Emas Menggerakkan Mesin Perang Putin dan Menjaga Rusia Tetap Bertahan

Senin, 01 Desember 2025 - 14:26 WIB
loading...
Emas Menggerakkan Mesin...
Emas menjadi andalan Rusia dalam bertahan selama perangnya melawan Ukraina ketika Moskow dihantam banyak sanksi. Foto/PR via Jerusalem Post
A A A
MOSKOW - Menghadapi sanksi, inflasi yang melonjak, dan kekurangan sumber daya manusia, Rusia mengandalkan salah satu komoditas tertua dan paling stabil untuk menopang ekonomi masa perangnya—yakni emas.

Kelompok tentara bayaran Rusia selama ini telah dituduh melakukan pembunuhan dan penyiksaan di Afrika Tengah untuk mendapatkan emas-emas tersebut.

Moskow telah menimbun emas selama hampir dua dekade dan logam mulia ini kini memainkan peran kunci, di samping minyak, dalam keuangan mesin perang Presiden Vladimir Putin.

Baca Juga: Putin Ngotot Syarat Akhiri Perang Adalah Ukraina Serahkan Wilayah ke Rusia

Kelompok tentara bayaran Rusia, Wagner Group, telah menguasai pertambangan di Republik Afrika Tengah, tempat mereka dikenal kejam dan penuh kekerasan.

Para tentara bayaran tersebut dituduh membunuh orang untuk memperluas cengkeraman mereka pada perdagangan dan melindungi klaim mereka.

Dua bulan lalu, Rusia diduga menembak mati 10 penambang lokal di dekat tambang Ndassima di pusat negara Afrika itu.

Dua minggu kemudian, mereka menangkap 10 penambang lainnya dan mengurung mereka dalam kontainer logam yang dijemur selama beberapa hari. Setidaknya satu tawanan tewas, menurut lapor media lokal yang dikutip The Telegraph, Senin (1/12/2025).

Insiden-insiden tersebut bukanlah yang pertama kali dituduhkan sejak Wagner Group mengambil alih tambang dan deposit emasnya–senilai USD1 miliar pada tahun 2021.

Sementara itu, di Burkina Faso, produsen emas Nordgold yang berbasis di Rusia mendapatkan lisensi yang menguntungkan untuk menambang deposit Niou di provinsi Kourweogo awal tahun ini, di samping dua lokasi penambangan emas yang sudah dioperasikannya di negara tersebut.

Di seberang perbatasan di Mali, junta militer yang didukung Kremlin mulai membangun kilang emas musim panas ini bersama Yadran Group, sebuah konglomerat Rusia.

Fasilitas ini akan memiliki kapasitas 200 ton dan diharapkan menjadi pusat pemrosesan untuk seluruh kawasan.

Di seluruh benua tersebut, Rusia telah meningkatkan keterlibatannya dalam perdagangan emas Afrika.

Emas mudah dipindahkan dan diselundupkan secara fisik di luar pengawasan dan jejak dokumen jaringan keuangan normal.

Emas mudah dicairkan, mudah disamarkan asal-usulnya, dan mudah dicuci di pasar gelap yang mapan.

Hal ini menjadikannya alat yang berguna bagi negara Rusia dan bisnisnya untuk menghindari sanksi Barat jika mereka ingin mengakses mata uang asing, atau melakukan pembelian internasional setelah terputus dari sebagian besar sistem keuangan global.

Emas menjadi semakin penting sejak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara efektif memasukkan dua perusahaan minyak terbesar Rusia ke dalam daftar hitam bulan lalu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Rusia Alami Krisis BBM...
Rusia Alami Krisis BBM Akibat Serangan Efektif Drone Ukraina, Ini 4 Faktanya
Langka, Putin Akui Rusia...
Langka, Putin Akui Rusia Krisis Bahan Bakar akibat Serangan Ukraina
Putin: Barat Coba Kacaukan...
Putin: Barat Coba Kacaukan Rusia karena Tak Mampu Mengalahkannya di Medan Perang
Inggris Sekarang Tanpa...
Inggris Sekarang Tanpa Kapal Selam Serang Nuklir Aktif, Jadi Tak Berdaya Melawan Rusia
6 Pesawat Pengebom Nuklir...
6 Pesawat Pengebom Nuklir China dan Rusia Manuver Gabungan Dekati Jepang
Harga Emas Antam Turun...
Harga Emas Antam Turun Rp15.000 Jadi Rp2,64 Juta per Gram, Ini Rinciannya
Sengaja Targetkan Anak-Anak...
Sengaja Targetkan Anak-Anak Palestina, Penyelidik PBB Nyatakan Israel Lakukan Genosida di Gaza
Wow, Putin Ngobrol dengan...
Wow, Putin Ngobrol dengan Presiden Belarusia Lukashenko 24 Jam Lebih
Rekomendasi
Jerman Ditahan Paraguay...
Jerman Ditahan Paraguay hingga Extra Time, Laga Berlanjut ke Adu Penalti
Program CID Pertamina...
Program CID Pertamina Patra Niaga Ubah Tantangan Lokal Jadi Peluang Usaha
Ilmuwan Temukan Penyebab...
Ilmuwan Temukan Penyebab Baru di Balik Peningkatan Lemak Perut Seiring Bertambahnya Usia
Berita Terkini
Korut Tuding Jepang...
Korut Tuding Jepang Berubah Jadi Negara Perang, Apa Pemicunya?
3 Alasan Malaysia Lanjutkan...
3 Alasan Malaysia Lanjutkan Pencarian MH370, Operasi Termahal di Dunia
Merasa Dikucilkan di...
Merasa Dikucilkan di NATO, Erdogan Minta Turki Dimasukkan dalam Struktur Keamanan Eropa
Kekurangan Uang, Ukraina...
Kekurangan Uang, Ukraina Terpaksa Bersekongkol dengan Kartel Narkoba Meksiko
Hanya Iran yang Bisa...
Hanya Iran yang Bisa Membuka Selat Hormuz, Ini 3 Alasannya
Aset Iran yang Dibekukan...
Aset Iran yang Dibekukan Rp107 Triliun Segera Cair, Perundingan Digelar di Qatar
Infografis
5 Buah Rendah Gula yang...
5 Buah Rendah Gula yang Aman untuk Diet, Tetap Manis dan Menyegarkan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved