Kantor HAM PBB: Trump Harus Hentikan Bahasa yang 'Sangat Berbahaya'

Jum'at, 08 Januari 2021 - 21:45 WIB
loading...
Kantor HAM PBB: Trump...
Presiden AS Donald Trump. Foto/REUTERS
A A A
JENEWA - Kantor Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump harus berhenti menggunakan bahasa "sangat berbahaya" yang dia dan para pemimpin politik lainnya gunakan tentang hasil pemilu AS.

Bahasa sangat berbahaya itu disebut memicu penyerbuan gedung US Capitol di Washington pekan ini. Penyerbuan berdarah itu pun dikecam berbagai negara.

“Kita sangat terganggu oleh hasutan untuk melakukan kekerasan dan kebencian oleh para pemimpin politik dan kami menyerukan kepada Presiden Amerika Serikat dan para pemimpin politik lainnya untuk menyangkal, secara terbuka menyangkal, narasi palsu dan berbahaya yang sedang disebarkan,” ungkap juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB Ravina Shamdasani menanggapi pertanyaan tentang tanggung jawab pribadi Trump pada kekerasan berdarah di US Capitol.

“Bahasa yang menghasut seperti ini bisa sangat berbahaya,” papar Shamdasani dalam pengarahan online. (Baca Juga: Kasihan Trump, Marah dan Mengisolir Diri di Gedung Putih)

Komentarnya mengikuti seruan Kepala HAM PBB Michelle Bachelet pada Kamis malam untuk penyelidikan menyeluruh atas peristiwa di US Capitol, Washington, yang menewaskan lima orang. (Baca Juga: Menteri Transportasi dan Pendidikan Mundur, Staf Gedung Putih Eksodus)

Shamdasani juga mengungkapkan keprihatinannya tentang tampilan simbol "supremasi kulit putih" di luar US Capitol seperti bendera Konfederasi, simbol anti-Semit, dan jerat. (Baca Juga: Setelah US Capitol Diserbu, Kini Para Politisi Israel yang Ketakutan)

“Kami mengutuk tampilan simbol-simbol rasis yang terbuka ini,” tegas Shamdasani.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Piala Dunia 2026: Saat...
Piala Dunia 2026: Saat Sepak Bola Jadi Mesin Uang FIFA
Balas Serangan AS, Iran...
Balas Serangan AS, Iran Gempur 21 Target Militer hingga Pangkalan di Yordania
Tegas! Erdogan: Israel...
Tegas! Erdogan: Israel Ancaman bagi Turki dan Dunia
Rekomendasi
UBAYA Tantang SCU di...
UBAYA Tantang SCU di Final Putri, Perbanas Hadapi UKSW pada Puncak Campus League 2026
PHEV Indonesia 2026:...
PHEV Indonesia 2026: Tahun Ketika BYD Memangkas Harga, Pasar Berlipat Ganda
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Berita Terkini
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
Infografis
Chronic Venous Insufficiency,...
Chronic Venous Insufficiency, Penyakit yang Diderita Donald Trump
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved