Macron Ogah Ikut-ikutan Sebut Rusia Lakukan Genosida

Rabu, 13 April 2022 - 21:33 WIB
loading...
Macron Ogah Ikut-ikutan...
Presiden Prancis Emmanuel Macron tidak mau mengikuti Presiden AS Joe Biden menyebut tentara Rusia melakukan genosida di Ukraina. Foto/Bloomberg
A A A
PARIS - Presiden Prancis Emmanuel Macron menolak untuk mengikuti koleganya dari Amerika Serikat (AS) Presiden Joe Biden yang menggambarkan tindakan militer Rusia di Ukraina sebagai "genosida."

"Serangan verbal tidak akan membantu perdamaian lebih lanjut di Ukraina," ujar Macron dalam sebuah wawancara dengan televisi France2, seperti dikutip dari Russia Today, Rabu (13/4/2022).

Menurutnya, ia akan berhati-hati dengan istilah seperti itu dan mengatakan bahwa orang-orang Ukraina dan Rusia adalah “saudara.”



Namun pernyataan ini ditolak keras oleh otoritas Ukraina. Institute of National Remembrance Ukraina bahkan membuat beberapa infografis bulan lalu, menjelaskan bahwa orang Ukraina adalah orang Slavia berdarah murni tidak seperti orang Rusia, yang bercampur dengan suku Ugro-Finlandia.

Dalam wawancara tersebut, pemimpin Prancis itu mengatakan bahwa kekerasan yang berlanjut di Ukraina adalah "kegilaan" dan dia percaya bahwa kejahatan perang dilakukan oleh tentara Rusia di sana beserta para pelakunya harus bertanggung jawab.

"Namun, tujuan utamanya adalah mengamankan perdamaian di Ukraina," kata Macron. “Saya tidak yakin bahwa eskalasi retorika mendukung tujuan itu,” tambahnya, merujuk pada pernyataan Biden.

Biden untuk pertama kali menggambarkan invasi Rusia sebagai genosida dalam pidatonya di Iowa pada hari Selasa. Biden juga menyebut Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai "diktator."

Baca juga: Putin: Foto dan Video Mayat-mayat Beserakan di Bucha Ukraina Palsu

“Anggaran keluarga Anda, kemampuan Anda untuk mengisi tangki Anda, tidak ada yang harus bergantung pada apakah seorang diktator menyatakan perang dan melakukan genosida di belahan dunia lain,” katanya dalam pidato di Iowa, merujuk pada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Biden sebelumnya menyebut pemimpin Rusia itu sebagai "penjahat perang" dan menyatakan bahwa pria itu "tidak dapat tetap berkuasa."

Kiev pada awal bulan ini menuduh Rusia melakukan genosida setelah menunjukkan apa yang diklaimnya sebagai bukti pasukan Rusia dengan sengaja membunuh warga sipil di kota Bucha, barat laut Kiev.

Moskow telah menarik pasukannya dari Ibu Kota Ukraina setelah kemajuan dicapai dalam pembicaraan damai.

Baca juga: Pertama Kalinya, Biden Sebut Putin Lakukan Genosida di Ukraina

Rusia membantah tuduhan itu dan mengatakan Kiev memanipulasi dan membuat bukti untuk menjebak pasukan Rusia guna meningkatkan dukungan militer Barat dan menggagalkan proses perdamaian.

Moskow menyerang negara tetangga itu pada akhir Februari, menyusul kegagalan Ukraina untuk mengimplementasikan ketentuan perjanjian Minsk yang ditandatangani pada 2014, dan akhirnya Rusia memberikan pengakuan atas republik Donbass, Donetsk dan Lugansk.

Protokol Minsk yang ditengahi Jerman dan Prancis dirancang untuk memberikan status khusus kepada daerah-daerah yang memisahkan diri di dalam negara Ukraina.

Rusia sejak itu menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral yang tidak akan pernah bergabung dengan blok militer NATO yang dipimpin AS. Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan dan membantah klaim bahwa pihaknya berencana untuk merebut kembali kedua republik dengan paksa.

Baca juga: Zelensky: Pasukan Rusia Lakukan Ratusan Pemerkosaan, Bahkan terhadap Bayi Ukraina!
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Finlandia Buka Pintu...
Finlandia Buka Pintu Jadi Markas Bom Nuklir NATO, Rusia Bisa Marah
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
G7 Kini Fokus Memusuhi...
G7 Kini Fokus Memusuhi Rusia, Trump: Ini Perang yang Mudah Diselesaikan
Fregat Rusia Tembaki...
Fregat Rusia Tembaki Kapal Pesiar Inggris, Starmer: Tindakan Sembrono
2 Pesawat Pengebom Nuklir...
2 Pesawat Pengebom Nuklir dari 2 Negara Adikuasa yang Bermusuhan Jatuh di Hari yang Sama
PM Kanada Akui G7 Tidak...
PM Kanada Akui G7 Tidak Lagi Kendalikan Dunia
Prancis Naik Pitam!...
Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Trump Ingin Buru-Buru...
Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran, Tak Menunggu 19 Juni
Rekomendasi
Catat! Ini Penurunan...
Catat! Ini Penurunan Kapasitas Baterai Mobil Listrik Setiap Tahunnya
Bahlil Mengakui Pembangkit...
Bahlil Mengakui Pembangkit PLN Kekurangan Suplai Batu Bara Medium
Yusril Dialog dengan...
Yusril Dialog dengan BEM SI, Janji Sampaikan 5 Tuntutan ke Presiden
Berita Terkini
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Infografis
Pakar Sebut Iran Mustahil...
Pakar Sebut Iran Mustahil Berani Lakukan Penyerangan ke Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved