Istana Buckingham: Ratu Elizabeth II Mendukung Gerakan Black Lives Matter
Jum'at, 10 September 2021 - 18:57 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Bantah Adik Ipar, Pangeran William: Kami Bukan Keluarga Rasis
Black Lives Matter (BLM) adalah gerakan yang memberi perhatian pada isu-isu rasisme dan kebrutalan polisi. Gerakan ini muncul pada tahun 2013 setelah dua aktivis AS memulai tagar #BlackLivesMatter untuk memprotes pembebasan warga Amerika keturunan Hispanik George Zimmerman yang menembak mati pemuda kulit hitam berusia 17 tahun, Trayvon Martin, selama pertengkaran tahun 2012 di Sanford, Florida. Popularitas gerakan ini telah berkembang selama bertahun-tahun karena para anggotanya menyoroti kasus-kasus besar orang Afrika-Amerika yang telah dibunuh oleh polisi di Amerika Serikat.
BLM mendapatkan momentum di seluruh dunia setelah kematian George Floyd, yang terjadi pada Mei 2020. Saat itu polisi menerima telepon tentang seorang pria (Floyd) yang diduga membayar belanjaannya dengan uang kertas palsu. Rekaman yang direkam oleh para saksi mata menunjukkan bahwa selama penangkapan Floyd terjepit ke tanah dengan satu petugas, Derek Chauvin, meletakkan lutut di lehernya.
Floyd berulang kali memberi tahu Chauvin bahwa dia tidak bisa bernapas. Meskipun memohon, petugas itu terus berlutut di lehernya selama hampir sembilan menit bahkan setelah Floyd kehilangan kesadaran.
Berita kematian Floyd memicu aksi protes besar-besaran terhadap rasisme dan kebrutalan polisi di AS, yang berlanjut selama berbulan-bulan. Demonstrasi serupa juga terjadi di hampir seluruh belahan dunia, termasuk di Inggris, Prancis, Iran, Jerman, Brasil, Jepang, Australia.
Baca juga: Kerajaan Inggris akan Selesaikan Masalah Rasisme Secara 'Kekeluargaan'
Black Lives Matter (BLM) adalah gerakan yang memberi perhatian pada isu-isu rasisme dan kebrutalan polisi. Gerakan ini muncul pada tahun 2013 setelah dua aktivis AS memulai tagar #BlackLivesMatter untuk memprotes pembebasan warga Amerika keturunan Hispanik George Zimmerman yang menembak mati pemuda kulit hitam berusia 17 tahun, Trayvon Martin, selama pertengkaran tahun 2012 di Sanford, Florida. Popularitas gerakan ini telah berkembang selama bertahun-tahun karena para anggotanya menyoroti kasus-kasus besar orang Afrika-Amerika yang telah dibunuh oleh polisi di Amerika Serikat.
BLM mendapatkan momentum di seluruh dunia setelah kematian George Floyd, yang terjadi pada Mei 2020. Saat itu polisi menerima telepon tentang seorang pria (Floyd) yang diduga membayar belanjaannya dengan uang kertas palsu. Rekaman yang direkam oleh para saksi mata menunjukkan bahwa selama penangkapan Floyd terjepit ke tanah dengan satu petugas, Derek Chauvin, meletakkan lutut di lehernya.
Floyd berulang kali memberi tahu Chauvin bahwa dia tidak bisa bernapas. Meskipun memohon, petugas itu terus berlutut di lehernya selama hampir sembilan menit bahkan setelah Floyd kehilangan kesadaran.
Berita kematian Floyd memicu aksi protes besar-besaran terhadap rasisme dan kebrutalan polisi di AS, yang berlanjut selama berbulan-bulan. Demonstrasi serupa juga terjadi di hampir seluruh belahan dunia, termasuk di Inggris, Prancis, Iran, Jerman, Brasil, Jepang, Australia.
Baca juga: Kerajaan Inggris akan Selesaikan Masalah Rasisme Secara 'Kekeluargaan'
(ian)
Lihat Juga :