Kekerasan Meningkat, YouTube Hapus Channel Junta Myanmar
Jum'at, 05 Maret 2021 - 22:49 WIB
loading...
A
A
A
"Kami secara agresif menghapus konten di Myanmar yang melanggar prinsip kami, dan terus memantau situasinya," sambung pernyataan itu.
Baca juga: Terancam Sanksi, Jenderal Myanmar: Kami Sudah Terbiasa
Jaringan media sosial telah dipaksa untuk meningkatkan respons mereka terhadap situasi politik di Myanmar setelah militer mengambil alih kekuasaan.
Beberapa minggu lalu, Facebook membatasi akun militer karena menyebarkan "informasi yang salah", dengan mengatakan mereka memperlakukan situasi di Myanmar sebagai keadaan darurat.
Facebook juga "menangguhkan tanpa batas" lembaga pemerintah Myanmar menggunakan saluran khusus yang disediakan bagi pejabat untuk mengirimkan permintaan penghapusan konten.
"Sejak peristiwa kudeta 1 Februari, termasuk kekerasan mematikan, telah memicu perlunya larangan ini," tulis Rafael Frankel, direktur kebijakan Facebook untuk ekonomi berkembang di Asia Pasifik, dalam sebuah postingan di blog pada saat itu.
Baca juga: Lewat TikTok, Tentara Ancam Tembaki Demonstran Myanmar
Baca juga: Terancam Sanksi, Jenderal Myanmar: Kami Sudah Terbiasa
Jaringan media sosial telah dipaksa untuk meningkatkan respons mereka terhadap situasi politik di Myanmar setelah militer mengambil alih kekuasaan.
Beberapa minggu lalu, Facebook membatasi akun militer karena menyebarkan "informasi yang salah", dengan mengatakan mereka memperlakukan situasi di Myanmar sebagai keadaan darurat.
Facebook juga "menangguhkan tanpa batas" lembaga pemerintah Myanmar menggunakan saluran khusus yang disediakan bagi pejabat untuk mengirimkan permintaan penghapusan konten.
"Sejak peristiwa kudeta 1 Februari, termasuk kekerasan mematikan, telah memicu perlunya larangan ini," tulis Rafael Frankel, direktur kebijakan Facebook untuk ekonomi berkembang di Asia Pasifik, dalam sebuah postingan di blog pada saat itu.
Baca juga: Lewat TikTok, Tentara Ancam Tembaki Demonstran Myanmar
Lihat Juga :