Koalisi Islam, AS dan Rusia, Siapa Jagoan Terhebat 'Penghajar' ISIS?
Selasa, 15 Desember 2015 - 18:27 WIB
Koalisi Islam, AS dan Rusia, Siapa Jagoan Terhebat 'Penghajar' ISIS?
A
A
A
JAKARTA - Dunia diramaikan dengan munculnya Koalisi Islam gabungan 34 negara Muslim yang dipimpin Arab Saudi untuk melawan kelompok teror, termasuk ISIS. Munculnya Koalisi Islam sekaligus memicu pertanyaan, apakah mampu jadi jagoan yang bisa menyaingi kekuatan yang sudah ada, yakni koalisi yang dipimpin Amerika Serikat (AS) dan Rusia.
Koalisi Islam diumumkan Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, hari ini (15/12/2015). Bermarkas di Riyadh, 34 negara Koalisi Islam itu adalah Arab Saudi, Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), Pakistan, Bahrain, Bangladesh, Benin, Turki, Chad, Togo, Tunisia, Djibouti, Senegal, Sudan, Sierra Leone, Somalia, Gabon, Guinea, Palestina, Republik Federal Islam Komoro, Qatar, Cote d'Ivoire, Kuwait, Libanon, Libya, Maladewa, Mali, Malaysia, Mesir, Maroko, Mauritania, Niger, Nigeria dan Yaman.
(Baca: Dipimpin Saudi, 34 Negara Bentuk Koalisi Islam Melawan Teroris)
Beberapa negara Koalisi Islam itu, sejatinya tercatat juga sebagai anggota koalisi internasional yang dipimpin AS. Contohnya, Arab Saudi dan Turki. Munculnya, Koalisi Islam ini diduga kuat sebagai jawaban atas seruan Presiden AS, Barack Obama, yang pernah mendesak negara-negara Islam berbuat lebih untuk melawan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
”(Koalisi) ini berasal dari dunia Islam, kewaspadaan dalam memerangi penyakit (ekstremisme Islam) yang telah merusak dunia Islam,” kata Pangeran Mohammed , seperti dikutip BBC. ”Saat ini, setiap negara Muslim memerangi terorisme individual. Jadi upaya koordinasi sangat penting,” lanjut putra Raja Arab Saudi itu.
Minus Iran dan Indonesia
Meski memakai label “Islam” koalisi yang dipimpin Arab Saudi itu menyisakan kejanggalan. Pertama, koalisi itu tidak mengikutkan Iran yang statusnya sebagai “Republik Islam” dan selama ini juga ikut memerangi kelompok teror di Suriah membantu rezim Presiden Bashar Al-Assad. Indonesia—yang mayoritas berpenduduk Muslim—juga tidak diikutkan dalam koalisi. Meski Saudi melalui kantor beritanya, SPA, mengklaim Indonesia mendukung Koalisi Islam tersebut.
(Baca juga: Minus Iran, Saudi Klaim Indonesia Dukung Koalisi Islam Pemerang Teroris)
Koalisi Islam itu secara tidak langsung ikut meramaikan situasi geopolitik Timur Tengah. Tanpa adanya Iran di dalamnya, sulit untuk memungkiri bahwa Saudi tetap menjadi “musuh” Iran. Tidak ada komentar resmi dari Saudi maupun Iran, perihal absennya Teheran dalam koalisi Islam itu.
Reaksi Koalisi AS
AS yang sempat menyerukan negara-negara Islam berbuat lebih banyak untuk melawan ISIS, belum memberikan pernyataan resmi atas munculnya Koalisi Islam yang dipimpin Saudi. Namun, Jerman yang merupakan anggota koalisi AS menyambut baik “jagoan” anyar “penghajar” ISIS itu.
Reaksi Jerman itu disampaikan Menteri Pertahanan Jerman, Ursula von der Leyen. Menurutnya, koalisi Islam akan sangat membantu jika bergabung dengan negara lain dalam memerangi ISIS. Saudi dan Turki—pentolan Koalisi Islam—diketahui sebagai pendukung oposisi atau pemberontak Suriah. Hal itu tak luput dari sorotan Jerman. "Saya pikir tidak masalah jika kelompok oposisi membentuk sebuah kelompok tetapi yang perlu dipikirkan ini adalah, dan ini yang penting, bagian dari proses Wina yang mencakup semua negara yang berperang melawan ISIS seperti AS, Eropa, Rusia, Turki, Arab Saudi, juga Iran dan China," katanya seperti dikutip Reuters.
Dalam kesempatan itu, Leyen juga menegaskan jika Jerman telah menolak permintaan AS untuk menambah bantuan militer dalam memerangi ISIS. Meski menolak untuk menambah bantuan militer, Jerman menyatakan akan tetap berada di pihak AS.
Rusia Lirik Kekuatan Koalisi Islam
Sementara itu, Rusia memilih tak banyak omong soal munculnya Koalisi Islam pemerang ISIS yang dipimpin Saudi. Rusia memilih untuk meneropong dahulu kekuatan dari Koalisi Islam yang terdiri dari 34 negara itu.
Juru bicara Kremlin, Dimitry Peskov, menilai bahwa pembentukan koalisi baru ini adalah sebuah langkah politik. ”Ini akan memakan waktu untuk menganalisis keputusan ini. Kami tidak memiliki informasi rinci pada saat ini. Kita perlu melihat siapa yang masuk koalisi, apa tujuan umum yang dinyatakan dan dengan cara apa mereka melawan terorisme," kata Peksov.
”Secara hipotesis berbicara, setiap langkah untuk ditampilkan dalam perjuangan dengan manifestasi yang berbeda dari ekstremisme adalah positif, tapi kita harus tahu secara spesifik sebelum membuat komentar,” imbuh juru bicara Presiden Vladimir Putin itu.
Dalam krisis Suriah, Rusia sendiri juga bersebarangan dengan Saudi yang memimpin Koalisi Islam. Rusia diketahui mendukung sekutunya, rezim Presiden Suriah Bashar Al-Assad. Sedangkan, Saudi mendukung pemberontak atau oposisi Suriah.
Koalisi Islam diumumkan Menteri Pertahanan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, hari ini (15/12/2015). Bermarkas di Riyadh, 34 negara Koalisi Islam itu adalah Arab Saudi, Yordania, Uni Emirat Arab (UEA), Pakistan, Bahrain, Bangladesh, Benin, Turki, Chad, Togo, Tunisia, Djibouti, Senegal, Sudan, Sierra Leone, Somalia, Gabon, Guinea, Palestina, Republik Federal Islam Komoro, Qatar, Cote d'Ivoire, Kuwait, Libanon, Libya, Maladewa, Mali, Malaysia, Mesir, Maroko, Mauritania, Niger, Nigeria dan Yaman.
(Baca: Dipimpin Saudi, 34 Negara Bentuk Koalisi Islam Melawan Teroris)
Beberapa negara Koalisi Islam itu, sejatinya tercatat juga sebagai anggota koalisi internasional yang dipimpin AS. Contohnya, Arab Saudi dan Turki. Munculnya, Koalisi Islam ini diduga kuat sebagai jawaban atas seruan Presiden AS, Barack Obama, yang pernah mendesak negara-negara Islam berbuat lebih untuk melawan kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
”(Koalisi) ini berasal dari dunia Islam, kewaspadaan dalam memerangi penyakit (ekstremisme Islam) yang telah merusak dunia Islam,” kata Pangeran Mohammed , seperti dikutip BBC. ”Saat ini, setiap negara Muslim memerangi terorisme individual. Jadi upaya koordinasi sangat penting,” lanjut putra Raja Arab Saudi itu.
Minus Iran dan Indonesia
Meski memakai label “Islam” koalisi yang dipimpin Arab Saudi itu menyisakan kejanggalan. Pertama, koalisi itu tidak mengikutkan Iran yang statusnya sebagai “Republik Islam” dan selama ini juga ikut memerangi kelompok teror di Suriah membantu rezim Presiden Bashar Al-Assad. Indonesia—yang mayoritas berpenduduk Muslim—juga tidak diikutkan dalam koalisi. Meski Saudi melalui kantor beritanya, SPA, mengklaim Indonesia mendukung Koalisi Islam tersebut.
(Baca juga: Minus Iran, Saudi Klaim Indonesia Dukung Koalisi Islam Pemerang Teroris)
Koalisi Islam itu secara tidak langsung ikut meramaikan situasi geopolitik Timur Tengah. Tanpa adanya Iran di dalamnya, sulit untuk memungkiri bahwa Saudi tetap menjadi “musuh” Iran. Tidak ada komentar resmi dari Saudi maupun Iran, perihal absennya Teheran dalam koalisi Islam itu.
Reaksi Koalisi AS
AS yang sempat menyerukan negara-negara Islam berbuat lebih banyak untuk melawan ISIS, belum memberikan pernyataan resmi atas munculnya Koalisi Islam yang dipimpin Saudi. Namun, Jerman yang merupakan anggota koalisi AS menyambut baik “jagoan” anyar “penghajar” ISIS itu.
Reaksi Jerman itu disampaikan Menteri Pertahanan Jerman, Ursula von der Leyen. Menurutnya, koalisi Islam akan sangat membantu jika bergabung dengan negara lain dalam memerangi ISIS. Saudi dan Turki—pentolan Koalisi Islam—diketahui sebagai pendukung oposisi atau pemberontak Suriah. Hal itu tak luput dari sorotan Jerman. "Saya pikir tidak masalah jika kelompok oposisi membentuk sebuah kelompok tetapi yang perlu dipikirkan ini adalah, dan ini yang penting, bagian dari proses Wina yang mencakup semua negara yang berperang melawan ISIS seperti AS, Eropa, Rusia, Turki, Arab Saudi, juga Iran dan China," katanya seperti dikutip Reuters.
Dalam kesempatan itu, Leyen juga menegaskan jika Jerman telah menolak permintaan AS untuk menambah bantuan militer dalam memerangi ISIS. Meski menolak untuk menambah bantuan militer, Jerman menyatakan akan tetap berada di pihak AS.
Rusia Lirik Kekuatan Koalisi Islam
Sementara itu, Rusia memilih tak banyak omong soal munculnya Koalisi Islam pemerang ISIS yang dipimpin Saudi. Rusia memilih untuk meneropong dahulu kekuatan dari Koalisi Islam yang terdiri dari 34 negara itu.
Juru bicara Kremlin, Dimitry Peskov, menilai bahwa pembentukan koalisi baru ini adalah sebuah langkah politik. ”Ini akan memakan waktu untuk menganalisis keputusan ini. Kami tidak memiliki informasi rinci pada saat ini. Kita perlu melihat siapa yang masuk koalisi, apa tujuan umum yang dinyatakan dan dengan cara apa mereka melawan terorisme," kata Peksov.
”Secara hipotesis berbicara, setiap langkah untuk ditampilkan dalam perjuangan dengan manifestasi yang berbeda dari ekstremisme adalah positif, tapi kita harus tahu secara spesifik sebelum membuat komentar,” imbuh juru bicara Presiden Vladimir Putin itu.
Dalam krisis Suriah, Rusia sendiri juga bersebarangan dengan Saudi yang memimpin Koalisi Islam. Rusia diketahui mendukung sekutunya, rezim Presiden Suriah Bashar Al-Assad. Sedangkan, Saudi mendukung pemberontak atau oposisi Suriah.
(mas)