Zelensky Frustrasi, Minta Rudal Tomahawk AS untuk Lawan Rusia tapi Dibocorkan Media

Kamis, 31 Oktober 2024 - 11:41 WIB
loading...
Zelensky Frustrasi,...
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky meminta rudal Tomahawk kepada Amerika Serikat untuk melawan Rusia. Foto/MC3 Jonathan Sunderman/US Navy
A A A
KYIV - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan rasa frustrasinya setelah media Barat membocorkan upayanya meminta rudal Tomahawk Amerika Serikat (AS) untuk melawan Rusia.

Permintaan itu sebenarnya salah satu poin rahasia dari "rencana kemenangan" yang dia sodorkan kepada para sekutu Barat-nya.

New York Times melaporkan minggu ini bahwa Kyiv telah meminta rudal jelajah Tomahawk kepada AS untuk menyerang target jauh di dalam Rusia.

Sumber surat kabar tersebut menggambarkan permintaan tersebut sebagai "sama sekali tidak layak".

Baca Juga: Rusia Marah karena AS Hendak Kerahkan Rudal Tomahawk dan Hipersonik ke Jerman

Penyediaan senjata tersebut, yang memiliki jangkauan hingga 2.400 km, digambarkan sebagai hal yang diperlukan untuk menjadi bagian dari pasukan pencegahan konvensional yang diminta oleh Zelensky.

Berbicara kepada wartawan Barat di Kyiv, Zelensky mengeluhkan bahwa permintaan untuk rudal Tomahawk telah menjadi pengetahuan umum.

"Itu adalah informasi rahasia antara Ukraina dan Gedung Putih," katanya, berbicara dalam bahasa Inggris pada Rabu.

Dia menafsirkan kebocoran itu berarti tidak ada kerahasiaan dalam komunikasi Kyiv dengan Washington.

Kyiv meminta lebih banyak senjata jarak jauh. "Dengan janji bahwa kami akan menggunakan [senjata itu] hanya jika Rusia tidak menghentikan perang," kata Zelensky.

Namun para pemimpin Barat mengatakan kepadanya bahwa itu akan menjadi eskalasi konflik.

Presiden Rusia Vladimir Putin telah memperingatkan AS dan sekutunya bahwa Moskow akan menganggap setiap serangan yang difasilitasi Barat jauh di dalam Rusia sebagai serangan oleh pihak-pihak yang memasok senjata.

Zelensky mengeklaim bahwa kebocoran informasi itu terjadi setelah banyak negara mendukung proposal "rencana kemenangan"-nya.

Namun, banyak laporan media Barat dan beberapa pejabat mengatakan bahwa sebagian besar proposal itu ditolak.

Proposal tersebut mengharuskan undangan segera bagi Ukraina untuk bergabung dengan NATO dan tindakan lain yang akan meningkatkan keterlibatan Barat dalam perang Ukraina melawan Rusia.

Pemimpin Ukraina itu tidak membantah keakuratan laporan New York Times. Pernyataan itu muncul saat dia mengomentari dugaan pengerahan pasukan Korea Utara di Rusia, yang tidak dikonfirmasi maupun dibantah oleh Moskow.

Pentagon menilai minggu ini bahwa Pyongyang telah mengirim sebanyak 10.000 tentara untuk pelatihan dan kemungkinan pengerahan melawan pasukan Ukraina di Wilayah Kursk Rusia, tempat Kyiv melancarkan serangan lintas perbatasan pada bulan Agustus.

Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa Ukraina harus melawan Korea Utara jika mereka menyeberang ke Ukraina.

Zelensky mengeklaim bahwa negaranya tidak memiliki kemungkinan untuk menyerang tentara Korea Utara di dalam wilayah Rusia.

"Itu berarti bahwa kita dapat mempertahankan tanah kita hanya ketika mereka menghancurkan tanah kita, ketika mereka sudah berada di tanah kita, ketika mereka menduduki tanah kita," katanya.

Pemimpin Ukraina mengakhiri pernyataannya dengan sebuah pertanyaan: "Apa yang akan dilakukan AS jika 100.000 tentara Korea Utara akan datang ke Ukraina?", tampaknya salah menyatakan angka yang dikutip dari Pentagon.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
Marahnya Warga Israel...
Marahnya Warga Israel atas Kesepakatan AS-Iran: Kami Dikhianati Trump, Ini Kesalahan Besar
Zelensky Ancam Serang...
Zelensky Ancam Serang Belarusia, Perang Rusia-Ukraina Bisa Meluas
Menkeu AS Sebut Zelensky...
Menkeu AS Sebut Zelensky Bajingan Kecil Bertingkah seperti Mr Bean yang Sakau
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz, Militer AS Waspada
Iran Tutup Lagi Selat...
Iran Tutup Lagi Selat Hormuz karena Israel Serang Lebanon
FIFA Gencar Berantas...
FIFA Gencar Berantas Ujaran Kebencian di Piala Dunia 2026
AS: Selat Hormuz Terbuka...
AS: Selat Hormuz Terbuka untuk Dilalui Semua Kapal Tanpa Biaya Tol
Trump Segera Gunakan...
Trump Segera Gunakan Pesawat Air Force One Hadiah dari Qatar, Tiba di Lanud Andrews
Rekomendasi
HUT ke-499 Jakarta,...
HUT ke-499 Jakarta, Transportasi Umum dan Tempat Wisata Gratis juga Berlaku bagi Warga KTP Non-DKI
Ditahan Curacao, Ekuador...
Ditahan Curacao, Ekuador Gagal Segel Tiket ke Babak Gugur Piala Dunia 2026
119 Pekebun Morowali...
119 Pekebun Morowali Ikuti Pelatihan Sawit di Palu, Fokus ISPO hingga Pemetaan Kebun
Berita Terkini
Raja Charles Inggris...
Raja Charles Inggris Akan Ungkap Tagihan Pajak Pribadinya, Berapa Besar?
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
Israel Bunuh Jurnalis...
Israel Bunuh Jurnalis Al Jazeera dalam Serangan Udara di Gaza, Menuduhnya Milisi Hamas
India Gempar, Seorang...
India Gempar, Seorang Ibu Diperkosa Beramai-ramai di Depan Anaknya
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
Marahnya Warga Israel...
Marahnya Warga Israel atas Kesepakatan AS-Iran: Kami Dikhianati Trump, Ini Kesalahan Besar
Infografis
3 Alasan Greenland Jadi...
3 Alasan Greenland Jadi Kunci AS untuk Perang Nuklir Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved