Kronologi Venezuela Simpan 31 Ton Emas di Bank of England tapi Tak Bisa Diambil
Kamis, 16 Juli 2026 - 10:59 WIB
loading...
Venezuela menyimpan 31 ton emas di Bank of England selama bertahun-tahun, tapi aset itu tak bisa diambil kembali hingga sekarang. Foto/Caters News Agency
A
A
A
CARACAS - Di kedalaman sembilan ruang bawah tanah Bank of England di London, Inggris, tersimpan sekitar 400.000 batang emas milik berbagai negara dan bank sentral dunia. Di antara tumpukan logam mulia itu terdapat sekitar 31 ton emas milik Venezuela—aset bernilai lebih dari USD3 miliar (lebih dari Rp54 trilun) dengan harga emas saat ini.
Ironisnya, emas tersebut bukan dicuri, bukan hilang, dan bukan pula dijual. Emas itu masih berada di tempat semula, tetapi pemerintah Venezuela selama bertahun-tahun tidak dapat mengambilnya kembali.
Baca Juga: Venezuela Memohon kepada Raja Charles: Serahkan 31 Ton Emas yang Ditahan Inggris
Kasus ini menjadi salah satu sengketa cadangan devisa paling rumit di dunia karena melibatkan politik internasional, sanksi ekonomi, pengakuan terhadap pemerintahan suatu negara, hingga pertarungan hukum yang berlangsung bertahun-tahun.
Kini, setelah gempa kembar yang menewaskan 4.829 orang di Venezuela, presiden sementara Delcy Rodríguez bahkan memohon langsung kepada Raja Charles III agar emas tersebut dikembalikan.
Banyak negara tidak menyimpan seluruh cadangan emasnya di dalam negeri. Sebagian besar bank sentral memilih menyimpan emas di Bank of England, Federal Reserve New York, atau Swiss karena tiga alasan utama: keamanan fisik, kemudahan transaksi internasional, dan London merupakan pusat perdagangan emas terbesar di dunia.
Bank of England telah menjadi tempat penyimpanan emas berbagai negara selama lebih dari satu abad. Saat ini lembaga tersebut menyimpan sekitar 400.000 batang emas milik pemerintah dan bank sentral asing, sementara Bank of England sendiri hanya memiliki dua batang emas untuk koleksi museumnya.
Venezuela mulai menyimpan sebagian cadangan emasnya di London sejak dekade 1980-an. Saat hubungan Caracas dengan Barat masih normal, langkah itu dianggap lazim dalam pengelolaan cadangan devisa.
Situasi berubah ketika hubungan presiden revolusioner Venezuela Hugo Chavez dengan Amerika Serikat (AS) dan Eropa mulai memburuk.
Pada 2011, Chavez memerintahkan pemulangan sekitar 160 ton emas Venezuela dari berbagai bank asing. Dia khawatir aset negaranya dapat dibekukan apabila hubungan politik semakin memburuk.
Namun tidak semua emas dipulangkan. Sekitar 14 ton tetap berada di Bank of England karena masih digunakan dalam berbagai transaksi keuangan internasional.
Keputusan menyisakan emas di London inilah yang kemudian menjadi awal sengketa panjang.
Ketika hubungan Barat dengan Venezuela memburuk, Caracas mulai dijatuhi sanksi pada 2015.
Pada 2018, Venezuela ingin mengambil sisa emasnya karena ekonominya dilanda krisis yang parah. Produksi minyak merosot, inflasi melonjak hingga jutaan persen, dan cadangan devisa menyusut drastis.
Pemerintah Presiden Nicolas Maduro yang berkuasa kemudian meminta Bank of England mengembalikan sekitar 14 ton emas agar dapat digunakan menopang ekonomi negara.
Namun permintaan tersebut ditolak. Saat itu muncul kekhawatiran internasional bahwa dana hasil pencairan emas bisa digunakan pemerintah Maduro di tengah meningkatnya sanksi Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Awal 2019 situasi menjadi jauh lebih rumit. Venezuela menyelesaikan transaksi "gold swap" dengan Deutsche Bank sehingga emas yang sebelumnya menjadi jaminan kembali ke rekening Bank Sentral Venezuela di Bank of England.
Akibatnya, jumlah emas Venezuela yang berada di London meningkat menjadi sekitar 31 ton. Namun pada waktu yang hampir bersamaan muncul krisis politik besar.
Ironisnya, emas tersebut bukan dicuri, bukan hilang, dan bukan pula dijual. Emas itu masih berada di tempat semula, tetapi pemerintah Venezuela selama bertahun-tahun tidak dapat mengambilnya kembali.
Baca Juga: Venezuela Memohon kepada Raja Charles: Serahkan 31 Ton Emas yang Ditahan Inggris
Kasus ini menjadi salah satu sengketa cadangan devisa paling rumit di dunia karena melibatkan politik internasional, sanksi ekonomi, pengakuan terhadap pemerintahan suatu negara, hingga pertarungan hukum yang berlangsung bertahun-tahun.
Kini, setelah gempa kembar yang menewaskan 4.829 orang di Venezuela, presiden sementara Delcy Rodríguez bahkan memohon langsung kepada Raja Charles III agar emas tersebut dikembalikan.
Mengapa Venezuela Simpan Emas di Inggris?
Banyak negara tidak menyimpan seluruh cadangan emasnya di dalam negeri. Sebagian besar bank sentral memilih menyimpan emas di Bank of England, Federal Reserve New York, atau Swiss karena tiga alasan utama: keamanan fisik, kemudahan transaksi internasional, dan London merupakan pusat perdagangan emas terbesar di dunia.
Bank of England telah menjadi tempat penyimpanan emas berbagai negara selama lebih dari satu abad. Saat ini lembaga tersebut menyimpan sekitar 400.000 batang emas milik pemerintah dan bank sentral asing, sementara Bank of England sendiri hanya memiliki dua batang emas untuk koleksi museumnya.
Venezuela mulai menyimpan sebagian cadangan emasnya di London sejak dekade 1980-an. Saat hubungan Caracas dengan Barat masih normal, langkah itu dianggap lazim dalam pengelolaan cadangan devisa.
Situasi berubah ketika hubungan presiden revolusioner Venezuela Hugo Chavez dengan Amerika Serikat (AS) dan Eropa mulai memburuk.
Pada 2011, Chavez memerintahkan pemulangan sekitar 160 ton emas Venezuela dari berbagai bank asing. Dia khawatir aset negaranya dapat dibekukan apabila hubungan politik semakin memburuk.
Namun tidak semua emas dipulangkan. Sekitar 14 ton tetap berada di Bank of England karena masih digunakan dalam berbagai transaksi keuangan internasional.
Keputusan menyisakan emas di London inilah yang kemudian menjadi awal sengketa panjang.
Ketika hubungan Barat dengan Venezuela memburuk, Caracas mulai dijatuhi sanksi pada 2015.
Pada 2018, Venezuela ingin mengambil sisa emasnya karena ekonominya dilanda krisis yang parah. Produksi minyak merosot, inflasi melonjak hingga jutaan persen, dan cadangan devisa menyusut drastis.
Pemerintah Presiden Nicolas Maduro yang berkuasa kemudian meminta Bank of England mengembalikan sekitar 14 ton emas agar dapat digunakan menopang ekonomi negara.
Namun permintaan tersebut ditolak. Saat itu muncul kekhawatiran internasional bahwa dana hasil pencairan emas bisa digunakan pemerintah Maduro di tengah meningkatnya sanksi Amerika Serikat terhadap Venezuela.
Jumlah Emas Venezuela Jadi 31 Ton
Awal 2019 situasi menjadi jauh lebih rumit. Venezuela menyelesaikan transaksi "gold swap" dengan Deutsche Bank sehingga emas yang sebelumnya menjadi jaminan kembali ke rekening Bank Sentral Venezuela di Bank of England.
Akibatnya, jumlah emas Venezuela yang berada di London meningkat menjadi sekitar 31 ton. Namun pada waktu yang hampir bersamaan muncul krisis politik besar.
Lihat Juga :