Saudi Nilai Negara Teluk Harus Dilibatkan Dalam Pembicaraan AS-Iran
Minggu, 06 Desember 2020 - 19:09 WIB
loading...
Menteri Luar Negeri Saudi, Faisal bin Farhan sebuah negara Teluk harus memainkan peran kunci dalam setiap pembicaraan antara AS dan Iran. Foto/Ist
A
A
A
RIYADH - Arab Saudi dan negara-negara Teluk lainnya harus memainkan peran kunci dalam setiap pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk menghidupkan kembali kesepakatan untuk mengekang program nuklir Teheran. Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Saudi, Faisal bin Farhan.
Presiden terpilih AS, Joe Biden telah mengindikasikan bahwa ketika dia menjabat sebagai Presiden AS pada Januari, dia akan membawa kembali AS ke Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) atau kesepakatan nuklir Iran.
"Pada dasarnya apa yang kami harapkan adalah bahwa kami sepenuhnya berkonsultasi, bahwa kami dan teman-teman regional kami sepenuhnya dikonsultasikan vis-a-vis negosiasi dengan Iran. Satu-satunya cara untuk mencapai kesepakatan yang berkelanjutan adalah melalui konsultasi semacam itu,” kata Faisal. ( Baca juga: Biden: Pembunuhan Pakar Nuklir Iran Memperumit Hubungan )
"Saya pikir kita telah melihat sebagai akibat dari dampak JCPOA yang tidak melibatkan negara-negara regional menghasilkan penumpukan ketidakpercayaan dan pengabaian masalah-masalah yang menjadi perhatian nyata dan efek nyata pada keamanan regional," sambungnya, seperti dilansir Arab News pada Minggu (6/12/2020).
Faisal kemudian mengatakan setiap perjanjian baru harus merupakan perbaikan pada JCPOA. "Saya tidak tahu tentang JCPOA yang dihidupkan kembali, meskipun orang mungkin melihat ke JCPOA-plus-plus, sesuatu yang jauh di luar JCPOA," katanya. ( Baca juga: Dibayar Rp5 Triliun, AS Perpanjang Misi Pelatihan Militer di Arab Saudi )
“Karena menghidupkan kembali JCPOA seperti yang ada sekarang hanya akan membawa kita ke titik di mana kita sebelumnya, yaitu kesepakatan yang tidak memadai yang tidak mengatasi masalah secara keseluruhan," ujarnya.
Presiden terpilih AS, Joe Biden telah mengindikasikan bahwa ketika dia menjabat sebagai Presiden AS pada Januari, dia akan membawa kembali AS ke Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) atau kesepakatan nuklir Iran.
"Pada dasarnya apa yang kami harapkan adalah bahwa kami sepenuhnya berkonsultasi, bahwa kami dan teman-teman regional kami sepenuhnya dikonsultasikan vis-a-vis negosiasi dengan Iran. Satu-satunya cara untuk mencapai kesepakatan yang berkelanjutan adalah melalui konsultasi semacam itu,” kata Faisal. ( Baca juga: Biden: Pembunuhan Pakar Nuklir Iran Memperumit Hubungan )
"Saya pikir kita telah melihat sebagai akibat dari dampak JCPOA yang tidak melibatkan negara-negara regional menghasilkan penumpukan ketidakpercayaan dan pengabaian masalah-masalah yang menjadi perhatian nyata dan efek nyata pada keamanan regional," sambungnya, seperti dilansir Arab News pada Minggu (6/12/2020).
Faisal kemudian mengatakan setiap perjanjian baru harus merupakan perbaikan pada JCPOA. "Saya tidak tahu tentang JCPOA yang dihidupkan kembali, meskipun orang mungkin melihat ke JCPOA-plus-plus, sesuatu yang jauh di luar JCPOA," katanya. ( Baca juga: Dibayar Rp5 Triliun, AS Perpanjang Misi Pelatihan Militer di Arab Saudi )
“Karena menghidupkan kembali JCPOA seperti yang ada sekarang hanya akan membawa kita ke titik di mana kita sebelumnya, yaitu kesepakatan yang tidak memadai yang tidak mengatasi masalah secara keseluruhan," ujarnya.
(esn)
Lihat Juga :