Sepuluh Tentara Mali Tewas Setelah Disergap Militan

loading...
Sepuluh Tentara Mali Tewas Setelah Disergap Militan
Foto/Ilustrasi
A+ A-
BAMAKO - Sedikitnya 10 tentara Mali tewas dalam penyergapan di daerah tengah dekat perbatasan Mauritania di mana kelompok-kelompok militan bersenjata merajalela, kata sumber keamanan dan lokal. Ini adalah ketiga kalinya pasukan keamanan Mali menderita kerugian besar sejak militer mengambil alih kekuasaan melalui kudeta pada 18 Agustus lalu.

Menurut laporan kementerian keamanan dalam negeri Mali setidaknya 10 tentara tewas, termasuk seorang perwira senior, dalam serangan di Guire dan empat kendaraan dibakar.

Seorang pejabat terpilih dari wilayah Guire mengkonfirmasi jumlah korban tersebut.

"Di malam hari, tembakan membuat kami tidak bisa tidur, tampak seperti bom, rumah kami bergetar," kata pejabat itu seperti dilansir dari AFP, Sabtu (5/9/2020).

Seorang administrator lokal yang berbicara tanpa menyebut nama mengatakan pria dengan sepeda motor telah berada di daerah itu sejak Senin.



Sebelumnya empat tentara Mali tewas dan 12 lainnya cedera pada 27 Agustus dalam serangan jihadis di dekat pusat kota Mopti, sebelum tentara membunuh 20 pasukan musuh.(Baca juga: UE Tangguhkan Misi Pelatihan di Mali Pasca Kudeta Militer)

Pihak tentara Mali mengatakan juga mengalami kerugian besar pada peralatan.

Empat tentara tewas lima hari sebelumnya ketika kendaraan mereka terkena bom.

Insiden itu juga terjadi di Mali tengah, wilayah yang bergejolak dan beragam etnis yang telah terpengaruh oleh pemberontakan.

Negara Afrika Barat yang bermasalah itu terjerumus ke dalam krisis lebih lanjut ketika junta militer menggulingkan presiden Ibrahim Boubacar Keita. Peristiwa ini mengejutkan para tetangga Mali, yang khawatir negara rapuh yang telah memerangi militan dan kemerosotan ekonomi dapat meluncur ke dalam kekacauan.



Kudeta keempat dalam 60 tahun Mali sebagai negara merdeka terjadi karena situasi semakin tidak terkendali.(Baca juga: Militer Mali Berjanji Gelar Pemilu Pasca Lakukan Kudeta)

Tentara yang tidak memiliki perlengkapan memiliki tugas yang sangat besar untuk mengamankan wilayah yang berukuran dua setengah kali luas Prancis dari berbagai kelompok yang bersekutu dengan al-Qaeda atau ISIS dan berbagai kelompok milisi, beberapa berperang untuk pemerintah dan lainnya menentang.

Rotasi pasukan tidak tetap dan tentara dapat tetap berada di medan yang tidak bersahabat di barak yang diduga akan diserang hingga sembilan bulan berturut-turut.

"Keadaan angkatan bersenjata sangat dahsyat. Dapatkah Anda bayangkan menteri pertahanan ketika mengunjungi lapangan pada akhir 2019 mengetahui bahwa tentara tidak memiliki air di kamp?" kata mantan penasehat keamanan Kissima Gakou.

Semakin jelas bahwa tentara Mali tidak mampu mengusir para militan tanpa dukungan sekutu asing seperti Prancis, yang telah mengerahkan lebih dari 5.000 tentara di Afrika Barat.

Militer juga telah dirusak oleh tuduhan berulang kali membunuh dan menjarah warga sipil dengan kedok operasi anti-teroris.

Korupsi adalah masalah besar lainnya. Prajurit yunior menuduh petugas mencuri uang seperti yang dikatakan seseorang.

Pada tahun 2014, sebuah laporan tentang peralatan tentara menemukan kaus kaki dijual dengan harga 35 euro sepasang ketika gaji rata-rata seorang tentara adalah 2 euro sehari.
(ber)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top