Bagaimana Malaysia Airlines Bangkit dari Tragedi MH370 dan MH17?
Kamis, 14 Maret 2024 - 13:59 WIB
loading...
Malaysia Airlines bangkit setelah terpukul oleh tragedi hilangnya penerbangan MH370 dan ditembak jatuhnya penerbangan MH17. Foto/REUTERS
A
A
A
KUALA LUMPUR - Sepuluh tahun yang lalu, Malaysia Airlines terpukul oleh dua tragedi besar. Yakni lenyapnya penerbangan MH370 secara misterius dan dirudal jatuhnya penerbangan MH17 di langit Ukraina timur.
Penerbangan MH370 dari Kuala Lumpur ke Beijing lenyap misterius tanpa jejak di Samudra Hindia pada 8 Maret 2014 dengan 239 orang di dalamnya. Meskipun jutaan dolar telah dihabiskan untuk pencarian terbesar dalam sejarah penerbangan, pesawat tersebut masih belum ditemukan.
Maskapai ini masih belum pulih dari tragedi itu ketika pada bulan Juli tahun yang sama, penerbangan MH17 ditembak jatuh di wilayah udara Ukraina timur ketika perang antara pasukan pemerintah dan separatis pro-Rusia berkecamuk.
Seluruh 283 penumpang dan 15 awak pesawat MH17 tewas.
Ada 160 pesawat terbang di atas zona perang hari itu, tetapi MH17 yang tertembak.
Baca Juga: Ibu Penumpang MH370: Anak Saya Masih dalam Penerbangan, Saya Menolak Kompensasi
Sebuah maskapai penerbangan kehilangan dua jet penumpang dalam lima bulan merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga hari ini.
Banyak yang melihatnya sebagai sebuah kutukan, bagi sebuah maskapai penerbangan yang telah beroperasi selama 70 tahun dan sebagian besar tidak terkena dampak apa pun.
Malaysia Airlines telah lama mempunyai catatan keselamatan yang sangat baik dan bahkan memenangkan penghargaan atas pelayanannya. Ia memiliki armada besar yang terbang ke seluruh dunia dari pangkalannya di Kuala Lumpur.
Namun setelah tragedi pada tahun 2014, penumpang menjadi gelisah.
Pelanggan beralih ke maskapai penerbangan lain dan laporan media menunjukkan penerbangan yang hampir kosong pada rute yang lebih panjang.
Namun tahun lalu, kepala eksekutifnya mengatakan perusahaannya berada di jalur yang tepat untuk meraih laba bersih tahunan pertamanya dalam satu dekade.
Maskapai ini tidak menanggapi pertanyaan BBC namun para analis mengatakan serangkaian pemotongan rute membantu menopang keuangannya, sementara melakukan re-branding dengan penekanan pada keselamatan telah memenangkan kembali pelanggan.
“Sekarang perusahaan ini lebih ramping dan fokus—meskipun ambisinya agak berkurang,” kata pengamat industri penerbangan Greg Waldron, yang dilansir BBC, Kamis (14/3/2024).
Saat ini, Malaysia Airlines terus melintasi angkasa, mengangkut jutaan penumpang di seluruh dunia setiap tahunnya. Jadi bagaimana kelanjutannya?
Segera setelah tragedi kedua, pemerintah Malaysia langsung mengambil tindakan. Maskapai ini adalah maskapai penerbangan nasional dengan lebih dari 20.000 karyawan dan nilai pasar sahamnya anjlok.
Dana Kekayaan Negara (Sovereign Wealth Fund)—Khazanah Nasional—turun tangan. Pada saat itu, mereka sudah memiliki 69% saham perusahaan tersebut.
Sebulan setelah tragedi MH17, maskapai tersebut membeli pemegang saham maskapai lainnya, menghapus perusahaan tersebut dari bursa, mendirikan perusahaan baru dan menyatakan perusahaan lama bangkrut.
Malaysia Airlines dinasionalisasi sepenuhnya—langkah penting pertama untuk menyelamatkan perusahaan.
Penerbangan MH370 dari Kuala Lumpur ke Beijing lenyap misterius tanpa jejak di Samudra Hindia pada 8 Maret 2014 dengan 239 orang di dalamnya. Meskipun jutaan dolar telah dihabiskan untuk pencarian terbesar dalam sejarah penerbangan, pesawat tersebut masih belum ditemukan.
Maskapai ini masih belum pulih dari tragedi itu ketika pada bulan Juli tahun yang sama, penerbangan MH17 ditembak jatuh di wilayah udara Ukraina timur ketika perang antara pasukan pemerintah dan separatis pro-Rusia berkecamuk.
Seluruh 283 penumpang dan 15 awak pesawat MH17 tewas.
Ada 160 pesawat terbang di atas zona perang hari itu, tetapi MH17 yang tertembak.
Baca Juga: Ibu Penumpang MH370: Anak Saya Masih dalam Penerbangan, Saya Menolak Kompensasi
Sebuah maskapai penerbangan kehilangan dua jet penumpang dalam lima bulan merupakan peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya hingga hari ini.
Banyak yang melihatnya sebagai sebuah kutukan, bagi sebuah maskapai penerbangan yang telah beroperasi selama 70 tahun dan sebagian besar tidak terkena dampak apa pun.
Malaysia Airlines telah lama mempunyai catatan keselamatan yang sangat baik dan bahkan memenangkan penghargaan atas pelayanannya. Ia memiliki armada besar yang terbang ke seluruh dunia dari pangkalannya di Kuala Lumpur.
Namun setelah tragedi pada tahun 2014, penumpang menjadi gelisah.
Pelanggan beralih ke maskapai penerbangan lain dan laporan media menunjukkan penerbangan yang hampir kosong pada rute yang lebih panjang.
Namun tahun lalu, kepala eksekutifnya mengatakan perusahaannya berada di jalur yang tepat untuk meraih laba bersih tahunan pertamanya dalam satu dekade.
Maskapai ini tidak menanggapi pertanyaan BBC namun para analis mengatakan serangkaian pemotongan rute membantu menopang keuangannya, sementara melakukan re-branding dengan penekanan pada keselamatan telah memenangkan kembali pelanggan.
“Sekarang perusahaan ini lebih ramping dan fokus—meskipun ambisinya agak berkurang,” kata pengamat industri penerbangan Greg Waldron, yang dilansir BBC, Kamis (14/3/2024).
Saat ini, Malaysia Airlines terus melintasi angkasa, mengangkut jutaan penumpang di seluruh dunia setiap tahunnya. Jadi bagaimana kelanjutannya?
Pemerintah Malaysia Menyelamatkannya
Segera setelah tragedi kedua, pemerintah Malaysia langsung mengambil tindakan. Maskapai ini adalah maskapai penerbangan nasional dengan lebih dari 20.000 karyawan dan nilai pasar sahamnya anjlok.
Dana Kekayaan Negara (Sovereign Wealth Fund)—Khazanah Nasional—turun tangan. Pada saat itu, mereka sudah memiliki 69% saham perusahaan tersebut.
Sebulan setelah tragedi MH17, maskapai tersebut membeli pemegang saham maskapai lainnya, menghapus perusahaan tersebut dari bursa, mendirikan perusahaan baru dan menyatakan perusahaan lama bangkrut.
Malaysia Airlines dinasionalisasi sepenuhnya—langkah penting pertama untuk menyelamatkan perusahaan.
Lihat Juga :