600 Migran Mencapai Pulau Italia dari Tunisia Hanya dalam 2 Hari

Minggu, 01 Agustus 2021 - 07:01 WIB
loading...
600 Migran Mencapai...
Para migran duduk di atas kapal Ocean Viking saat mereka menunggu untuk turun, di Augusta, Sisilia, Italia, 9 Juli 2021. Foto/Claire Juchat/SOS MEDITERRANEE/REUTERS
A A A
SISILIA - Hampir 600 migran mencapai pulau Lampedusa Italia dari Tunisia hanya dalam dua hari.

Kedatangan tak terhitung banyaknya orang-orang yang melarikan diri dari negara Afrika Utara yang dilanda krisis dan berusaha mencapai Eropa dengan perahu kecil itu dilaporkan setiap jam oleh organisasi non-pemerintah dan kapal Penjaga Pantai Italia yang berpatroli di Selat Sisilia.

Baru pada Sabtu siang (31/7), 99 migran mendarat di Lampedusa dengan enam perahu kecil yang berbeda.

Baca juga: Bongkar ‘Skenario Kiamat’, Inggris Sebut Mutasi COVID dengan Tingkat Kematian 35%

Sebelum kedatangan mereka, 1.137 orang sudah hadir di pusat pengungsi di Contrada Imbriacola, jauh di atas kapasitas maksimum fasilitas itu sebanyak 250 orang.

Baca juga: Wanita Minnesota Dipenggal di Siang Bolong, Tersangka Pelaku Pacarnya

“Mereka datang setiap jam, seperti buletin berita,” papar Vincenzo Pandolfo, yang memiliki toko di pelabuhan Lampedusa, mengatakan kepada Arab News.

Baca juga: Pemilik Restoran California Wajibkan Pembeli Tunjukkan 'Bukti Tidak Divaksin'

“Tampaknya tidak banyak kontrol di pantai Tunisia akhir-akhir ini. Kami belum pernah melihat begitu banyak perahu datang ke Lampedusa, dan sekarang bahkan mencoba mencapai selatan Sardinia, yang merupakan perjalanan yang lebih jauh dan lebih berbahaya, seperti yang telah kami lakukan sejak 26 Juli, ketika krisis politik pecah di Tunisia,” ujar Laksamana Roberto Isidori, komandan Penjaga Pantai di Sisilia.

“Kapal kami semua keluar untuk memastikan bahwa tidak ada kecelakaan yang terjadi, tetapi situasi ini semakin buruk,” ujar Isidori.

Dinas keamanan Italia telah memperkirakan pada awal krisis bahwa gejolak politik yang sedang berlangsung dan ketidakstabilan di Tunisia dapat mengakibatkan peningkatan drastis migran, dengan jumlah yang berpotensi mencapai hingga 15.000 orang dalam waktu yang sangat singkat.

Tetapi Isidori mengatakan, "Jika angka terus bertahan seperti pekan lalu, itu bisa menjadi perkiraan yang optimistis."

Sesuai aturan, warga Tunisia tidak memenuhi syarat untuk mencari suaka di Italia, dan hingga 80 orang dapat diterbangkan pulang setiap pekan berdasarkan kesepakatan yang dicapai antara Roma dan Tunisia tahun lalu.

Sisanya sering diberi perintah pengusiran dan dibebaskan dari pusat-pusat migran. Banyak yang kemudian mencoba mencapai Prancis atau Jerman.

Peningkatan keberangkatan telah memicu kekhawatiran terulangnya kondisi 2011, ketika 25.000 warga Tunisia tiba di Italia selama pemberontakan Musim Semi Arab.

Jumlah warga Tunisia yang mencoba mencapai Italia telah meningkat sejak awal 2021 karena memburuknya krisis ekonomi di dalam negeri, yang diperburuk lonjakan dramatis kasus penyakit virus corona dan kurangnya vaksin.

Kondisi cuaca yang baik juga mendorong para migran mencoba penyeberangan yang berbahaya.

Hampir 1.000 orang tewas dalam perjalanan antara pantai Afrika Utara dan Sisilia tahun ini, naik dari 267 orang pada periode yang sama tahun lalu, termasuk sekitar 57 migran yang tenggelam pekan ini ketika kapal mereka terbalik di lepas pantai Libya.

Catatan Kementerian Dalam Negeri menunjukkan dari total 28.515 migran ilegal yang tiba di Italia sepanjang tahun ini, sebagian besar berasal dari Tunisia, yang jauh melebihi mereka yang berasal dari negara lain, termasuk Libya.

Dari Januari hingga Juni, 2.962 orang menyeberang ke Italia, dengan 3.796 orang lainnya berlayar bulan ini.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Inggris, Prancis, Jerman,...
Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia Siap Cabut Sanksi Teheran setelah Kesepakatan Damai AS-Iran
4 Pemicu Kerusuhan di...
4 Pemicu Kerusuhan di Irlandia Utara, dari Agitator Sayap Kanan Picu hingga Warisan Sejarah
Imigran Sudan Tikam...
Imigran Sudan Tikam Warga Lokal, Kerusuhan Pecah di Irlandia Utara
Mahasiswa dan Pekerja...
Mahasiswa dan Pekerja Asing Kini akan Dipaksa Tinggalkan AS untuk Ajukan Green Card
Italia, Inggris, Prancis,...
Italia, Inggris, Prancis, dan Jerman Peringatkan Situasi di Tepi Barat Memburuk
Italia Serukan Sanksi...
Italia Serukan Sanksi Uni Eropa untuk Menteri Israel Ben-Gvir
Kisah Yasin Ayari dan...
Kisah Yasin Ayari dan Gol Perdana Swedia di Piala Dunia Setelah 2.893 Hari
Kematian Akibat Wabah...
Kematian Akibat Wabah Ebola di RD Kongo Tembus 200 Orang
Ini Alasan Trump Ingin...
Ini Alasan Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran
Rekomendasi
Frans Antoni Pengendali...
Frans Antoni Pengendali Uang Fredy Pratama Digiring ke Bareskrim usai Ditangkap di Malaysia
Dokter Tifa Pakai Kursi...
Dokter Tifa Pakai Kursi Roda hingga Dibopong usai Pemeriksaan Kesehatan di RS Polri
Pascadamai AS-Iran:...
Pascadamai AS-Iran: Kapal Raksasa Ini Tembus Selat Hormuz, Krisis Energi Global Mulai Mereda?
Berita Terkini
Hizbullah Tegaskan Terapkan...
Hizbullah Tegaskan Terapkan Gencatan Senjata dengan Israel Segera
4 Tentara Israel Tewas,...
4 Tentara Israel Tewas, Menteri-menteri Ekstremis Ancam Bakar Seluruh Lebanon, Buka Gerbang Neraka
Otoritas Selat Teluk...
Otoritas Selat Teluk Persia Umumkan Kapal-kapal Diizinkan Melintasi Selat Hormuz
Langkah Mengejutkan,...
Langkah Mengejutkan, Partai Komunis Kuba Bersedia Buka Ekonomi Menuju Pasar Bebas
Netanyahu Keras Kepala,...
Netanyahu Keras Kepala, Israel Tak akan Mundur dari Lebanon Selatan
Hizbullah Peringatkan...
Hizbullah Peringatkan Israel Punya Waktu 60 hari untuk Mundur dari Lebanon
Infografis
Hanya 2 Kapal Perusak...
Hanya 2 Kapal Perusak Angkatan Laut Inggris yang Bisa Beroperasi
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved