Profil Hemedti, Penggembala Unta yang Jadi Jenderal Bengis RSF Sudan
Senin, 03 November 2025 - 13:20 WIB
loading...
A
A
A
Kelompok-kelompok hak asasi manusia (HAM) telah menuduh Janjaweed melakukan kejahatan perang–termasuk pembunuhan, pemerkosaan, dan penyiksaan warga sipil–selama konflik di Darfur.
RSF dibentuk pada tahun 2013 di bawah kepemimpinan Dagalo. RSF menggabungkan elemen-elemen Janjaweed menjadi kekuatan baru di bawah naungan al-Bashir dan Badan Intelijen dan Keamanan Nasional Sudan.
Tak lama kemudian, Dagalo diberi legitimasi lebih lanjut dan otonomi yang luas karena al-Bashir, yang terkesan dengan pemimpin milisi yang tinggi dan berwibawa itu, mulai mengandalkannya dan para milisinya untuk menumpas musuh-musuhnya di Darfur dan di tempat lain di Sudan.
Dagalo kemudian meraih pangkat letnan jenderal dan diberi kebebasan penuh saat dia merebut tambang emas yang menguntungkan di Darfur milik seorang pemimpin suku rival. Dia melipatgandakan kekayaannya berkali-kali lipat.
"Seiring meningkatnya popularitasnya, kepentingan bisnis Hemedti sendiri berkembang dengan bantuan al-Bashir, dan keluarganya memperluas kepemilikan di bidang pertambangan emas, peternakan, dan infrastruktur," ujar Adel Abdel Ghafar, direktur Program Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan di Middle East Council on Global Affairs, kepada Al Jazeera.
Meskipun telah lama menjadi sekutu al-Bashir dan mendapatkan keuntungan besar di bawah pemerintahannya, Dagalo turut serta dalam penggulingan presiden al-Bashir ketika pemberontakan tahun 2019 pecah dan mengakhiri kekuasaannya yang telah berlangsung hampir 30 tahun.
Setelah al-Bashir lengser, kemitraan sipil-militer dibentuk, dan Dagalo memposisikan dirinya dengan baik dalam masa transisi tersebut.
Menurut Ghaffar, Dagalo menjadi wakil kepala Dewan Militer Transisi, yang memegang kekuasaan tepat setelah al-Bashir lengser, dan kemudian menjadi bagian dari penerusnya, Dewan Kedaulatan.
Dan, seperti yang selalu dilakukannya, Dagalo menindak tegas para pembangkang.
Pasukan RSF-nya menewaskan lebih dari 100 orang di sebuah kamp protes pada tahun 2019 di luar Kementerian Pertahanan, sebuah tindakan keras yang dibantah Dagalo.
Meskipun al-Bashir dan pejabat tinggi Sudan lainnya telah didakwa dengan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC), tidak ada dakwaan yang diajukan terhadap Dagalo meskipun ada tuduhan oleh kelompok-kelompok HAM atas kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan yang dipimpinnya selama dekade terakhir.
Selama bertahun-tahun, Dagalo telah menjalin hubungan yang kuat baik di kawasan maupun internasional.
RSF dibentuk pada tahun 2013 di bawah kepemimpinan Dagalo. RSF menggabungkan elemen-elemen Janjaweed menjadi kekuatan baru di bawah naungan al-Bashir dan Badan Intelijen dan Keamanan Nasional Sudan.
Tak lama kemudian, Dagalo diberi legitimasi lebih lanjut dan otonomi yang luas karena al-Bashir, yang terkesan dengan pemimpin milisi yang tinggi dan berwibawa itu, mulai mengandalkannya dan para milisinya untuk menumpas musuh-musuhnya di Darfur dan di tempat lain di Sudan.
Dagalo kemudian meraih pangkat letnan jenderal dan diberi kebebasan penuh saat dia merebut tambang emas yang menguntungkan di Darfur milik seorang pemimpin suku rival. Dia melipatgandakan kekayaannya berkali-kali lipat.
"Seiring meningkatnya popularitasnya, kepentingan bisnis Hemedti sendiri berkembang dengan bantuan al-Bashir, dan keluarganya memperluas kepemilikan di bidang pertambangan emas, peternakan, dan infrastruktur," ujar Adel Abdel Ghafar, direktur Program Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan di Middle East Council on Global Affairs, kepada Al Jazeera.
Meskipun telah lama menjadi sekutu al-Bashir dan mendapatkan keuntungan besar di bawah pemerintahannya, Dagalo turut serta dalam penggulingan presiden al-Bashir ketika pemberontakan tahun 2019 pecah dan mengakhiri kekuasaannya yang telah berlangsung hampir 30 tahun.
Perebutan Kekuasaan Pasca-Bashir
Setelah al-Bashir lengser, kemitraan sipil-militer dibentuk, dan Dagalo memposisikan dirinya dengan baik dalam masa transisi tersebut.
Menurut Ghaffar, Dagalo menjadi wakil kepala Dewan Militer Transisi, yang memegang kekuasaan tepat setelah al-Bashir lengser, dan kemudian menjadi bagian dari penerusnya, Dewan Kedaulatan.
Dan, seperti yang selalu dilakukannya, Dagalo menindak tegas para pembangkang.
Pasukan RSF-nya menewaskan lebih dari 100 orang di sebuah kamp protes pada tahun 2019 di luar Kementerian Pertahanan, sebuah tindakan keras yang dibantah Dagalo.
Meskipun al-Bashir dan pejabat tinggi Sudan lainnya telah didakwa dengan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC), tidak ada dakwaan yang diajukan terhadap Dagalo meskipun ada tuduhan oleh kelompok-kelompok HAM atas kejahatan perang yang dilakukan oleh pasukan yang dipimpinnya selama dekade terakhir.
Selama bertahun-tahun, Dagalo telah menjalin hubungan yang kuat baik di kawasan maupun internasional.
Lihat Juga :