Saharjo, Penyelamat Hutan Indonesia yang Tak Gentar dengan Ancaman Pembunuhan

loading...
Saharjo, Penyelamat Hutan Indonesia yang Tak Gentar dengan Ancaman Pembunuhan
Profesor Bambang Hero Saharjo, saksi ahli dari IPB University yang jadi andalan pemerintah Indonesia dalam menghadapi para mafia perusak hutan Indonesia. Foto Courtesy/Profesor Bambang Hero Saharjo
A+ A-
JAKARTA - Profesor Bambang Hero Saharjo baru saja hadir di pengadilan untuk bersaksi sebagai saksi ahli dalam kasus kejahatan lingkungan ketika menerima panggilan telepon.

Penelepon tak dikenal itu mencoba mengintimidasinya dan Profesor Saharjo segera mengakhiri panggilan. Dia kemudian mematikan teleponnya.

Ini hanyalah satu dari sekian banyak kejadian di mana ilmuwan Indonesia berusia 55 tahun itu mendapat intimidasi bahkan ancaman pembunuhan karena bersaksi dalam kasus lingkungan, terutama yang terkait dengan kebakaran hutan dan lahan, perambahan hutan, dan pembalakan liar.

“Karena dalam kasus lingkungan, kuncinya ada pada saksi ahli,” katanya kepada Channel News Asia, Sabtu (12/9/2020). (Baca: Kebakaran Hutan Indonesia, Unicef: 10 Juta Anak dalam Bahaya)

Indonesia tidak asing dengan kebakaran hutan dan lahan yang disalahkan oleh pihak berwenang sebagai pelaku yang sengaja membakar untuk membuka lahan. Seringkali, kebakaran ini diperburuk oleh cuaca kering.



Kebakaran besar yang terjadi hampir setiap tahun telah menyebabkan kematian dan kerugian ekonomi, sekaligus menghambat upaya untuk memerangi perubahan iklim.

Elemen kunci untuk menghentikan kebakaran adalah penegakan hukum yang tegas, tetapi karena tidak mudah untuk membuktikan siapa pelakunya, seorang saksi ahli memainkan peran penting ketika seorang terdakwa diadili di pengadilan.

Sebagai dosen perlindungan hutan di IPB University, sebuah perguruan tinggi pertanian di Bogor, Profesor Saharjo berpegang teguh pada keyakinannya bahwa profesinya menuntut dirinya untuk mengajar dan melakukan penelitian serta untuk melayani masyarakat.

Hal terakhir inilah yang membuatnya menjadi saksi ahli dengan menggunakan bukti-bukti ilmiah dalam sekitar 600 kasus pengadilan, tetapi pekerjaan itu bukan tanpa konsekuensi.

Dia terkadang menerima pesan dari orang secara acak dan ada orang asing yang mencarinya di kampusnya. Bahkan, keluarganya harus mengungsi karena ada yang mengancam keselamatan mereka.



Dia menolak menjelaskan lebih detail tentang ancaman yang dia hadapi.

Pada 2018, sebuah perusahaan sawit bahkan mencoba menggugatnya setelah dinyatakan bersalah menyebabkan kebakaran.

“Mereka menggugat saya sebesar Rp510 miliar (USD35 juta) dan meminta saya untuk mencabut semua kesaksian saya dengan harapan ketika itu dicabut, tidak ada lagi tuntutan terhadap mereka," ujarnya.

“Namun akhirnya pada sidang kedua, korporasi mencabut gugatan tersebut,” lanjut dia.

Terlepas dari kendala tersebut, Profesor Saharjo terus melanjutkan misinya dan terbang ke berbagai wilayah di Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi untuk bersaksi selama 20 tahun terakhir.

“Ilmu saya terapkan untuk kepentingan umum. Saya turun ke lapangan, melakukan pelatihan dan bersaksi sebagai saksi ahli dalam kasus (persidangan) terkait kerusakan lingkungan," katanya.

Setiap hari, dia mengamati citra dari dasbor khusus di Regional Fire Management Resource Center–South East Asia di IPB University.

Citra itu diambil menggunakan tiga satelit berbeda dan menunjukkan gambar dari National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan European Space Agency (ESA).
halaman ke-1 dari 3
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top