Kiprah Jimmy Carter, Eks Presiden Amerika Serikat yang Meninggal di Usia Seabad
loading...
A
A
A
Pada bulan Juni 1979, dia dan pemimpin Soviet Leonid Brezhnev menandatangani perjanjian Strategic Arms Limitation Talks II (SALT II), yang berupaya untuk membatasi perlombaan senjata antara kedua negara adidaya tersebut.
Namun, perjanjian tersebut menghadapi kendala di Senat AS dan tidak pernah diratifikasi, sebagian besar karena meningkatnya ketegangan setelah invasi Soviet ke Afghanistan pada akhir tahun 1979.
Carter melihat perang Soviet di Afghanistan sebagai ancaman terhadap kepentingan Amerika di wilayah tersebut dan menerapkan beberapa tindakan terhadap Uni Soviet, termasuk sanksi ekonomi dan boikot Olimpiade Musim Panas 1980 di Moskow.
Dia kemudian memberi wewenang kepada CIA untuk secara diam-diam membantu melatih dan mempersenjatai para milisi mujahidin Islam anti-Soviet.
Bantuan rahasia kepada kaum Islamis tersebut berkontribusi pada penarikan pasukan Soviet dan kebangkitan Taliban.
Salah satu peristiwa yang paling menguji kepemimpinan Carter adalah krisis penyanderaan di Kedutaan Besar AS di Teheran, Iran.
Pada November 1979, 52 diplomat Amerika disandera oleh pengunjuk rasa Iran setelah penggulingan rezim Shah Iran dalam peristiwa yang dikenal sebagai Revolusi Islam.
Meskipun Carter berusaha melakukan negosiasi, penyanderaan itu berlanjut hingga akhir masa jabatannya dan berperan besar dalam kekalahannya pada pemilihan umum 1980.
Namun, perjanjian tersebut menghadapi kendala di Senat AS dan tidak pernah diratifikasi, sebagian besar karena meningkatnya ketegangan setelah invasi Soviet ke Afghanistan pada akhir tahun 1979.
3. Beri Mandat CIA Melatih Mujahidin Afghanistan
Carter melihat perang Soviet di Afghanistan sebagai ancaman terhadap kepentingan Amerika di wilayah tersebut dan menerapkan beberapa tindakan terhadap Uni Soviet, termasuk sanksi ekonomi dan boikot Olimpiade Musim Panas 1980 di Moskow.
Dia kemudian memberi wewenang kepada CIA untuk secara diam-diam membantu melatih dan mempersenjatai para milisi mujahidin Islam anti-Soviet.
Bantuan rahasia kepada kaum Islamis tersebut berkontribusi pada penarikan pasukan Soviet dan kebangkitan Taliban.
4. Krisis Teheran (1979–1981)
Salah satu peristiwa yang paling menguji kepemimpinan Carter adalah krisis penyanderaan di Kedutaan Besar AS di Teheran, Iran.
Pada November 1979, 52 diplomat Amerika disandera oleh pengunjuk rasa Iran setelah penggulingan rezim Shah Iran dalam peristiwa yang dikenal sebagai Revolusi Islam.
Meskipun Carter berusaha melakukan negosiasi, penyanderaan itu berlanjut hingga akhir masa jabatannya dan berperan besar dalam kekalahannya pada pemilihan umum 1980.
(mas)