifikasi 8 Awak...
AS Identifikasi 8 Awak Tewas dalam Jatuhnya Bomber Nuklir B-52, Ini Daftarnya
Trump Telah Teken Nota...
Trump Telah Teken Nota Kesepahaman AS-Iran, Ini Rincian 14 Poinnya
Langka, Trump Bela Hak...
Langka, Trump Bela Hak Iran Memiliki Rudal Balistik
Trump T1 Phone Ternyata...
Trump T1 Phone Ternyata HTC U24 Pro Buatan China: Ini Bukti Teardown-nya
China Hadapi “Epidemi”...
China Hadapi “Epidemi” Baru, Lonjakan Kematian Usia Muda Picu Kekhawatiran Publik
AS Sebut Iran Bisa Hidup...
AS Sebut Iran Bisa Hidup Senang jika Penuhi Syarat-Syarat Ini, Apa Saja?
Rekomendasi
Periksa Sony Sonjaya,...
Periksa Sony Sonjaya, Kejagung Dalami Pengajuan Justice Collaborator
Kabar Duka, Mantan KSAL...
Kabar Duka, Mantan KSAL Laksamana TNI Purn Achmad Sutjipto Meninggal Dunia
Kolombia Susah Payah...
Kolombia Susah Payah Tumbangkan Uzbekistan
Berita Terkini
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Iran Nyatakan Menang...
Iran Nyatakan Menang Perang Melawan AS dan Israel
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Ada yang Hanya Rp427 Per Liter
Arab Saudi Kebut Pembangunan...
Arab Saudi Kebut Pembangunan Jeddah Tower 1.000 Meter, Gedung Tertinggi di Dunia Kalahkan Burj Khalifa
Trump: AS Harus Kembalikan...
Trump: AS Harus Kembalikan Uang Iran atau Kepercayaan Dunia pada Dolar Rusak
Analis Israel: Netanyahu...
Analis Israel: Netanyahu Pembohong yang Dipermalukan Trump dalam Kesepakatan AS-Iran
Infografis
Saat Sekutu Berhenti...
Saat Sekutu Berhenti Menuruti Donald Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved