Kritikus Kremlin Navalny Posting Foto di Ranjang Rumah Sakit

Selasa, 15 September 2020 - 20:21 WIB
loading...
Kritikus Kremlin Navalny...
Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny memposting foto dirinya di ranjang rumah sakit di Berlin, Jerman. Foto/Busseltonmail
A A A
BERLIN - Pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny memposting foto dirinya di ranjang rumah sakit di Berlin, Jerman . Ini adalah foto pertama Navalny setelah berminggu-minggu menjalani perawatan setelah jatuh sakit parah akibat diracun.

Navalny berfoto bersama keluarganya dalam foto yang diposting di akun Instagram-nya pada hari Selasa (15/9/2020).

Dalam pesan langsung pertamanya setelah dirawat di rumah sakit, aktivis antikorupsi itu mengatakan dia sekarang dapat bernapas tanpa bantuan alat medis.

"Hai, ini Navalny," tulisnya di caption foto.

"Aku merindukan kalian. Aku masih sulit melakukan apa-apa, tapi kemarin aku bisa bernapas sendiri sepanjang hari. Hanya diriku sendiri. Aku tidak menggunakan bantuan dari luar, bahkan katup paling sederhana di tenggorokanku," sambungnya.

"Aku sangat menyukainya. Proses yang luar biasa dan diremehkan oleh banyak orang. Direkomendasikan," tukasnya.

Menurut sekretaris persnya, Kira Yarmysh, kritikus Kremlin itu berniat untuk kembali ke negara asalnya setelah pulih.

"Tidak ada pilihan lain yang pernah dipertimbangkan," kata Yarmysh seperti dikutip dari CNN.

Sebelumnya pihak rumah sakit mengatakan Navalny telah bisa meninggalkan tempat tidurnya untuk waktu yang singkat.

Navalny pertama kali jatuh sakit dalam penerbangan ke Moskow dari kota Tomsk di Siberia pada 20 Agustus. Ia dirawat di rumah sakit di kota Omsk setelah melakukan pendaratan darurat.

Dia kemudian diterbangkan ke Rumah Sakit Charite Berlin dua hari kemudian dalam sebuah evakuasi medis dan telah tinggal di Jerman selama berminggu-minggu sementara ventilasi mekanis dihentikan.

Pemerintah Jerman mengatakan Navalny diracuni dengan racun saraf kimia dari jenis Novichok yang dikembangkan pada era Soviet. Pertanyaan tetap seputar keterlibatan Rusia dalam insiden tersebut.

Serangan terhadap kritikus Kremlin telah mendapat kecaman internasional yang meluas.

Pemerintah Jerman menemukan bahwa dia telah diracuni dengan racun saraf Novichok setelah tes, kesimpulan yang didukung oleh dua laboratorium lain di Prancis dan Swedia.(Baca juga: Jerman: Laboratorium di Prancis dan Swedia Turut Konfirmasi Navalny Diracun Novichok )

Novichok juga digunakan dalam sebuah serangan pada Maret 2018 terhadap mantan mata-mata Rusia Sergei Skripal di kota Salisbury, Inggris, dan beberapa pembangkang Rusia telah diracuni di masa lalu.

Berlin telah meminta Moskow untuk menjelaskan bagaimana Navalny diracuni, tetapi Kremlin tetap membantah.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut tuduhan keterlibatan Kremlin dalam serangan itu tidak berdasar dan tidak pantas. Hal itu diungkapkannya saat berbicara dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

"(Kedua belah pihak) telah secara ekstensif membahas situasi di sekitar 'kasus Navalny," kata Kremlin tentang pembicaraan via telepon pada hari Senin itu.

"Vladimir Putin menekankan sifat tidak tepat dari tuduhan tidak berdasar terhadap pihak Rusia dalam konteks ini," tegas Kremlin.(Baca juga: Rusia Buru Saksi Serangan Racun Navalny, Siap Kirim Penyidik ke Jerman )

Sementara pihak Prancis mengatakan Macron telah menekankan kepada Putin bahwa semua penjelasan, tanpa penundaan, tentang keadaan dan tanggung jawab percobaan pembunuhan ini, harus dijelaskan.
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
1.300 Orang Tewas Akibat...
1.300 Orang Tewas Akibat Gelombang Panas di Eropa
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Burkina Faso Putuskan...
Burkina Faso Putuskan Hubungan Diplomatik dengan Prancis
Ngamuk! Iran Klaim Hancurkan...
Ngamuk! Iran Klaim Hancurkan 8 Lokasi Militer AS di Kuwait dan Bahrain
Rekomendasi
Lippo Hibahkan Lahan...
Lippo Hibahkan Lahan untuk 141 Ribu Rumah di Meikarta, Percepat Program 3 Juta Rumah
Mengemudikan Mobil Manual...
Mengemudikan Mobil Manual Lebih Menyehatkan Otak Dibandingkan Otomatis
Gaya Hidup Sehat, Konsumen...
Gaya Hidup Sehat, Konsumen Perkotaan Kian Selektif Pilih Pangan Harian
Berita Terkini
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved