Taliban Larang Perempuan Lakukan Perjalanan dengan Pesawat Sendirian

Minggu, 27 Maret 2022 - 13:34 WIB
loading...
Taliban Larang Perempuan...
Penguasa Taliban Afghanistan menolak mengizinkan puluhan perempuan naik ke beberapa penerbangan karena bepergian tanpa wali laki-laki. Foto/Al Araby
A A A
KABUL - Penguasa Afghanistan , Taliban , menolak mengizinkan puluhan perempuan naik ke beberapa penerbangan, termasuk beberapa di luar negeri, karena mereka bepergian tanpa wali laki-laki. Hal itu diungkapkan dua pejabat maskapai penerbangan Afghanistan.

Para pejabat, yang berbicara dengan syarat anonim karena takut akan dampak dari Taliban, mengatakan lusinan perempuan yang tiba di bandara internasional Kabul pada hari Jumat untuk naik penerbangan domestik dan internasional diberitahu bahwa mereka tidak dapat melakukannya tanpa wali laki-laki.

"Beberapa perempuan adalah warga negara ganda yang kembali ke rumah mereka di luar negeri, termasuk beberapa dari Kanada," menurut salah satu pejabat.



"Wanita ditolak naik pesawat ke Islamabad, Dubai dan Turki di Kam Air dan Ariana Airline milik negara," kata para pejabat seperti dikutip dari Al Araby, Minggu (27/3/2022).

Seorang pejabat mengatakan perintah itu datang dari pimpinan Taliban.

Pada hari Sabtu, beberapa perempuan yang bepergian sendiri diberi izin untuk naik penerbangan Ariana Airlines ke provinsi Herat barat, kata pejabat itu. Namun, pada saat izin diberikan, mereka telah ketinggalan pesawat, katanya.

Presiden bandara dan kepala polisi, baik dari gerakan Taliban dan ulama Islam, bertemu Sabtu dengan pejabat maskapai.

Baca juga: Tatanan Global Dibangun Ulang, China dan Rusia Rangkul Taliban

"Mereka mencoba menyelesaikannya," kata pejabat itu.

Masih belum jelas apakah Taliban akan mengecualikan perjalanan udara dari perintah yang dikeluarkan beberapa bulan lalu yang mengharuskan perempuan bepergian lebih dari 72 kilometer untuk ditemani oleh kerabat laki-laki.

Kebijakan terbaru terhadap hak-hak perempuan di Afghanistan yang dikelola Taliban ini terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintah Taliban melanggar janjinya untuk mengizinkan anak perempuan kembali ke sekolah setelah kelas enam.

Langkah itu membuat marah komunitas internasional, yang enggan mengakui pemerintah yang dijalankan Taliban sejak kelompok itu berkuasa Agustus lalu, khawatir mereka akan kembali ke aturan yang keras mereka terapkan pada periode 1990-an.

Baca juga: AS Serukan Taliban Buka Kembali Sekolah Perempuan di Afghanistan

Penolakan Taliban untuk membuka pendidikan bagi semua anak Afghanistan juga membuat marah sebagian besar penduduk Afghanistan. Pada hari Sabtu, puluhan gadis berdemonstrasi di Ibu Kota Afghanistan menuntut hak untuk pergi ke sekolah.

Setelah larangan Taliban pada pendidikan anak perempuan di luar kelas enam, aktivis hak-hak perempuan Mahbouba Seraj pergi ke TV TOLO Afghanistan untuk bertanya: "Bagaimana kami sebagai bangsa mempercayai Anda dengan kata-kata Anda lagi? Apa yang harus kami lakukan untuk menyenangkan Anda? Haruskah kita semua mati?"

Sebuah badan amal Afghanistan bernama PenPath, yang menjalankan lusinan sekolah "rahasia" dengan ribuan sukarelawan, berencana untuk menggelar protes di seluruh negeri untuk menuntut Taliban membatalkan perintahnya, kata Matiullah Wesa, pendiri PenPath.

Pada hari Sabtu di Forum Doha 2022 di Qatar, Roya Mahboob, seorang pengusaha Afghanistan yang mendirikan tim robotika khusus perempuan di Afghanistan, diberikan Penghargaan Forum untuk pekerjaan dan komitmennya terhadap pendidikan anak perempuan.

Baca juga: Taliban Ingkar Janji, Tak Semua Kelas untuk Anak Perempuan Dibuka

Dalam sebuah wawancara setelah menerima penghargaan, Mahboob meminta banyak pemimpin global dan pembuat kebijakan yang menghadiri forum tersebut untuk menekan Taliban agar membuka sekolah bagi semua anak Afghanistan.

Tim robotika melarikan diri dari Afghanistan ketika Taliban kembali berkuasa tetapi Mahboob mengatakan dia masih berharap pusat sains dan teknologi yang dia harapkan dibangun di Afghanistan untuk anak perempuan masih bisa dibangun.

"Saya berharap komunitas internasional, komunitas Muslim (tidak) melupakan Afghanistan dan tidak (akan) meninggalkan kami," harapnya.

"Afghanistan adalah negara miskin. Tidak memiliki sumber daya yang cukup. Dan jika Anda mengambil (menghilangkan) pengetahuan kami, saya tidak tahu apa yang akan terjadi," pungkasnya.

Baca juga: Resmi, Taliban Larang Bendera Nasional Afghanistan
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Taliban Larang Warga...
Taliban Larang Warga Afghanistan Gunakan Ponsel Pintar, Jika Nekat Bakal Dihancurkan
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Udara di Afghanistan, 13 Orang Tewas
Hukum Baru Taliban:...
Hukum Baru Taliban: Diamnya Gadis Perawan Berarti Persetujuan untuk Menikah
Afghanistan: Pakistan...
Afghanistan: Pakistan Bombardir Rumah Sakit Kabul, 400 Orang Tewas!
Taliban Afghanistan...
Taliban Afghanistan Terbuka untuk Dialog setelah Pakistan Bom Kota-kota Besar
Dunia Serukan Penghentian...
Dunia Serukan Penghentian Segera Perang Afghanistan dan Pakistan
Perbandingan Kekuatan...
Perbandingan Kekuatan Militer Pakistan vs Afghanistan: Bak David vs Goliath
Israel Bom Lebanon,...
Israel Bom Lebanon, Iran Murka Bakal Kembali Tutup Selat Hormuz
Survei: Semakin Banyak...
Survei: Semakin Banyak Warga Israel Tak Suka kepada Netanyahu gegara Perang Iran
Rekomendasi
Kemenko PM Gelar Global...
Kemenko PM Gelar Global Talent Day, Buka Akses Kerja ke Jepang-Jerman
PT MNC Vision Networks...
PT MNC Vision Networks Tbk Berpartisipasi dalam Jalan Sehat Hari Donor Darah Sedunia 2026 di Monas
SPI Jadi yang Pertama...
SPI Jadi yang Pertama Beri Naskah Analisis RUU Advokat ke Pemerintah
Berita Terkini
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Infografis
Tabrak Asteroid dengan...
Tabrak Asteroid dengan Pesawat Ruang Angkasa Efektif Selamatkan Bumi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved