Pemenang Pemilu Taiwan Akan Tentukan Nasib Perdamaian di Asia
Sabtu, 13 Januari 2024 - 15:59 WIB
loading...
Pemilu Taiwan menentukan nasib perdamaian di Asia. Foto/Reuters
A
A
A
TAIPEI - Pemungutan suara sedang berlangsung pada Sabtu (13/1/2024) dalam pemilihan presiden dan parlemen Taiwan yang telah dibingkai China sebagai pilihan antara perang dan perdamaian.
Taiwan telah menjadi negara demokrasi yang sukses sejak menyelenggarakan pemilihan presiden langsung pertamanya pada tahun 1996, yang merupakan puncak dari perjuangan selama puluhan tahun melawan pemerintahan otoriter dan darurat militer.
Partai Progresif Demokratik (DPP) yang berkuasa, yang memperjuangkan identitas Taiwan yang terpisah dan menolak klaim teritorial China, sedang mengupayakan masa jabatan ketiga dengan kandidatnya, Wakil Presiden saat ini, Lai Ching-te.
Berbicara kepada wartawan di kota selatan Tainan sebelum memberikan suara, Lai mendorong masyarakat untuk memberikan suara mereka.
“Setiap suara dihargai, karena ini adalah demokrasi yang diperoleh dengan susah payah di Taiwan,” katanya dalam sambutan singkatnya, dilansir Reuters.
Menjelang pemilu, China berulang kali mengecam Lai sebagai separatis berbahaya dan menolak seruan berulang kali darinya untuk melakukan pembicaraan. Lai mengatakan dia berkomitmen untuk menjaga perdamaian di Selat Taiwan, dan terus meningkatkan pertahanan pulau itu.
Baca Juga: Bukan Perang dengan China yang Ditakutkan Anak Muda Taiwan, tapi...
Taiwan telah menjadi negara demokrasi yang sukses sejak menyelenggarakan pemilihan presiden langsung pertamanya pada tahun 1996, yang merupakan puncak dari perjuangan selama puluhan tahun melawan pemerintahan otoriter dan darurat militer.
Partai Progresif Demokratik (DPP) yang berkuasa, yang memperjuangkan identitas Taiwan yang terpisah dan menolak klaim teritorial China, sedang mengupayakan masa jabatan ketiga dengan kandidatnya, Wakil Presiden saat ini, Lai Ching-te.
Berbicara kepada wartawan di kota selatan Tainan sebelum memberikan suara, Lai mendorong masyarakat untuk memberikan suara mereka.
“Setiap suara dihargai, karena ini adalah demokrasi yang diperoleh dengan susah payah di Taiwan,” katanya dalam sambutan singkatnya, dilansir Reuters.
Menjelang pemilu, China berulang kali mengecam Lai sebagai separatis berbahaya dan menolak seruan berulang kali darinya untuk melakukan pembicaraan. Lai mengatakan dia berkomitmen untuk menjaga perdamaian di Selat Taiwan, dan terus meningkatkan pertahanan pulau itu.
Baca Juga: Bukan Perang dengan China yang Ditakutkan Anak Muda Taiwan, tapi...
Lihat Juga :