Rusia Usir Diplomat Barat, Dituding Ikut Aksi Dukung Navalny

Sabtu, 06 Februari 2021 - 00:52 WIB
loading...
Rusia Usir Diplomat...
Rusia mengusir diplomat dari tiga negara Eropa, menuduhnya ikut dalam aksi mendukung Alexei Navalny. Foto/Ilustrasi
A A A
MOSKOW - Rusia telah mengusir diplomat dari Swedia , Polandia dan Jerman , menuduhnya mereka telah menghadiri aksi demonstrasi mendukung pemimpin oposisi Alexei Navalny .

Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh diplomat Swedia dan Polandia di St. Petersburg dan seorang diplomat Jerman di Moskow ambil bagian dalam apa yang disebut demonstrasi "tidak sah" pada 23 Januari lalu. Saat itu puluhan ribu orang di seluruh Rusia turun ke jalan untuk memprotes penangkapan Navalny.

"Para diplomat itu dinyatakan sebagai persona non grata dan diminta untuk meninggalkan Rusia segera," bunyi sebuah pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia seperti dilansir dari AP, Sabtu (6/2/2021).



Pejabat Eropa segera mengecam langkah tersebut.

"Swedia menganggap ini sepenuhnya tidak dapat dibenarkan, yang juga telah kami sampaikan ke pihak Rusia," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Swedia Mats Samuelsson dalam sebuah pernyataan kepada AP.

Ia mengatakan Stockholm dengan tegas menolak klaim Rusia bahwa diplomat itu ikut serta dalam demonstrasi di Rusia dan berhak untuk mengambil tindakan yang tepat sebagai tanggapan.

Baca juga: Lavrov: Sikap Barat Terhadap Kasus Navalny Telah Berlebihan

Kecaman juga datang dari Kanselir Jerman Angela Merkel.

"Kami menganggap pengusiran ini tidak dapat dibenarkan dan berpikir itu adalah aspek lain dari hal-hal yang dapat dilihat di Rusia saat ini yang cukup jauh dari aturan hukum," kata Merkel di Berlin setelah konferensi video dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Macron sendiri mengutuk dalam istilah yang lebih kuat pengusiran itu dan apa yang terjadi pada Navalny dari awal sampai akhir. Dia mengungkapkan solidaritasnya untuk Jerman, Polandia dan Swedia.

Baca juga: Jelang Demo Rusia, Adik dan Ajudan Navalny Jadi Tahanan Rumah

Dalam protes massal di 11 zona waktu Rusia selama dua akhir pekan berturut-turut, banyak orang meneriakkan slogan menentang Putin sebagai pertunjukan ketidakpuasan terbesar dalam beberapa tahun. Ribuan orang ditahan. Beberapa sekutu dekat Navalny menghadapi tuntutan pidana dan berada dalam tahanan rumah, dan banyak rekannya dijatuhi hukuman penjara singkat.

Navalny (44) seorang penyelidik antikorupsi dan kritikus Presiden Rusia Vladimir Putin paling terkemuka, ditangkap pada 17 Januari setelah kembali dari Jerman, di mana ia menghabiskan lima bulan untuk memulihkan diri dari keracunan zat saraf yang ia salahkan kepada Kremlin. Namun otoritas Rusia menolak tuduhan tersebut.

Pada hari Selasa, pengadilan Moskow memutuskan bahwa selama berada di Jerman, Navalny melanggar persyaratan masa percobaan dari hukuman percobaan pencucian uang 2014 dan memerintahkannya untuk menjalani hukuman penjara dua tahun delapan bulan. Keputusan itu memicu kemarahan internasional.

Baca juga: Rusia Dakwa Kritikus Kremlin Alexei Navalny Hukuman Penjara 2 Tahun
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Mata-mata Perang...
10 Mata-mata Perang Dingin yang Tak Pernah Takut Mati
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
Tegang dengan NATO,...
Tegang dengan NATO, Pesawat Pengebom Nuklir Rusia Berkeliaran di Arktik
Hongaria Bersihkan Jaringan...
Hongaria Bersihkan Jaringan Viktor Orban, Ini 3 Alasan Rusia Akan Kehilangan Aliansi Utama
Rusia Tuding NATO Akan...
Rusia Tuding NATO Akan Gelar Operasi Barbarossa Hitler pada 2030, Apakah Akan Berhasil?
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
Teken Kerja Sama Hukum,...
Teken Kerja Sama Hukum, Indonesia dan Rusia Perkuat Mutual Legal Assistance
Suami Divonis 4 Tahun...
Suami Divonis 4 Tahun Penjara karena Paksa Istri Berhubungan Seks dengan 120 Pria
Menteri Israel Kecam...
Menteri Israel Kecam AS karena Berdamai dengan Iran: Perilaku Tak Baik!
Rekomendasi
Selesai Diperiksa Kasus...
Selesai Diperiksa Kasus Kuota Haji, Eks Dirjen PHU Hilman Latief: Diminta Keterangan Saja
Lolos ke Jakarta, Peserta...
Lolos ke Jakarta, Peserta Liga Bintang Juara GTV Ungkap Pengalaman Seru dan Menegangkan
Gus Yaqut Sakit, KPK...
Gus Yaqut Sakit, KPK Bantarkan Penahanannya ke RS Polri Kramatjati
Berita Terkini
Rusia Klaim Senjata...
Rusia Klaim Senjata Nuklir Jadi Satu-satunya Jaminan pada Perang Global, Ini 3 Alasannya
Bill Gates Ngaku Jadi...
Bill Gates Ngaku Jadi Korban Epstein, tapi Fakta Berbicara Lain
10 Tahun Brexit, Mayoritas...
10 Tahun Brexit, Mayoritas Rakyat Inggris Menyesal!
Israel Intervensi Pilpres...
Israel Intervensi Pilpres Kolombia, Ini 4 Faktanya
Kandidat Kuat PM Inggris...
Kandidat Kuat PM Inggris Andy Burnham Dinilai Tidak Berpihak ke Palestina
Tiru Strategi Iran,...
Tiru Strategi Iran, Ukraina Tembakkan 323 Drone ke Wilayah Rusia pada Malam Hari
Infografis
Tentara China Ikut Perang...
Tentara China Ikut Perang Bantu Rusia Melawan Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved