Buronan Mantan Bankir Ini Klaim Sebagai Pemimpin Oposisi Kazakhstan

Sabtu, 08 Januari 2022 - 05:01 WIB
loading...
Buronan Mantan Bankir...
Mantan Menteri Energi, Industri, dan Perdagangan Kazakhstan sekaligus mantan bankir yang jadi buronan, Mukhtar Ablyazov, kini tinggal di Paris, Prancis. Foto/sputnik
A A A
ALMATY - Kazakhstan telah dicengkeram protes berdarah sejak awal tahun ini setelah lonjakan harga gas di negara itu. Tuntutan mereka agar kenaikan harga gas dicabut, dengan cepat dipenuhi pemerintah.

Tak hanya itu, kabinet menteri juga dibubarkan demi memuaskan para demonstran. Meski demikian, protes yang kerap diikuti aksi vandalisme dan penjarahan terus berlanjut.



Mantan Menteri Energi, Industri, dan Perdagangan Kazakhstan sekaligus mantan bankir yang jadi buronan, Mukhtar Ablyazov, mengklaim dirinya sebagai "pemimpin" protes yang sedang berlangsung di Kazakhstan.

Baca juga: Pertemuan Pejabat Eropa-Israel Jadi Adu Mulut dan Caci Maki

Dia juga mengklaim secara rutin berkonsultasi dengan orang-orang di lapangan di kota Almaty tentang masalah taktis.

Baca juga: Anggota Parlemen Israel Sebut Pemukim Yahudi Manusia Rendahan

"Saya melihat diri saya sebagai pemimpin oposisi. Setiap hari para pengunjuk rasa menghubungi saya dan bertanya, 'Apa yang harus kami lakukan? Kami berdiri di sini: Apa yang harus kami lakukan?'" papar dia.

Baca juga: Pakar China Mengaku Bersalah Curi Rahasia Perusahaan AS Monsanto

Mantan bankir, yang saat ini tinggal di Paris karena dituduh mencuri dana USD6 juta dari bank Kazakhstan itu menambahkan dia siap kembali ke tanah airnya dan memimpin pemerintahan sementara setelah protes mencapai skala yang tepat.

Ablyazov menepis tuduhan bahwa protes itu didanai dari luar negeri. Dia mengaku tidak menerima uang dari Barat untuk tujuan ini.

Sebelum ini, tidak ada orang yang mengaku bertanggung jawab atas protes yang melanda Kazakhstan sekarang.

Kerusuhan dimulai di beberapa kota, termasuk yang terbesar di negara itu, Almaty, setelah harga gas lokal naik sekitar 100%.

Pemerintah dengan cepat memangkas kenaikan harga dan berjanji mengendalikannya setidaknya selama setengah tahun.

Namun para pengunjuk rasa segera menambahkan pengunduran diri kabinet ke dalam daftar tuntutan mereka.

Presiden Kassym-Jomart Tokayev segera memecat pemerintah karena gagal mencegah protes rakyat.

Meskipun pemerintah memenuhi tuntutan para pengunjuk rasa, kerusuhan di negara itu terus berlanjut, dengan para demonstran mulai merebut, menjarah, dan membakar gedung-gedung publik di beberapa kota, termasuk pemerintah daerah dan departemen kepolisian.

Mereka juga dilaporkan berhasil menyita senjata dari gudang senjata yang dijaga aparat penegak hukum setempat.

Protes itu juga diikuti penjarahan yang meluas, vandalisme, dan kerusakan pada properti publik dan pribadi senilai jutaan dolar, menurut perkiraan awal.

Presiden Tokayev mencap pengunjuk rasa yang kejam, yang menolak menghentikan kegiatan mereka dan memulai dialog, sebagai "teroris".

Dia berjanji menangani mereka dengan keras, mengerahkan militer untuk memadamkan kerusuhan dan memulihkan ketertiban. Tokayev juga berbicara kepada sekutu di Organisasi Perjanjian Keamanan Kolektif (CSTO) untuk memberikan bantuan.

Anggota CSTO setuju mengirim kontingen kecil penjaga perdamaian ke Kazakhstan. Mereka tidak akan berpartisipasi dalam kegiatan apa pun yang terkait dengan memadamkan protes di negara itu.

Sebaliknya, mereka akan didedikasikan untuk menjaga fasilitas infrastruktur penting, seperti pembangkit listrik.

(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Media Asing Soroti Aksi...
Media Asing Soroti Aksi Demo Mahasiswa terhadap Kebijakan Pemerintah Indonesia
4 Pemicu Kerusuhan di...
4 Pemicu Kerusuhan di Irlandia Utara, dari Agitator Sayap Kanan Picu hingga Warisan Sejarah
Kerusuhan Meluas di...
Kerusuhan Meluas di Irlandia Utara, Rumah dan Mobil Dibakar
Gerakan Protes Gen Z...
Gerakan Protes Gen Z Guncang Ibu Kota India: Aku Seekor Kecoak!
Gara-gara Puisi, Editor...
Gara-gara Puisi, Editor Bahasa Kazakh Divonis 6,5 Tahun Penjara di Xinjiang
Iran Tangkap 3.000 Orang...
Iran Tangkap 3.000 Orang saat Protes Anti-Pemerintah Mereda
Harga Gas Penting, tapi...
Harga Gas Penting, tapi Bukan Penyebab Tunggal Industri Lesu dan PHK
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat Venezuela Mencapai 920 Orang, Pencarian Korban Masih Berlangsung
Tragis! 5 Orang Sekeluarga...
Tragis! 5 Orang Sekeluarga Tewas Disambar Petir
Rekomendasi
Mantan Karyawan Apple...
Mantan Karyawan Apple dan Audi Kembangkan Kendaraan Listrik Terinspirasi dari Armada Bulan
Jerman vs Paraguay:...
Jerman vs Paraguay: Kenangan Pahit 2002 Hantui La Albirroja
Akademisi: Riset Advokasi...
Akademisi: Riset Advokasi Kunci Perlindungan Warga Sipil
Berita Terkini
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Setelah Mundur, PM Inggris...
Setelah Mundur, PM Inggris Starmer Incar Sekjen NATO
Bantah Militernya Melemah,...
Bantah Militernya Melemah, Iran Klaim Selalu Membuat Terobosan yang Tak Diprediksi Musuh
Setelah Saling Serang,...
Setelah Saling Serang, AS dan Iran Sepakat Menahan Diri, Ternyata Ini Pemicunya!
Pakistan Gelar Serangan...
Pakistan Gelar Serangan Darat dan Udara ke Afghanistan, 29 Tentara Taliban Tewas
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved