Skandal Lixun Diansheng: Perusahaan China Dikecam karena Memotret Karyawan di Toilet
Selasa, 11 Februari 2025 - 08:06 WIB
loading...
A
A
A
“Hal pertama yang menarik perhatian saya secara pribadi mengenai masalah ini adalah upaya perusahaan untuk mengecilkan arti penting dari insiden tersebut dengan menyajikannya sebagai lelucon gagal dan dibesar-besarkan,” sambungnya.
Hal kedua, lanjut Dimitra, adalah adanya sebuah rezim komunis yang menunjukkan ketidakpedulian mencolok perihal rasa hormat terhadap kelompok pekerja, atau bahkan manusia. “Apakah rezim pada akhirnya akan membunuh kuda yang sudah tua di China?” tanya Dimitra, menggunakan analogi kuda untuk mewakili pekerja.
Pertanyaan ini mengarah pada kesimpulan langsung bahwa China adalah negara yang secara umum tidak memberikan perhatian semestinya pada penghormatan terhadap HAM. Hal ini dilakukan tidak hanya bagi warga negaranya (pada tingkat individu, baik kerja kolektif), tetapi juga bagi kaum minoritas yang tinggal di dalamnya, dengan warga Tibet dan Uighur menjadi kelompok minoritas paling menderita.
Komunitas internasional telah mengecam keras China terkait masalah Uighur, menyusul laporan tentang "kamp pendidikan ulang Uighur” yang terkenal kejam. China menyebutnya sebagai semacam sekolah asrama, tempat orang Uighur belajar bahasa Mandarin "dalam kondisi yang baik”. Namun, sejumlah testimoni merujuk pada dugaan terjadinya penganiayaan, penyiksaan, dan pengawasan.
“Jelas bahwa kita harus membentengi diri terhadap paradoks perjuangan global untuk perlindungan data pribadi dan privasi warga negara di satu sisi, dan di sisi lain, menerima kenyataan bahwa insiden seperti pelanggaran privasi mencolok di tempat kerja itu terjadi dari waktu ke waktu,” ungkap Dimitra.
“Tentu saja, kultur ‘woke’ telah berkontribusi, entah kita mau mengakuinya atau tidak, pada pengorbanan individu dan kolektif atas perlindungan data pribadi di altar pendokumentasian kehidupan kita dalam bentuk paparan berlebihan atas kehidupan kita, termasuk beredarnya banyak foto telanjang di media sosial,” sambungnya.
Di saat kaum perempuan berupaya keras memperkuat peran mereka secara global dalam masyarakat dan tempat kerja dan tampaknya terus berhasil, Bianca Sensori yang telanjang, ditemani suaminya, Kanye West, disingkirkan dari Grammy Awards karena pendirian mereka dalam mempromosikan objektifikasi tubuh perempuan telanjang.
“Jika kita tidak bereaksi, insiden seperti yang terjadi di China akan semakin banyak, dan seperti yang dikatakan John Windman dalam bukunya Chrysalis, ‘Kualitas hidup yang hakiki adalah hidup; kualitas hidup yang hakiki adalah perubahan; perubahan adalah evolusi; dan kita adalah bagian darinya’,” pungkas Dimitra.
Hal kedua, lanjut Dimitra, adalah adanya sebuah rezim komunis yang menunjukkan ketidakpedulian mencolok perihal rasa hormat terhadap kelompok pekerja, atau bahkan manusia. “Apakah rezim pada akhirnya akan membunuh kuda yang sudah tua di China?” tanya Dimitra, menggunakan analogi kuda untuk mewakili pekerja.
Perlindungan Data Pribadi
Pertanyaan ini mengarah pada kesimpulan langsung bahwa China adalah negara yang secara umum tidak memberikan perhatian semestinya pada penghormatan terhadap HAM. Hal ini dilakukan tidak hanya bagi warga negaranya (pada tingkat individu, baik kerja kolektif), tetapi juga bagi kaum minoritas yang tinggal di dalamnya, dengan warga Tibet dan Uighur menjadi kelompok minoritas paling menderita.
Komunitas internasional telah mengecam keras China terkait masalah Uighur, menyusul laporan tentang "kamp pendidikan ulang Uighur” yang terkenal kejam. China menyebutnya sebagai semacam sekolah asrama, tempat orang Uighur belajar bahasa Mandarin "dalam kondisi yang baik”. Namun, sejumlah testimoni merujuk pada dugaan terjadinya penganiayaan, penyiksaan, dan pengawasan.
“Jelas bahwa kita harus membentengi diri terhadap paradoks perjuangan global untuk perlindungan data pribadi dan privasi warga negara di satu sisi, dan di sisi lain, menerima kenyataan bahwa insiden seperti pelanggaran privasi mencolok di tempat kerja itu terjadi dari waktu ke waktu,” ungkap Dimitra.
“Tentu saja, kultur ‘woke’ telah berkontribusi, entah kita mau mengakuinya atau tidak, pada pengorbanan individu dan kolektif atas perlindungan data pribadi di altar pendokumentasian kehidupan kita dalam bentuk paparan berlebihan atas kehidupan kita, termasuk beredarnya banyak foto telanjang di media sosial,” sambungnya.
Di saat kaum perempuan berupaya keras memperkuat peran mereka secara global dalam masyarakat dan tempat kerja dan tampaknya terus berhasil, Bianca Sensori yang telanjang, ditemani suaminya, Kanye West, disingkirkan dari Grammy Awards karena pendirian mereka dalam mempromosikan objektifikasi tubuh perempuan telanjang.
“Jika kita tidak bereaksi, insiden seperti yang terjadi di China akan semakin banyak, dan seperti yang dikatakan John Windman dalam bukunya Chrysalis, ‘Kualitas hidup yang hakiki adalah hidup; kualitas hidup yang hakiki adalah perubahan; perubahan adalah evolusi; dan kita adalah bagian darinya’,” pungkas Dimitra.
(mas)
Lihat Juga :