FinCEN Files Ungkap Aliran 'Uang Panas' Global, Diduga Ada yang Masuk Indonesia

Senin, 21 September 2020 - 12:28 WIB
loading...
FinCEN Files Ungkap...
Bocoran dokumen FinCEN Files mengungkap transaksi mencurigakan yang melibatkan bank-bank besar dunia. Foto/ICIJ
A A A
JAKARTA - Sejumlah dokumen besar yang bocor, yang disebut sebagai FinCEN Files, mengungkap transaksi keuangan global yang mencurigakan, di mana Deutsche Bank beperan secara sentral. Dokumen itu juga mengungkapkan aliran "uang panas" tersebut diduga ada yang mengalir ke Indonesia.

Menurut laporan DW.com, Senin (21/9/2020), bank terbesar Jerman, Deutsche Bank, tidak asing dengan skandal. Tetapi FinCEN Files yang bocor menunjukkan bahwa bank tersebut menyadari memfasilitasi transaksi mencurigakan senilai lebih dari USD1 triliun, termasuk untuk periode setelah berjanji untuk membersihkan tindakannya.

FinCEN Files adalah cache besar dari laporan rahasia yang merinci aktivitas keuangan yang mencurigakan, yang diajukan oleh bank ke Jaringan Penegakan Kejahatan Keuangan (FinCEN), sebuah biro Departemen Keuangan AS (USTD).

BuzzFeed News memperoleh file-file tersebut dan membagikannya kepada Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ). Selama 16 bulan terakhir, 400 jurnalis dari 88 negara telah menyelidiki dokumen tersebut.

Deutsche Bank menyumbang 62% dari semua Laporan Aktivitas Mencurigakan (SAR) yang diajukan ke FinCEN dalam dokumen yang bocor. (Baca: Media China Sentil Indonesia karena Menentang Klaim China di Laut China Selatan )

Apa itu Laporan Aktivitas Mencurigakan?

Laporan Aktivitas Mencurigakan (SAR) ini mencerminkan kekhawatiran pengawas di dalam bank dan tidak selalu merupakan bukti dari tindakan kriminal atau kesalahan apa pun. Lembaga keuangan yang beroperasi di AS diharuskan untuk mengajukan laporan ini ke USTD, dan kegagalan untuk melakukannya dapat mengakibatkan hukuman.

Antara 1999 hingga 2017, USD2 triliun (€ 1,68 triliun) transaksi ditandai oleh petugas kepatuhan internal lembaga keuangan sebagai mencurigakan. Alasannya mencakup kemungkinan pencucian uang, pelanggaran sanksi, atau aktivitas kriminal lainnya.

Dari jumlah tersebut, transaksi senilai USD1,3 triliun (€ 1,09 triliun) melewati Deutsche Bank, yang melaporkan aktivitas tersebut kepada FinCEN.

Ini bukan pertama kalinya Deutsche Bank terlibat dalam transfer uang yang mencurigakan. Pada 2015, mereka menyetujui denda USD258 juta karena melanggar sanksi AS.

Penyelidikan oleh regulator perbankan AS dan New York menemukan bahwa bank telah memindahkan USD10,9 miliar (€ 9,2 miliar) atas nama lembaga keuangan Iran, Libya, Suriah, Burma dan Sudan yang diberi sanksi oleh AS antara 1999 dan 2006. Bank tersebut dituduh melakukan transaksi untuk pelanggannya menggunakan "metode dan praktik non-transparan" untuk menyamarkan tindakannya.

"Sejak itu kami telah menghentikan semua bisnis dengan pihak-pihak dari negara-negara yang terlibat," kata juru bicara Deutsche Bank pada saat itu.

FinCEN Files menunjukkan bahwa Deutsche Bank terus memindahkan uang untuk orang dan perusahaan yang dianggap mencurigakan, seperti yang ditunjukkan oleh pengajuan SAR dari bank tersebut, setelah penyelesaian besar tahun 2015.

Salah satu kasus yang menonjol adalah Reza Zarrab, seorang pedagang emas Iran-Turki. Dia mengaku bersalah pada tahun 2017 di pengadilan federal AS untuk membantu Iran menghindari sanksi.

Afiliasi Deutsche Bank AS, Deutsche Bank Trust Company Americas (TCA), mengajukan SAR tentang perusahaan yang memiliki hubungan dekat dengan Zarrab kepada FinCEN pada Maret 2017. Laporan tersebut menyatakan bahwa perusahaan tersebut, Nadir Döviz, yang terlibat dalam perdagangan emas, telah lebih dari USD28 juta (€23 juta) ditransfer atas namanya.

Deutsche Bank TCA mengajukan SAR-nya karena Nadir Döviz sedang diselidiki atas keterlibatannya dalam skema pencucian uang. Dokumen tersebut mengatakan transaksi terjadi antara Maret 2016 dan Februari 2017.

Dalam laporannya Deutsche Bank menyatakan bahwa aktivitas mencurigakan tersebut merupakan pembayaran intra-perusahaan yang tersebar di antara beberapa bank Turki. "SAR ini diajukan karena transaksinya berasal dari negara berisiko tinggi (Turki), ada banyak transaksi besar, transaksi bulat dolar, dan tidak ada tujuan komersial yang diidentifikasi melalui rincian transaksi," bunyi pernyataan itu.

Salah satu transaksi mencurigakan ini adalah sebesar USD1,5 juta (€1,2 juta) dari Nadir Döviz di Turki ke Nadir Gold di Dubai pada 12 September 2016. Tidak ada alasan yang diberikan untuk transfer tersebut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
Ciptakan Krisis Energi...
Ciptakan Krisis Energi di Rusia, Drone Ukraina Serang Krimea dan Kilang Minyak Utama
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
World Giving Report...
World Giving Report 2026: Donasi Global Turun, Indonesia Bertahan di Atas Rata-rata Dunia
Korban Tewas Gempa Dahsyat...
Korban Tewas Gempa Dahsyat M 7,8 di Filipina Bertambah Jadi 53 Orang
AS Ancam Serang Infrastruktur...
AS Ancam Serang Infrastruktur Iran, Presiden Pezeshkian: Mereka Putus Asa!
Rekomendasi
Bolehkah Puasa pada...
Bolehkah Puasa pada 1 Muharram? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Penjelasan PLN soal...
Penjelasan PLN soal Blackout di Beberapa Wilayah Pulau Jawa
Partai Perindo NTT Gandeng...
Partai Perindo NTT Gandeng GMIT, Dorong SNI agar UMKM Naik Kelas
Berita Terkini
Israel Jadi Negara yang...
Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Diboikot di Dunia
Ayatollah Khamenei Sudah...
Ayatollah Khamenei Sudah Lebih dari 100 Hari Meninggal, Iran Tunda Lagi Penguburannya
Beda dengan Pejabat...
Beda dengan Pejabat Eropa, Jenderal Senior NATO Ini Sebut Rusia Tak Mencari Konflik
Elon Musk Triliuner...
Elon Musk Triliuner Pertama di Dunia, Kekayaannya Rp19.706,5 Triliun Setara 73 Kali Anggaran MBG
Putri Bha Meninggal,...
Putri Bha Meninggal, Calon Pewaris Raja Vajiralongkorn Berharta Rp770 Triliun Makin Misterius
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
Infografis
5 Presiden Indonesia...
5 Presiden Indonesia yang Paling Sering Reshuffle Kabinet
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved