Mobil Hantam Bom Rakitan, Dua Tentara Prancis Tewas
Minggu, 03 Januari 2021 - 09:27 WIB
loading...
A
A
A
Menurut tentara, kematian terbaru ini membuat jumlah tentara Prancis tewas di Mali menjadi 50 sejak negara itu pertama kali melakukan intervensi militer pada Januari 2013 untuk membantu mengusir para ekstrimis Islam yang telah menguasai bagian-bagian negara Afrika barat itu.
Pasukan Barkhane Prancis berjumlah 5.100 tentara yang tersebar di seluruh wilayah Sahel yang gersang dan telah memerangi kelompok-kelompok ekstrimis bersama tentara dari Mauritania, Chad, Mali, Burkina Faso dan Niger, yang bersama-sama membentuk kelompok G5 Sahel.
Kelompok yang terkait dengan al-Qaeda untuk Mendukung Islam dan Muslim (GSIM) telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan sebelumnya yang menewaskan tiga tentara Prancis di pusat negara bagian Sahel yang miskin itu. Kematian tersebut juga karena kendaraan tentara menghantam alat peledak.
Kelompok itu, aliansi utama teroris di Sahel, mengutip serangkaian alasan atas serangan itu termasuk berlanjutnya kehadiran militer Prancis di wilayah tersebut, kartun Nabi Muhammad SAW yang diterbitkan oleh sebuah surat kabar Prancis dan pembelaan Macron atas nama kebebasan berekspresi.(Baca juga: AS-Iran 'Kompak' Hadang Rencana Prancis untuk Lebanon )
Pasukan Barkhane Prancis berjumlah 5.100 tentara yang tersebar di seluruh wilayah Sahel yang gersang dan telah memerangi kelompok-kelompok ekstrimis bersama tentara dari Mauritania, Chad, Mali, Burkina Faso dan Niger, yang bersama-sama membentuk kelompok G5 Sahel.
Kelompok yang terkait dengan al-Qaeda untuk Mendukung Islam dan Muslim (GSIM) telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan sebelumnya yang menewaskan tiga tentara Prancis di pusat negara bagian Sahel yang miskin itu. Kematian tersebut juga karena kendaraan tentara menghantam alat peledak.
Kelompok itu, aliansi utama teroris di Sahel, mengutip serangkaian alasan atas serangan itu termasuk berlanjutnya kehadiran militer Prancis di wilayah tersebut, kartun Nabi Muhammad SAW yang diterbitkan oleh sebuah surat kabar Prancis dan pembelaan Macron atas nama kebebasan berekspresi.(Baca juga: AS-Iran 'Kompak' Hadang Rencana Prancis untuk Lebanon )
(ber)
Lihat Juga :