Emas Menggerakkan Mesin Perang Putin dan Menjaga Rusia Tetap Bertahan
Senin, 01 Desember 2025 - 14:26 WIB
loading...
A
A
A
John Kennedy, seorang pakar di lembaga riset RAND Europe yang telah menyelidiki penggunaan logam tersebut oleh Rusia, mengatakan: “Emas tidak pernah sepenting ini bagi Rusia."
“Untuk waktu yang lama, Rusia telah menimbun emas dan sejak invasi, Rusia telah memanfaatkannya," ujarnya.
“Emas sangat penting untuk mengelola tekanan ekonomi yang terus meningkat, termasuk defisit anggaran yang semakin besar dan sanksi baru terhadap perusahaan-perusahaan pengekspor minyak utamanya. Rusia juga sangat tertarik menggunakan emas untuk mengakses pasar internasional," paparnya.
Rusia memiliki cadangan emas domestik yang sangat besar dan dalam beberapa tahun terakhir telah memproduksi lebih dari 300 ton setiap tahun.
Namun, permintaan akan logam dan kegunaannya yang begitu besar juga menjadikannya pilar keterlibatan Rusia di Afrika.
Akses ke tambang emas sering kali diupayakan sebagai bagian dari kesepakatan strategis untuk memberikan bantuan keamanan bagi para pemimpin Afrika.
Kennedy mengatakan: “Emas merupakan prioritas strategis bagi Rusia dan oleh karena itu, perolehan emas juga merupakan prioritas strategis."
“Ekstraksi mineral merupakan salah satu cara Rusia mengembangkan hubungan internasional. Kita telah menyaksikan bahwa selama masa perang, Rusia menciptakan hubungan mineral ini, dan seiring Rusia semakin berada di bawah tekanan Barat, emas menjadi semakin penting," paparnya.
Antara tahun 2006 hingga 2020, Rusia menambahkan lebih banyak emas ke cadangannya dibandingkan negara lain.
Moskow telah berusaha membatasi ketergantungannya pada dolar AS, dengan lebih memilih emas dan yuan China, agar negaranya lebih stabil.
Putin mempercepat proses tersebut setelah Barat menjatuhkan sanksi kepada Moskow karena mencaplok Crimea dari Ukraina pada tahun 2014.
Pada saat Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia telah mengumpulkan cadangan emas terbesar kelima di dunia, meskipun para peneliti memperingatkan bahwa angka resmi Kremlin tidak transparan.
Dengan ekonomi Rusia yang kini didominasi oleh perang dan sanksi, kelompok riset RAND Europe tahun lalu melaporkan bahwa negara itu menggunakan emas fisik dalam pembayaran antarnegara, dan bisnis Rusia terlibat dalam pertukaran emas untuk barang, emas untuk senjata, dan emas untuk uang tunai.
Kelompok riset lain, Centre for Advanced Defence Studies, melaporkan awal tahun ini bahwa Rusia telah membayar Iran dalam bentuk emas batangan sebagai imbalan atas bantuan membangun industri drone militer baru. Laporan tersebut mengeklaim setidaknya emas-emas batangan senilai USD104 juta dikirimkan sebagai bagian dari kontrak dengan Sahara Thunder, sebuah perusahaan yang berbasis di Teheran. Rusia juga dilaporkan telah menggunakan emas untuk membayar senjata dari Korea Utara.
Baik Iran maupun Korea Utara telah membantah telah mengirim senjata ke Rusia.
Yuri Chikhanchin, kepala pengawas keuangan Rusia, mengakui pada bulan Juli bahwa perusahaan-perusahaan Rusia menggunakan emas dan mata uang kripto untuk melakukan pembayaran internasional.
Tahun lalu, Sayari, sebuah perusahaan intelijen keuangan, melaporkan bahwa beberapa bank Rusia tampaknya telah bermanuver menghindari larangan pengiriman dolar dan euro ke Moskow dengan memperdagangkan emas di Uni Emirat Arab (UEA) dan Turki.
“Untuk waktu yang lama, Rusia telah menimbun emas dan sejak invasi, Rusia telah memanfaatkannya," ujarnya.
“Emas sangat penting untuk mengelola tekanan ekonomi yang terus meningkat, termasuk defisit anggaran yang semakin besar dan sanksi baru terhadap perusahaan-perusahaan pengekspor minyak utamanya. Rusia juga sangat tertarik menggunakan emas untuk mengakses pasar internasional," paparnya.
Rusia memiliki cadangan emas domestik yang sangat besar dan dalam beberapa tahun terakhir telah memproduksi lebih dari 300 ton setiap tahun.
Namun, permintaan akan logam dan kegunaannya yang begitu besar juga menjadikannya pilar keterlibatan Rusia di Afrika.
Akses ke tambang emas sering kali diupayakan sebagai bagian dari kesepakatan strategis untuk memberikan bantuan keamanan bagi para pemimpin Afrika.
Kennedy mengatakan: “Emas merupakan prioritas strategis bagi Rusia dan oleh karena itu, perolehan emas juga merupakan prioritas strategis."
“Ekstraksi mineral merupakan salah satu cara Rusia mengembangkan hubungan internasional. Kita telah menyaksikan bahwa selama masa perang, Rusia menciptakan hubungan mineral ini, dan seiring Rusia semakin berada di bawah tekanan Barat, emas menjadi semakin penting," paparnya.
Antara tahun 2006 hingga 2020, Rusia menambahkan lebih banyak emas ke cadangannya dibandingkan negara lain.
Moskow telah berusaha membatasi ketergantungannya pada dolar AS, dengan lebih memilih emas dan yuan China, agar negaranya lebih stabil.
Putin mempercepat proses tersebut setelah Barat menjatuhkan sanksi kepada Moskow karena mencaplok Crimea dari Ukraina pada tahun 2014.
Pada saat Rusia melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada tahun 2022, Rusia telah mengumpulkan cadangan emas terbesar kelima di dunia, meskipun para peneliti memperingatkan bahwa angka resmi Kremlin tidak transparan.
Dengan ekonomi Rusia yang kini didominasi oleh perang dan sanksi, kelompok riset RAND Europe tahun lalu melaporkan bahwa negara itu menggunakan emas fisik dalam pembayaran antarnegara, dan bisnis Rusia terlibat dalam pertukaran emas untuk barang, emas untuk senjata, dan emas untuk uang tunai.
Kelompok riset lain, Centre for Advanced Defence Studies, melaporkan awal tahun ini bahwa Rusia telah membayar Iran dalam bentuk emas batangan sebagai imbalan atas bantuan membangun industri drone militer baru. Laporan tersebut mengeklaim setidaknya emas-emas batangan senilai USD104 juta dikirimkan sebagai bagian dari kontrak dengan Sahara Thunder, sebuah perusahaan yang berbasis di Teheran. Rusia juga dilaporkan telah menggunakan emas untuk membayar senjata dari Korea Utara.
Baik Iran maupun Korea Utara telah membantah telah mengirim senjata ke Rusia.
Yuri Chikhanchin, kepala pengawas keuangan Rusia, mengakui pada bulan Juli bahwa perusahaan-perusahaan Rusia menggunakan emas dan mata uang kripto untuk melakukan pembayaran internasional.
Tahun lalu, Sayari, sebuah perusahaan intelijen keuangan, melaporkan bahwa beberapa bank Rusia tampaknya telah bermanuver menghindari larangan pengiriman dolar dan euro ke Moskow dengan memperdagangkan emas di Uni Emirat Arab (UEA) dan Turki.
Lihat Juga :