alexametrics

Tes Rudal Terlarang, China: AS Ingin Kembangkan Senjata Canggih

loading...
Tes Rudal Terlarang, China: AS Ingin Kembangkan Senjata Canggih
AS kembali melakukan uji coba rudal balistik berbasis darat yang sebelumnya dilarang oleh perjanjian INF. Foto/Istimewa
A+ A-
BEIJING - Uji coba rudal balistik berbasis darat yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) mengundang cibiran dari China. Beijing menilai uji coba itu adalah bukti jika AS memang telah merencanakan sebelumnya untuk keluar dari Perjanjian Nuklir Jarak Menengah (INF).

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying mengatakan, niat AS sebenarnya adalah membebaskan diri untuk mengembangkan rudal canggih dan mencari keuntungan militer sepihak.

Ia pun meminta masyarakat internasional harus "mempertajam matanya" dan bersama-sama menjaga sistem kendali senjata internasional saat ini.



Ia juga mendesak AS untuk meninggalkan mentalitas Perang Dingin dan pola pikir zero-sum game. Ia juga menyerukan agar AS berkontribusi pada keseimbangan dan stabilitas strategis global, serta perdamaian serta keamanan internasional dan regional seperti dilansir dari Xinhua, Sabtu (14/12/2019).

Pentagon telah melakukan dua uji coba rudal jelajah berbasis darat sejak AS menarik diri dari perjanjian INF pada Agustus lalu. Menteri Pertahanan AS Mark Esper mengatakan bahwa negara itu telah mulai mempersiapkan uji coba pada Februari ini. (Baca: AS Kembali Uji Coba Rudal Jelajah Jarak Menengah Berbasis Darat)

Perjanjian era Perang Dingin yang ditandatangani oleh AS dan Uni Soviet membatasi pengembangan, produksi, dan penyebaran rudal berbasis darat yang dapat menyerang di mana saja antara jarak 500 dan 5.500 kilometer.

Tes senjata ini dilakukan di tengah meningkatnya ketidakpastian tentang masa depan kendali senjata. Batasan perjanjian terakhir yang tersisa tentang senjata nuklir AS dan Rusia—perjanjian New START 2010—dijadwalkan berakhir pada Februari 2021. Perjanjian itu dapat diperpanjang selama lima tahun tanpa memerlukan negosiasi ulang persyaratan utamanya.

Namun, pemerintah Trump telah menunjukkan sedikit minat untuk memperpanjang perjanjian tersebut.
(ian)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak