HRW: Pasukan Ethiopia Tembaki Warga Sipil Selama Perang Tigray

Jum'at, 12 Februari 2021 - 15:24 WIB
loading...
HRW: Pasukan Ethiopia...
HRW menuduh pasukan Ethiopia menembaki warga sipil selama perang di wilayah Tigray. Foto/Anadolu
A A A
ADDIS ABABA - Lembaga pemantau hak asasi manusia (HAM), Human Rights Watch (HRW), menuduh tentara Ethiopia melanggar hukum internasional dengan menembaki penduduk sipil selama serangan mereka terhadap separatis Tigray. HRW pun menyerukan penyelidikan PBB atas konflik tersebut.

"Pasukan Ethiopia menewaskan sedikitnya 83 warga sipil saat meletusnya konflik bersenjata di wilayah Tigray yang membuat ribuan orang mengungsi," kata HRW seperti dikutip dari kantor berita Jerman, Deutsche Welle, Jumat (12/2/2021).

LSM tersebut menuduh tentara Ethiopia telah melanggar hukum internasional dengan penembakan tanpa pandang bulu di daerah perkotaan pada November tahun lalu.



"Serangan artileri pada awal konflik bersenjata menghantam rumah, rumah sakit, sekolah, dan pasar di kota Mekele, dan kota Humera dan Shire," kata organisasi yang berbasis di New York itu.

Sebuah laporan HRW mengatakan serangan itu menyebabkan lebih dari 300 orang terluka, termasuk wanita dan anak-anak.

Para aktivis mengutip laporan yang dapat dipercaya tentang pelecehan yang meluas, termasuk pembunuhan di luar hukum, penjarahan dan penahanan sewenang-wenang. Mereka pun menyerukan penyelidikan oleh PBB.

Pemerintah Ethiopia belum mengomentari klaim tersebut.

Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian 2019, mengumumkan operasi militer pada awal November melawan kepemimpinan partai yang berkuasa di Tigray, Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF).

Baca juga: Tentara Ethiopia pada Wanita Korban Perang Tigray: 'Pilih, Saya Bunuh atau Perkosa'

Dia mengatakan serangan itu sebagai tanggapan atas serangan yang dilakukan TPLF atas kamp tentara federal.

Abiy mengumumkan kemenangan setelah pasukan pro-pemerintah merebut kota Mekele pada akhir November.

Pada saat itu, Abiy mengatakan tidak ada warga sipil yang terbunuh ketika pasukannya memasuki kota-kota di provinsi tersebut. Ia bersikeras bahwa militer Ethiopia melakukan semua yang dapat dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban sipil.

TPLF sendiri telah berjanji untuk terus berjuang, meskipun banyak pemimpinnya yang telah terbunuh atau ditangkap.

Tetapi para pekerja bantuan memperingatkan bahwa ketidakamanan yang berkepanjangan telah menghambat pengiriman bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan.

Baca juga: Mantan Menlu Ethiopia Tewas dalam Penumpasan Pemberontak di Tigray

Ketegangan antara pemerintah federal dan TPLF memburuk dalam beberapa bulan terakhir setelah keretakan besar yang muncul terkait keputusan Abiy menunda pemilihan nasional pada Maret 2020.

TPLF mengabaikan perintah tersebut dan mengadakan pemilu regional mereka sendiri pada bulan September.

Partai Tigray dimulai sebagai gerakan gerilya dan mengambil alih kekuasaan dalam revolusi pada tahun 1991. Partai ini membentuk koalisi multi-etnis yang memainkan peran penting dalam pemerintahan nasional selama bertahun-tahun.

Mereka mengeluhkan penganiayaan di bawah Abiy, seorang etnis Oromo, yang memerintahkan penangkapan lusinan mantan pejabat militer dan politik senior dalam tindakan kerasnya terhadap korupsi.

Pada 2019, Abiy menata kembali koalisi yang berkuasa menjadi satu partai yang ditolak TPLF untuk bergabung.

Baca juga: Horor, 222 Tewas dalam Pembantaian di Sebuah Desa Ethiopia
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Dari Jimmy Lai hingga...
Dari Jimmy Lai hingga Xinjiang, Isu HAM Tak Lagi Jadi Fokus Utama AS-China
Junta Myanmar Usir Diplomat...
Junta Myanmar Usir Diplomat Timor-Leste karena Buka Kasus Kejahatan Perang
11 Perang Terlama dalam...
11 Perang Terlama dalam Sejarah Manusia, Ada yang Berdarah-darah hingga 781 Tahun
Indonesia Terpilih Jadi...
Indonesia Terpilih Jadi Presiden Dewan HAM PBB, Apa Untungnya?
5 Perang Minyak yang...
5 Perang Minyak yang Mengubah Sejarah Dunia
4 Bukti Perang Rusia...
4 Bukti Perang Rusia dan NATO Akan Terjadi pada 2029
Dukung Tambahan Anggaran...
Dukung Tambahan Anggaran Komnas HAM dan Komnas Perempuan, Marinus Gea: Penting untuk Pemenuhan Hak Asasi Manusia
Skandal Kerajaan, Putra...
Skandal Kerajaan, Putra dari Putri Mahkota Norwegia Divonis Penjara atas Tuduhan Pemerkosaan
Trump Teken MoU Perjanjian...
Trump Teken MoU Perjanjian Damai, Iran Tegaskan Tak Akan Serahkan Bahan Nuklir
Rekomendasi
Muktamar NU Harus Jadi...
Muktamar NU Harus Jadi Momentum Pemurnian, Bukan Arena Perebutan Kekuasaan
Davina Karamoy Dicecar...
Davina Karamoy Dicecar 30 Pertanyaan Terkait Kasus Hanania Travel
Ayahanda Jatuh Sakit,...
Ayahanda Jatuh Sakit, Alasan Tangis Lionel Messi di Piala Dunia 2026
Berita Terkini
AS Berencana Bangun...
AS Berencana Bangun Persediaan Senjata Siap Tempur di Australia
Pemimpin Hizbullah:...
Pemimpin Hizbullah: Perlawanan Gagalkan Proyek Israel Raya, Perlucutan Senjata Tak akan Disetujui
AS Siap Mulai Lagi Perang...
AS Siap Mulai Lagi Perang dan Terapkan Kembali Blokade Jika Iran Tidak Patuh
Trump Bela Kesepakatan...
Trump Bela Kesepakatan Iran: Orang-orang Dungu Itu Iri, Orang Jahat, atau Bodoh
Ketua Parlemen Tegaskan...
Ketua Parlemen Tegaskan Iran akan Pungut Biaya dari Kapal untuk Layanan di Selat Hormuz
AS Ternyata Gunakan...
AS Ternyata Gunakan AI Grok Elon Musk untuk Tembakkan 2.000 Rudal ke Iran
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved