ICC Bikin Afrika Selatan Dilema, Tangkap Vladimir Putin atau Tidak

Kamis, 13 April 2023 - 10:50 WIB
loading...
ICC Bikin Afrika Selatan...
Surat perintah dari Pengadilan Kriminal Internasional atau ICC membuat Afrika Selatan dilema, harus tangkap Presiden Rusia Vladimir Putin atau tidak. Foto/REUTERS
A A A
PRETORIA - Surat perintah Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk penangkapan Presiden Rusia Vladimir Putin telah membuat Afrika Selatan dilema. Sebab, negara Afrika itu menjadi tuan rumah KTT BRICS tahun ini—yang kemungkinan dihadiri pemimpin Rusia.

Juru bicara Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Vincent Magwenya, mengatakan KTT BRICS akan digelar Agustus nanti. Menurutnya, surat perintah ICC telah melemparkan "kunci pas" pada Afrika Selatan.

Sebagai penandatangan Statuta Roma 2002, Afrika Selatan wajib menegakkan surat perintah ICC untuk penangkapan Putin.

Namun, negara ini juga menjadi tuan rumah KTT BRICS tahun ini, di mana para pemimpin ekonomi berkembang terbesar di dunia—Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan—akan bertemu.

Baca Juga: Sekutu Rusia Ini Justru Memihak ICC yang Ingin Tankap Vladimir Putin

“Semua kepala negara diharapkan menghadiri KTT. Tapi sekarang kami memiliki kunci pas dalam bentuk surat perintah ICC ini,” kata Magwenya kepada wartawan.

“Yang menentukan adalah bahwa ada keterlibatan lebih lanjut dalam hal bagaimana itu akan dikelola, dan keterlibatan itu sedang berlangsung,” lanjut Magwenya, seperti dikutip Kamis (13/4/2023). "Setelah mereka selesai, pengumuman yang diperlukan akan dibuat."

Pemerintah Ramaphosa telah menyadari dilema seputar surat perintah ICC tersebut sejak dikeluarkan, di mana Magwenya bulan lalu menolak mengatakan apakah Pretoria akan menegakkannya.

Ramaphosa mengumumkan pada hari Selasa bahwa dia akan mengirim utusan ke Washington untuk mengklarifikasi sikap "non-blok" tentang konflik Ukraina.

Afrika Selatan dan Rusia telah menjadi mitra dekat sejak Uni Soviet mendukung Kongres Nasional Afrika anti-apartheid, yang saat ini dipimpin oleh Ramaphosa. Di bawah kepemimpinannya, Afrika Selatan menolak mengutuk operasi militer Rusia di Ukraina atau menjatuhkan sanksi terhadap Moskow, sementara militer negara itu ikut serta dalam latihan bersama dengan pasukan Rusia dan China awal tahun ini.

Pretoria memiliki masalah sendiri dengan ICC, dan dihukum oleh pengadilan pada tahun 2017 karena gagal menangkap mantan Presiden Sudan Omar al-Bashir ketika dia mengunjungi negara itu pada tahun 2015 untuk pertemuan puncak para pemimpin Afrika.

Menyusul insiden tersebut, pejabat Afrika Selatan mengajukan permohonan untuk mundur dari ICC, sebuah keputusan yang kemudian dibatalkan setelah keputusan Pengadilan Tinggi menetapkan bahwa langkah tersebut tidak konstitusional.

Dalam mengeluarkan surat perintah tersebut, ICC menuduh Putin dan Komisaris Hak Anak Rusia Maria Lvova-Belova melakukan "deportasi tidak sah" terhadap anak-anak dari "wilayah pendudukan di Ukraina".

Tuduhan tersebut mengacu pada upaya Rusia untuk mengevakuasi warga sipil dari daerah konflik di wilayah Donbas.

Rusia—yang seperti AS, China, dan India, tidak mengakui otoritas ICC—telah menolak surat perintah tersebut dan menganggap batal demi hukum dari sudut pandang hukum.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rusia dan Ukraina Makin...
Rusia dan Ukraina Makin Jauh dari Perdamaian, Apa Pemicunya?
5 Alasan Putin Menolak...
5 Alasan Putin Menolak Perjanjian Batasan Serangan Jarak Jauh dengan Ukraina
Bom Ransel Meledak di...
Bom Ransel Meledak di Apartemen Monako, Oligarki Ukraina Vadym Iermolaiev Terluka
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Kontroversi Warnai Laga...
Kontroversi Warnai Laga Perdana Babak 32 Besar, Pakar Wasit Sebut Kanada Seharusnya Dapat Penalti
Ayah dan Anak Diselamatkan...
Ayah dan Anak Diselamatkan Setelah 4 Hari Terkubur Reruntuhan Bangunan Pasca-gempa Venezuela
Hilang Misterius 12...
Hilang Misterius 12 Tahun Silam, Pencarian Pesawat Malaysia Airlines MH370 Diperpanjang Setahun
Rekomendasi
Apes, Uni Eropa Terancam...
Apes, Uni Eropa Terancam Kehilangan Pasokan Gas AS usai Tinggalkan Rusia
Jelang Hari Bhayangkara,...
Jelang Hari Bhayangkara, Polri Gelar Doa Bersama Lintas Agama
Dampak Pembiayaan PNM...
Dampak Pembiayaan PNM Diakui, Kini Melayani 23 Juta Nasabah Perempuan Prasejahtera
Berita Terkini
Para Pemimpin Yahudi...
Para Pemimpin Yahudi Ultra-Ortodoks Sebut Tentara Guru Dosa-dosa Terberat dan Israel Najis
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Raja Charles Kehilangan...
Raja Charles Kehilangan Gelar Bersejarah Pembela Iman
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Pertama Kali dalam 20...
Pertama Kali dalam 20 Tahun, Buffett Tunda Donasi ke Gates Foundation karena Kasus Epstein
Pasukan Keamanan Gaza...
Pasukan Keamanan Gaza Gagalkan Penyelundupan Narkoba Besar-besaran oleh Geng Antek Israel
Infografis
7 Alasan Vladimir Putin...
7 Alasan Vladimir Putin Tak Bantu Iran Lawan Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved