Ruqyah dan Pemerkosaan 'Korektif', Terapi Konversi LGBT yang Kontroversial di Indonesia

Senin, 26 April 2021 - 15:44 WIB
loading...
Ruqyah dan Pemerkosaan...
Seorang PKL berjalan melewati spanduk bertuliskan Indonesia LGBT Darurat di depan sebuah masjid di Jakarta, Indonesia, 25 Januari 2018. Foto/REUTERS/Beawiharta
A A A
JAKARTA - Tumbuh sebagai seseorang yang tidak sesuai dengan norma gender tradisional tidaklah mudah di Indonesia.

Tanya saja Christine—identitas lengkapnya dilindungi—, wanita transgender berusia 35 tahun di Jawa Barat yang telah menjalani terapi konversi tidak kurang dari empat kali.

Baca juga: 'Tsunami' COVID India: "Tuhan Tolong Kami, Tuhan Tolong India"

Ketika praktik pseudoscientific telah dikecam di banyak negara Barat, terapi konversi masih banyak dilakukan oleh organisasi berbasis agama di negara mayoritas Muslim terbesar di dunia ini, serta beberapa entitas komersial.

Homoseksualitas tidak ilegal di Indonesia tetapi meningkatnya konservatisme agama telah memicu meningkatnya diskriminasi terhadap masyarakat.

Christine, yang dibesarkan di kota Medan di provinsi Sumatra Utara, mengatakan bahwa dia pertama kali menjadi sasaran praktik—sejenis pengusiran setan yang dikenal di Indonesia sebagai ruqyah—ketika dia berusia 13 tahun.

“Saya telah menjadi feminin sejak saya berusia tujuh tahun,” kata Christine kepada This Week In Asia.

“Saya sangat dekat dengan kakak perempuan dan adik perempuan saya. Saya bermain dengan mainan anak perempuan dan saya melakukan pekerjaan rumah tangga yang biasanya dilakukan anak perempuan."

Pada kelas enam, dia diintimidasi di sekolah. "Karena benar-benar perempuan", katanya. Teman sekolah sering meneriakkan ejekan padanya dalam Bahasa Indonesia yang ditujukan khusus untuk transgender.

"Saat itulah Ibu saya meminta seorang ulama untuk melakukan ruqyah pada saya. Ulama itu memberi tahu Ibu saya bahwa ada jin perempuan di dalam diri saya," katanya.

Ulama itu, kata dia, kemudian memberinya air suci untuk diminum.

Saat berusia 16 tahun, Christine menjalani ruqyah untuk kedua kalinya. Pada kesempatan ini, seorang ulama membawa kain kafan dan beberapa bunga—yang pertama untuk dikuburkan sebagai isyarat agar dia bisa “dilahirkan kembali” sebagai laki-laki, sedangkan yang terakhir akan digunakan di air mandi untuk “membersihkan” jiwanya.

Sekitar waktu inilah Christine mulai memakai riasan, wig, dan sepatu hak tinggi di depan umum. Sebagai tanggapan, dan atas desakan anggota keluarga dan tetangga, Ibunya mendaftarkan Christine dalam kamp pelatihan ruqyah selama seminggu di sebuah pesantren, tujuh jam berkendara dari rumah keluarga.

“Yang saya lakukan hanya salat lima waktu, membaca Al-Qur'an, dan mandi di air suci. Suatu saat kami mengorbankan seekor kambing dan memberikan dagingnya kepada orang-orang yang tinggal di sekitar sekolah," katanya, seraya menambahkan bahwa pengorbanan itu dimaksudkan agar dia lebih “saleh".
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
India Gempar, Seorang...
India Gempar, Seorang Ibu Diperkosa Beramai-ramai di Depan Anaknya
4 Fakta Memalukan Keluarga...
4 Fakta Memalukan Keluarga Kerajaan Norwegia Divonis 4 Tahun Penjara karena Pemerkosaan
Ghana Sahkan RUU Anti-LGBT,...
Ghana Sahkan RUU Anti-LGBT, Membela Gay Bakal Dipenjara 5 Tahun
Israel Gugat New York...
Israel Gugat New York Times karena Ungkap Tentara Zionis Perkosa Tahanan Palestina Secara Brutal
Dunia Marah pada Festival...
Dunia Marah pada 'Festival Pemerkosaan' Ini: Sekelompok Pria Telanjangi Perempuan di Siang Bolong
Israel akan Gelar Acara...
Israel akan Gelar Acara LGBTQ Terbesar di Timur Tengah
MUI Siapkan Naskah Akademik...
MUI Siapkan Naskah Akademik RUU Pidana LBGT, DPR Janji Tindak Lanjuti
AS Lancarkan Serangan...
AS Lancarkan Serangan Baru ke Iran, Sasar Pertahanan Udara hingga Fasilitas Drone
Iran Ingatkan Selat...
Iran Ingatkan Selat Hormuz hanya Dibuka Bebas 60 Hari, selanjutnya...
Rekomendasi
B50 Dimulai 1 Juli,...
B50 Dimulai 1 Juli, Mampukah Jadi Solusi Ketahanan Energi Tanpa Mengorbankan Petani Sawit?
Rayakan 70 Juta Streaming...
Rayakan 70 Juta Streaming ‘Masa Ini, Nanti, dan Masa Indah Lainnya’, Nuca Adakan '[LAGI] Sama Nuca’
Boni Hargens Sebut Polri...
Boni Hargens Sebut Polri Presisi Tulang Punggung Demokrasi
Berita Terkini
Israel Sebut Mojtaba...
Israel Sebut Mojtaba Jadi Target Pembunuhan, Iran Marah Besar!
Direktur CIA: Dunia...
Direktur CIA: Dunia Terancam dengan Senjata Nuklir Digital yang Didukung AI
Jalanan di Inggris Meleleh...
Jalanan di Inggris Meleleh pada Suhu 45 Derajat Celsius, Ini 3 Alasannya
Paksa Rusia Mengakhiri...
Paksa Rusia Mengakhiri Perang, Ukraina Intensifkan Serangan Drone ke Moskow
Siapkan Kemenangan pada...
Siapkan Kemenangan pada Pemilu Pertengahan, Trump Gelar Konvensi Partai Republik
Dunia Fokus ke Iran,...
Dunia Fokus ke Iran, Israel Justru Percepat Perebutan Lahan di Gaza dan Tepi Barat
Infografis
Perburuan Sepatu Emas...
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Messi Dihantui Haaland dan Mbappe!
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved