Media Pro-IRGC: Iran Mutlak Harus Memiliki Bom Nuklir
Senin, 29 Juni 2026 - 08:31 WIB
loading...
Media pro-Korps Garda Revolusi Islam Iran sebut Iran mutlak harus memiliki bom nuklir karena menghadapi musuh-musuh yang kuat. Foto/Mehr News
A
A
A
TEHERAN - Fars News Agency, media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menerbitkan artikel yang menyerukan republik Islam tersebut mengembangkan bom nuklir. Seruan ini bisa menjadi ancaman terhadap kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Artikel tersebut, berjudul “Tidak ada pilihan selain membangun bom atom", mengeklaim bahwa Iran diharuskan bernegosiasi dengan musuh-musuhnya dari posisi yang kuat.
Baca Juga: Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
“Untuk mencapai perdamaian dan ketenangan yang dibutuhkan Iran, Iran mutlak harus mencapai deterrence nuklir untuk memastikan bahwa masalah-masalah lainnya dapat diselesaikan melalui negosiasi,” bunyi penggalan artikel tersebut yang diterbitkan hari Minggu.
Ulasan artikel juga membandingkan situasi Iran dengan AS dengan situasi China pada tahun 1970-an.
“Amerika mengancam China dengan serangan nuklir dua kali—mirip dengan ancaman nuklir [Presiden AS Donald] Trump baru-baru ini terhadap Iran—tetapi kapan [Menteri Luar Negeri AS saat itu, Henry] Kissinger secara diam-diam bertemu dengan China dan kemudian bernegosiasi? Itu terjadi ketika China membangun bom atom,” lanjut artikel.
“Deterrence nuklir berarti Anda dapat mencapai keseimbangan kekuatan melawan Amerika dan Israel, yang memiliki bom atom—bukan agar perang tidak terjadi, tetapi agar cakupan konflik tetap terkendali,” lanjutnya.
Artikel tersebut, berjudul “Tidak ada pilihan selain membangun bom atom", mengeklaim bahwa Iran diharuskan bernegosiasi dengan musuh-musuhnya dari posisi yang kuat.
Baca Juga: Iran: Sifat Dasar AS Adalah Mengingkari Janji!
“Untuk mencapai perdamaian dan ketenangan yang dibutuhkan Iran, Iran mutlak harus mencapai deterrence nuklir untuk memastikan bahwa masalah-masalah lainnya dapat diselesaikan melalui negosiasi,” bunyi penggalan artikel tersebut yang diterbitkan hari Minggu.
Ulasan artikel juga membandingkan situasi Iran dengan AS dengan situasi China pada tahun 1970-an.
“Amerika mengancam China dengan serangan nuklir dua kali—mirip dengan ancaman nuklir [Presiden AS Donald] Trump baru-baru ini terhadap Iran—tetapi kapan [Menteri Luar Negeri AS saat itu, Henry] Kissinger secara diam-diam bertemu dengan China dan kemudian bernegosiasi? Itu terjadi ketika China membangun bom atom,” lanjut artikel.
“Deterrence nuklir berarti Anda dapat mencapai keseimbangan kekuatan melawan Amerika dan Israel, yang memiliki bom atom—bukan agar perang tidak terjadi, tetapi agar cakupan konflik tetap terkendali,” lanjutnya.
Lihat Juga :