China Investasikan Rp900 Triliun untuk Pelabuhan Afrika, Analis Soroti Risiko Utang

Jum'at, 17 Juli 2026 - 10:19 WIB
loading...
China Investasikan Rp900...
Doraleh Multipurpose Port, pelabuhan di Djibouti yang dibangun perusahaan China dengan dana pinjaman dari China Exim Bank. Ia hanya satu dari puluhan proyek Belt and Road Initiative China di Afrika. Foto/Belt and Road Portal
A A A
JAKARTA - China telah menginvestasikan sekitar USD50 miliar atau setara Rp900 triliun untuk pembangunan infrastruktur pelabuhan di Afrika sejak 2013. Langkah ini memperluas jejak ekonominya dari Laut Mediterania hingga Samudra Atlantik dan Hindia sebagai bagian dari Belt and Road Initiative (BRI).

Menurut berbagai estimasi, Beijing kini telah membiayai, membangun, memiliki saham, atau mengoperasikan sekitar 78 pelabuhan di 32 negara Afrika. Investasi tersebut tidak hanya mencakup fasilitas pelabuhan, tetapi juga jalur kereta api, kawasan industri, dan infrastruktur pendukung lainnya.

Baca Juga: Media China Gambarkan Orang Filipina sebagai Monyet, Manila Marah

Ekspansi ini membantu meningkatkan perdagangan antara Afrika dan China, yang dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi salah satu mitra dagang terbesar benua tersebut.

Namun sejumlah analis memperingatkan bahwa tingginya tingkat utang, minimnya transparansi perjanjian, dan meningkatnya ketergantungan teknologi dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang terhadap kedaulatan ekonomi negara-negara Afrika.

Peneliti dari Africa Center for Strategic Studies, Paul Nantulya, menilai penggunaan sistem otomatisasi dan kecerdasan buatan buatan China di pelabuhan-pelabuhan Afrika menciptakan ketergantungan finansial dan teknis yang berpotensi berlangsung selama beberapa dekade.

"Dalam beberapa kasus, muncul kekhawatiran bahwa perusahaan-perusahaan China dapat memperoleh pengaruh terhadap infrastruktur strategis melalui kepemilikan saham, sewa jangka panjang, atau perjanjian pengelolaan operasional," ujar Nantulya, seperti dikutip dari laman Africa Defense Forum, Jumat (17/7/2026).

Menurutnya, kekhawatiran tersebut diperkuat oleh terbatasnya akses publik terhadap isi perjanjian dan lemahnya mekanisme pengawasan di sejumlah negara.

Salah satu proyek yang kerap dijadikan contoh adalah Standard Gauge Railway di Kenya yang dibangun dengan dukungan pembiayaan China.

Jalur kereta tersebut awalnya dirancang untuk menghubungkan pelabuhan Mombasa dengan Uganda serta diperluas hingga Burundi, Rwanda, Republik Demokratik Kongo, dan Sudan Selatan.

Namun proyek tersebut berhenti sekitar 468 kilometer sebelum perbatasan Uganda dan sebagian jalurnya kini tidak dimanfaatkan secara optimal.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Media China Gambarkan...
Media China Gambarkan Orang Filipina sebagai Monyet, Manila Marah
Anggota Politbiro Partai...
Anggota Politbiro Partai Komunis China Dipecat karena Korupsi Skala Besar dan Skandal Seks
Perang Iran Terus Berkobar,...
Perang Iran Terus Berkobar, China Tuding AS Bawa Timur Tengah ke Jurang Maut
Operasi Siber China...
Operasi Siber China Diduga Targetkan Uyghur, Tibet, Hong Kong, dan Taiwan
Jepang Bentuk Badan...
Jepang Bentuk Badan Intelijen Baru untuk Pertama Kalinya sejak Perang Dunia II, Ini 5 Alasannya
Siapa Zhang Zhidong?...
Siapa Zhang Zhidong? Warga China yang Dituduh sebagai Raja Fentanyl Meksiko
Airlangga Bertolak ke...
Airlangga Bertolak ke Shanghai Tanda Tangani Pendirian WAICO
Iran Menggila! Markas...
Iran Menggila! Markas Jet Tempur F-18 AS di Pangkalan Udara Al-Azraq Yordania Dibombardir
Trump Enggan Beri Target...
Trump Enggan Beri Target Waktu untuk Iran: Mereka Sudah Paham!
Rekomendasi
Verifikasi Laporan Gratifikasi...
Verifikasi Laporan Gratifikasi Raja Juli Rampung, KPK: Kini Didalami di Tahap Penindakan
Khotbah Jumat Pertama...
Khotbah Jumat Pertama Bulan Safar : Bulan Penuh Kebaikan, Bukan Kesialan
Percepat Terbentuknya...
Percepat Terbentuknya Ekosistem Pasar Karbon Nasional yang Kredibel, Transparan, dan Berdaya Saing
Berita Terkini
Ini 2 Kapal Induk dan...
Ini 2 Kapal Induk dan 22 Kapal Perang AS yang Blokade Iran
Media China Gambarkan...
Media China Gambarkan Orang Filipina sebagai Monyet, Manila Marah
Wapres AS JD Vance:...
Wapres AS JD Vance: Epstein Terhubung dengan Level Tertinggi CIA dan Mossad
AS Mengebom Bandara...
AS Mengebom Bandara dan Jembatan Iran, Teheran: Seluruh Wilayah Timur Tengah Tanggung Akibatnya!
AS Lanjutkan Bombardir...
AS Lanjutkan Bombardir Iran 6 Hari Beruntun, Serang Bandara dan Jembatan
Iran Kritik Oman soal...
Iran Kritik Oman soal Pengumuman Koridor Pelayaran Selatan di Selat Hormuz
Infografis
Jadwal Imsakiyah Ramadan...
Jadwal Imsakiyah Ramadan 1447 H / 2026 M untuk Wilayah Jakarta
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved