Keluarga Tentara AS yang Tewas di Kabul Marahi Biden: 'Semoga Anda Terbakar di Neraka!'

Rabu, 01 September 2021 - 14:35 WIB
loading...
Keluarga Tentara AS...
Presiden Joe Biden sibuk melihat arlojinya saat upcara penerimaan jasad 13 tentara AS korban serangan bom bunuh diri di bandara Kabul. Foto/YouTube/CNN
A A A
WASHINGTON - Keluarga dari 13 tentara Amerika Serikat (AS) yang tewas akibat serangan bom bunuh diri milisi ISIS-K di bandara Kabul, Afghanistan, meluapkan kemarahan mereka kepada Presiden Joe Biden . Ada yang berharap sang presiden terbakar di neraka.

Mereka marah karena dalam pertemuan duka, di mana Presiden Biden lebih banyak berbicara tentang kematian putranya; Beau Biden, bukan tentang 13 tentara Amerika yang terbunuh di Kabul.

Baca juga: Biden Lihatin Arlojinya saat Terima 13 Jasad Tentara AS, Picu Kemarahan Baru

Pada hari Minggu, Biden berjalan di sekitar ruangan yang tenang di Pangkalan Angkatan Udara Dover. Ruang itu dipenuhi sofa dan kursi, di mana pejabat tinggi dan keluarga dari 13 tentara AS yang tewas berkerumun bersama. Biden datang untuk berbicara dengan mereka secara pribadi.

Mark Schmitz, ayah dari Jared Schmitz—satu dari 13 tentara Amerika yang terbunuh—telah memberi tahu seorang perwira militer malam sebelumnya bahwa dia tidak terlalu tertarik untuk berbicara dengan seorang presiden yang tidak dia pilih, yang eksekusi penarikan pasukan AS dari Afghanistan memalukan. Dia menyalahkan Biden atas kematian putranya yang berusia 20 tahun itu.

Tapi pada Sabtu malam Schmitz berubah pikiran. Jadi, pada Minggu pagi yang suram itu, dia dan mantan istrinya didekati oleh Biden setelah dia berbicara dengan semua keluarga lainnya. Tetapi, Schmitz memelototi presiden yang menghabiskan lebih banyak waktu melihat mantan istrinya, dan berulang kali menyebut putranya sendiri, Beau Biden, yang meninggal enam tahun lalu.

Schmitz tidak ingin mendengar tentang Beau Biden, dia ingin berbicara tentang Jared. Akhirnya, orangtua tentara itu mengambil foto untuk ditunjukkan kepada Biden.

"Saya berkata, 'Jangan pernah melupakan nama ini. Jangan pernah Anda lupakan wajah ini. Jangan pernah lupa nama 12 lainnya', ” kata Schmitz, mengingat kata-kata yang dia lontarkan pada Biden.

"'Dan luangkan waktu untuk mempelajari cerita mereka'," lanjut ucapan Schmitz untuk Biden.

Biden, kenang Schmitz, tampaknya tidak menyukai itu. Biden terlihat merinding, menawarkan jawaban yang blakblakan: “Saya tahu cerita mereka.”

Itu adalah momen luar biasa dari dua orang yang disatukan oleh sejarah. Salah satunya adalah seorang presiden Amerika Serikat yang bangga bisa berhubungan dengan siapa saja di saat-saat duka, tetapi sekarang berhadapan dengan kesedihan yang dia sendiri berperan dalam menciptakannya. Yang lainnya adalah ayah tentara Korps Marinir yang bangga asal Missouri, yang dibangunkan beberapa malam sebelumnya pada pukul 02.40 pagi oleh seorang perwira militer di depan pintunya dengan berita yang hampir membuatnya pingsan.

Dalam apa yang mungkin menjadi tanda perpecahan yang mendalam di negara itu, Schmitz bukan satu-satunya anggota keluarga yang bergulat lama dan keras dengan apakah dia bahkan ingin bertemu dengan Biden atau tidak. Ada juga yang tidak ragu-ragu memberikan kritik terhadap panglima tertinggi Amerika itu.

Keluarga Rylee McCollum—tentara Korps Marinir lainnya yang tewas—juga memiliki emosi yang campur aduk ketika tiba saatnya untuk memutuskan apakah akan berbicara dengan presiden Biden.

Saudari dan ayah McCollum bergabung dengan jandanya, Jiennah McCollum, dalam perjalanan ke Dover—tetapi ketika tiba saatnya untuk bertemu Biden, hanya Jiennah yang masuk.

Setelah itu, salah satu saudari McCollum, Roice McCollum, mengatakan bahwa Jiennah merasa kata-kata presiden itu tertulis dan dangkal. Percakapan hanya berlangsung beberapa menit. "[Percakapan] dalam pengabaian total atas hilangnya Marinir kita—saudara, putra, suami, dan ayah kita," katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
5 Negara yang Mampu...
5 Negara yang Mampu Membuat Jet Tempur Sendiri, Ada yang Produksinya Mencapai Ratusan Unit per Tahun
IRGC Serang 3 Pangkalan...
IRGC Serang 3 Pangkalan Militer Zionis, Israel Gempur 5 Kota Iran
AS Hendak Beli Kepulauan...
AS Hendak Beli Kepulauan Chagos, Ini Tujuannya
Iran Luncurkan Gelombang...
Iran Luncurkan Gelombang Kedua Serangan Rudal, Jenderal Tertinggi Israel Sembunyi di Bunker
AS Serukan Korut Denuklirisasi,...
AS Serukan Korut Denuklirisasi, Adik Kim Jong-un: Mimpi Usang!
Trump Marah dan Ngambek...
Trump Marah dan Ngambek pada Host NBC: ‘Anda Curang atau Bodoh’
24 Negara Pembeli Minyak...
24 Negara Pembeli Minyak Terbesar AS, Cek Posisi Indonesia
Putin: Rusia Siap Berkompromi...
Putin: Rusia Siap Berkompromi untuk Capai Perdamaian dengan Ukraina
Gempa M7,8 Filipina...
Gempa M7,8 Filipina Lumpuhkan Bandara General Santos, 17 Penerbangan Dibatalkan!
Rekomendasi
Nonton Gratis hingga...
Nonton Gratis hingga VIP, Ini Beragam Cara Menikmati Microdrama di V+Short
Dari Iran ke Indonesia,...
Dari Iran ke Indonesia, Pesepeda Arezoo Tampil Memukau Lewat Sentuhan Ade Fitri Kirana
Bank Sentral China Borong...
Bank Sentral China Borong Emas 19 Bulan Berturut-turut, Ada Apa?
Berita Terkini
4 Fakta Pembunuhan WNI...
4 Fakta Pembunuhan WNI di Hokkaido, Tersangka Sudah Berniat Habisi Korban
Hacker Pro-Palestina...
Hacker Pro-Palestina Janji Lancarkan Serangan Siber Paling Dahsyat ke Israel
Tak Ingin Kerusakan...
Tak Ingin Kerusakan Akibat Serangan Iran Diketahui Dunia, Israel Berlakukan Sensor Militer
Eropa Memanas! Jet tempur...
Eropa Memanas! Jet tempur Prancis Tembak Jatuh Drone Rusia di Latvia
Gempa Guncang Filipina,...
Gempa Guncang Filipina, 15 Orang Tewas
Hubungan China dan Korut...
Hubungan China dan Korut Masuki Tahap Awal yang Baru
Infografis
Profil Humaira Asghar...
Profil Humaira Asghar Ali, Artis Pakistan yang Tewas di Apartemen
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved