Kepala Pertahanan Jelaskan Bagaimana Ukraina Bisa Dihancurkan

Rabu, 02 Februari 2022 - 06:49 WIB
loading...
Kepala Pertahanan Jelaskan...
Prajurit mengendarai tank-tank menuju lokasi latihan militer di Luhansk, Ukraina, 14 Desember 2021. Foto/REUTERS
A A A
KIEV - Rencana perdamaian besar yang ditandatangani untuk mengakhiri perang di Ukraina timur, dapat menyebabkan keruntuhan negara itu jika dilaksanakan.

Pernyataan itu diungkapkan Kepala Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Ukraina Alexey Danilov yang telah memperingatkan ketika ketegangan berkobar di perbatasan bersama dengan Rusia.

Berbicara kepada Associated Press (AP) pada Senin (31/1/2022), Alexey Danilov bersikeras bahwa pejabat Ukraina harus meninjau kesepakatan damai untuk menghindari fondasi negara Eropa Timur runtuh.

Baca juga: Mampukah Senjata NATO Lindungi Ukraina Jika Perang Pecah?

“Pemenuhan perjanjian Minsk berarti kehancuran negara. Ketika itu ditandatangani di bawah laras senjata Rusia, dan Jerman dan Prancis mengawasi, sudah jelas bagi semua orang yang rasional bahwa tidak mungkin untuk mengimplementasikan dokumen-dokumen itu,” tutur dia, dilansir RT.com.

Baca juga: AS Sesumbar Punya Senjata Rahasia untuk Melawan Rusia

Menurut Danilov, negara-negara Barat seharusnya tidak mendorong Ukraina memberlakukan persyaratan saat ini yang ditetapkan dalam perjanjian.

Baca juga: Putin Beberkan Alasan yang Memungkinkan Rusia Perang dengan NATO

“Jika mereka bersikeras memenuhi perjanjian Minsk sebagaimana adanya, itu akan sangat berbahaya bagi negara kita,” ujar dia.

“Jika masyarakat tidak menerima perjanjian itu, itu dapat menyebabkan situasi internal yang sangat sulit dan Rusia mengandalkan itu,” papar kepala keamanan itu.

Pernyataannya muncul di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan Rusia-Ukraina dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Desember, Sekretaris Pers Kremlin Dmitry Peskov mengatakan, “Kemungkinan permusuhan di Ukraina masih tinggi,” ketika ditanya tentang kemungkinan perang di timur negara itu.

Perjanjian Minsk, ditandatangani pada 2014 dan 2015 oleh Ukraina, Rusia, dan organisasi antar pemerintah OSCE. Kesepakatan itu ditandatangani dalam upaya mengakhiri perang di Donbass.

Selain gencatan senjata, Protokol Minsk dan Minsk II juga mencakup kesepakatan reformasi konstitusi di Ukraina, dengan desentralisasi dan kekuasaan ekstra untuk wilayah Donetsk dan Lugansk yang memisahkan diri. Hingga saat ini, rencana tersebut masih belum bisa dilaksanakan.

Ukraina, Prancis, Jerman, dan Rusia pertama kali bersidang pada 2014, pada peringatan 70 tahun pendaratan Sekutu D-Day di Normandia selama Perang Dunia II.

Konflik di Ukraina timur pecah setelah peristiwa Maidan 2014, ketika pemerintah terpilih digulingkan setelah protes jalanan yang diwarnai kekerasan, dengan kedua republik mendeklarasikan otonomi mereka dari Kiev.

Baik Rusia, Ukraina, maupun negara anggota PBB lainnya tidak mengakui kedaulatan republik yang memisahkan diri itu.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh separatis didukung Moskow dan sebelumnya telah menyatakan preferensinya untuk bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai gantinya.

Moskow bersikeras bahwa Rusia bukan pihak dalam konflik, bagaimanapun, dan mengatakan beban ada di Kiev untuk mencapai kesepakatan dengan para pemimpin kedua wilayah di perbatasan Rusia.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inggris Caplok Armada...
Inggris Caplok Armada Bayangan Rusia, Akankah Picu Perang Besar?
Perseteruan Memanas,...
Perseteruan Memanas, Jet Tempur Swedia Cegat Pesawat Militer Rusia
Jenderal Jerman Duga...
Jenderal Jerman Duga Rusia Bakal Kerahkan Senjata Nuklir ke Luar Angkasa, Bisa Picu Kiamat Satelit
Swedia: Konflik Rusia-NATO...
Swedia: Konflik Rusia-NATO Bisa Pecah dalam Waktu Dekat
10 Negara dengan Rudal...
10 Negara dengan Rudal Balistik Terkuat di Dunia, Juaranya Bukan AS
Tak Ingin Bernasib seperti...
Tak Ingin Bernasib seperti Ukraina, Polandia Operasikan Jet Tempur Siluman
Dikepung Sanksi Barat,...
Dikepung Sanksi Barat, Rusia Malah Cetak Rekor Hampir Semua Warganya Punya Kerjaan!
Indonesia Perkuat Kerja...
Indonesia Perkuat Kerja Sama Sosial Ekonomi Perbatasan dengan Malaysia
Menteri Radikal Israel...
Menteri Radikal Israel Smotrich Serukan Penghancuran Gedung-Gedung di Ibu Kota Beirut
Rekomendasi
Berawal dari HP Kentang,...
Berawal dari HP Kentang, Adang Haedaroh Sukses Jadi Kreator Gaming dengan 61 Ribu Followers
Prabowo Panggil Purbaya...
Prabowo Panggil Purbaya hingga Bahlil ke Kertanegara, Ini yang Dibahas
Limbad Jenguk Haji Bolot...
Limbad Jenguk Haji Bolot di Rumah Sakit, Doakan Sang Komedian Cepat Sembuh
Berita Terkini
Warga China dan Rusia...
Warga China dan Rusia Berlomba Melahirkan Bayi di AS demi Status Kewarganegaraan
Perjanjian Damai Iran...
Perjanjian Damai Iran Jadi Kekalahan Paling Memalukan bagi AS, Ini 3 Alasannya
Setelah 4 Bulan Berperang,...
Setelah 4 Bulan Berperang, Ini 7 Hal yang Membuat Iran Lebih Kuat
Berlatih di Tijuana,...
Berlatih di Tijuana, Timnas Iran Dikawal 300 Pasukan Elite Meksiko
Jika Dicairkan, Aset...
Jika Dicairkan, Aset Beku Iran Jadi Oksigen Segar untuk Kebangkitan Ekonomi Iran
Militerisasi Jepang...
Militerisasi Jepang dan Bahaya Radiasi Radio Aktif
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved