Kekejaman RSF di El-Fasher: Ratusan Mayat Warga Sipil Dikubur di Kuburan Massal, Lainnya Dibakar
Senin, 10 November 2025 - 07:21 WIB
loading...
Kekejaman kelompok paramiliter RSF di kota El-Fasher, Sudan, terungkap. Ratusan jasad warga sipil korban pembantaian dikubur di kuburan massal, dan lainnya dibakar. Foto/RSF
A
A
A
EL-FASHER - Kekejaman kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) di kota El-Fasher, Sudan barat, terungkap. Ratusan jasad warga sipil korban pembantaian massal dikuburkan di kuburan massal dan lainnya dibakar.
Para petugas medis Jaringan Dokter Sudan (SDN) mengungkap temuan itu pada hari Minggu.
"RSF telah mengumpulkan ratusan jenazah dari jalanan dan permukiman kota, menguburkan beberapa di antaranya di kuburan massal dan membakar yang lainnya dalam upaya putus asa untuk menyembunyikan bukti kejahatan mereka terhadap warga sipil," kata SDN dalam sebuah pernyataan, yang dilansir Anadolu, Senin (10/11/2025).
Baca Juga: Siapa Itu RSF, Kelompok Bengis yang Bantai Massal Warga Sipil Sudan?
SDN menyebut penguburan warga sipil sebagai "genosida total" dan pelanggaran semua norma internasional dan agama yang melarang mutilasi jenazah dan menjamin hak atas pemakaman yang bermartabat bagi korban tewas.
"Situasi di El-Fasher telah melampaui bencana kemanusiaan menjadi genosida sistematis, yang menargetkan kehidupan dan martabat manusia di tengah kebisuan internasional yang mengerikan," lanjut pernyataan tersebut.
"Kejahatan RSF tidak dapat dihapuskan dengan mengubur atau membakar," imbuh kelompok medis Sudan tersebut, menyerukan kepada masyarakat internasional untuk segera mengambil tindakan guna meluncurkan penyelidikan internasional independen atas kekejaman terhadap warga sipil di El-Fasher.
Pada 26 Oktober, RSF merebut kendali El-Fasher, ibu kota Darfur Utara, dan melakukan pembantaian berbasis etnis, menurut organisasi-organisasi lokal dan internasional, di tengah peringatan bahwa serangan tersebut dapat memperkokoh pemisahan geografis negara tersebut.
Sejak 15 April 2023, militer Sudan dan RSF telah terkunci dalam perang saudara yang gagal diakhiri oleh mediasi regional dan internasional. Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan lainnya mengungsi.
Pada akhir bulan lalu, komandan RSF, Mohamed Hamdan Dagalo, telah meminta maaf kepada warga El-Fasher setelah pasukannya melakukan pembantaian massal terhadap warga sipil selama merebut kota tersebut.
Jumlah korban pembantaian RSF di kota El-Fasher dilaporkan telah mencapai lebih dari 2.000 orang.
Dalam pesan video yang dirilis di saluran Telegram-nya—tiga hari setelah RSF merebut kendali El-Fasher, benteng terakhir militer Sudan di wilayah Darfur—Dagalo mengatakan, "Saya meminta maaf kepada rakyat El-Fasher atas bencana yang menimpa mereka."
"Kami dipaksa terlibat dalam perang ini; perang ini dipaksakan kepada kami. Namun pembebasan El-Fasher adalah demi persatuan Sudan—baik secara damai maupun melalui perang," ujarnya.
Dagalo, yang juga dikenal sebagai Hemedti, menggambarkan pasukannya sebagai "rakyat yang cinta damai", dan mendesak pasukannya untuk tidak melukai warga sipil.
"Membunuh tentara yang ditangkap dilarang," katanya. "Sedangkan warga sipil, kalian tidak ada urusan dengan mereka," katanya lagi, seperti dikutip dari Middle East Monitor.
Komandan RSF itu mengumumkan pembentukan komite akuntabilitas di El-Fasher untuk menyelidiki dugaan pelanggaran, dengan mengatakan, "Kami menjunjung tinggi hukum dan meminta pertanggungjawaban mereka yang bersalah."
Laporan dari para saksi, aktivis lokal, dan organisasi internasional, yang diperkuat oleh citra satelit, menunjukkan bahwa RSF melakukan pembantaian dan pembunuhan etnis yang meluas terhadap warga sipil setelah merebut kota El-Fasher.
Uni Eropa telah mengecam apa yang disebutnya sebagai "kebrutalan" RSF dan "penargetan etnis" terhadap warga sipil, sementara PBB memperingatkan meningkatnya risiko pelanggaran dan kekejaman bermotif etnis di wilayah tersebut.
Para petugas medis Jaringan Dokter Sudan (SDN) mengungkap temuan itu pada hari Minggu.
"RSF telah mengumpulkan ratusan jenazah dari jalanan dan permukiman kota, menguburkan beberapa di antaranya di kuburan massal dan membakar yang lainnya dalam upaya putus asa untuk menyembunyikan bukti kejahatan mereka terhadap warga sipil," kata SDN dalam sebuah pernyataan, yang dilansir Anadolu, Senin (10/11/2025).
Baca Juga: Siapa Itu RSF, Kelompok Bengis yang Bantai Massal Warga Sipil Sudan?
SDN menyebut penguburan warga sipil sebagai "genosida total" dan pelanggaran semua norma internasional dan agama yang melarang mutilasi jenazah dan menjamin hak atas pemakaman yang bermartabat bagi korban tewas.
"Situasi di El-Fasher telah melampaui bencana kemanusiaan menjadi genosida sistematis, yang menargetkan kehidupan dan martabat manusia di tengah kebisuan internasional yang mengerikan," lanjut pernyataan tersebut.
"Kejahatan RSF tidak dapat dihapuskan dengan mengubur atau membakar," imbuh kelompok medis Sudan tersebut, menyerukan kepada masyarakat internasional untuk segera mengambil tindakan guna meluncurkan penyelidikan internasional independen atas kekejaman terhadap warga sipil di El-Fasher.
Pada 26 Oktober, RSF merebut kendali El-Fasher, ibu kota Darfur Utara, dan melakukan pembantaian berbasis etnis, menurut organisasi-organisasi lokal dan internasional, di tengah peringatan bahwa serangan tersebut dapat memperkokoh pemisahan geografis negara tersebut.
Sejak 15 April 2023, militer Sudan dan RSF telah terkunci dalam perang saudara yang gagal diakhiri oleh mediasi regional dan internasional. Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang dan membuat jutaan lainnya mengungsi.
Pada akhir bulan lalu, komandan RSF, Mohamed Hamdan Dagalo, telah meminta maaf kepada warga El-Fasher setelah pasukannya melakukan pembantaian massal terhadap warga sipil selama merebut kota tersebut.
Jumlah korban pembantaian RSF di kota El-Fasher dilaporkan telah mencapai lebih dari 2.000 orang.
Dalam pesan video yang dirilis di saluran Telegram-nya—tiga hari setelah RSF merebut kendali El-Fasher, benteng terakhir militer Sudan di wilayah Darfur—Dagalo mengatakan, "Saya meminta maaf kepada rakyat El-Fasher atas bencana yang menimpa mereka."
"Kami dipaksa terlibat dalam perang ini; perang ini dipaksakan kepada kami. Namun pembebasan El-Fasher adalah demi persatuan Sudan—baik secara damai maupun melalui perang," ujarnya.
Dagalo, yang juga dikenal sebagai Hemedti, menggambarkan pasukannya sebagai "rakyat yang cinta damai", dan mendesak pasukannya untuk tidak melukai warga sipil.
"Membunuh tentara yang ditangkap dilarang," katanya. "Sedangkan warga sipil, kalian tidak ada urusan dengan mereka," katanya lagi, seperti dikutip dari Middle East Monitor.
Komandan RSF itu mengumumkan pembentukan komite akuntabilitas di El-Fasher untuk menyelidiki dugaan pelanggaran, dengan mengatakan, "Kami menjunjung tinggi hukum dan meminta pertanggungjawaban mereka yang bersalah."
Laporan dari para saksi, aktivis lokal, dan organisasi internasional, yang diperkuat oleh citra satelit, menunjukkan bahwa RSF melakukan pembantaian dan pembunuhan etnis yang meluas terhadap warga sipil setelah merebut kota El-Fasher.
Uni Eropa telah mengecam apa yang disebutnya sebagai "kebrutalan" RSF dan "penargetan etnis" terhadap warga sipil, sementara PBB memperingatkan meningkatnya risiko pelanggaran dan kekejaman bermotif etnis di wilayah tersebut.
(mas)
Lihat Juga :