Rudal AS Rp32 Miliar Melawan Drone Houthi Rp31 Juta, Amerika Bisa Rugi Besar
Kamis, 21 Desember 2023 - 12:44 WIB
loading...
Amerika Serikat bisa rugi besar karena melawan drone Houthi Yaman seharga Rp31 juta dengan rudal seharga Rp32 miliar per tembakan. Foto/REUTERS
A
A
A
WASHINGTON - Ketika kapal-kapal perang Amerika Serikat (AS) melakukan banyak "pembunuhan" terhadap drone dan rudal Houthi Yaman di Laut Merah, para pejabat Pentagon semakin khawatir.
Mereka semakin khawatir tidak hanya atas ancaman terhadap pasukan Angkatan Laut Amerika dan pelayaran internasional, namun juga meningkatnya biaya untuk menjaga keamanan kapal-kapal tersebut.
Menurut seorang pejabat Pentagon atau Departemen Pertahanan AS, kapal perusak Angkatan Laut AS telah menembak jatuh 38 drone dan beberapa rudal di Laut Merah selama dua bulan terakhir.
Itu terjadi ketika kelompok Houthi Yaman meningkatkan serangan terhadap kapal komersial yang mengangkut energi dan minyak melalui jalur pelayaran paling vital di dunia.
Baca Juga: Pemimpin Houthi Yaman Ancam Serang Kapal Perang AS
Pada hari Sabtu pekan lalu saja, kapal perusak USS Carney menembak jatuh 14 drone serang satu arah yang diluncurkan Houthi Yaman.
Para pemimpin Houthi mengatakan serangan itu adalah bentuk dukungan mereka terhadap Palestina, dan mereka tidak akan berhenti sampai Israel menghentikan operasinya di Gaza.
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin pada hari Senin mengumumkan koalisi maritim internasional baru untuk melindungi pelayaran di Laut Merah dan melawan serangan Houthi Yaman.
Biaya penggunaan rudal Angkatan Laut Amerika yang mahal—yang bisa mencapai USD2,1 juta (lebih dari Rp32 miliar) per tembakan—untuk menghancurkan drone Houthi yang tidak canggih—diperkirakan mencapai beberapa USD2.000 (lebih dari Rp31 juta) per unit—semakin mengkhawatirkan, menurut tiga pejabat Pentagon lainnya.
Para pejabat tersebut, seperti pejabat lain yang diwawancarai untuk laporan ini, tidak disebutkan namanya untuk menggambarkan operasi sensitif dan pertimbangan internal.
“Penggantian biaya tidak ada di pihak kami,” kata salah satu pejabat Departemen Pertahanan AS.
Para pakar mengatakan ini adalah masalah yang perlu diatasi, dan mendesak Departemen Pertahanan Amerika untuk mulai mencari opsi pertahanan udara yang berbiaya lebih rendah.
“Hal ini dengan cepat menjadi masalah karena keuntungan terbesar, bahkan jika kita berhasil menembak jatuh rudal dan drone mereka, tetap menguntungkan mereka,” kata Mick Mulroy, mantan pejabat Departemen Pertahanan dan perwira CIA.
Mereka semakin khawatir tidak hanya atas ancaman terhadap pasukan Angkatan Laut Amerika dan pelayaran internasional, namun juga meningkatnya biaya untuk menjaga keamanan kapal-kapal tersebut.
Menurut seorang pejabat Pentagon atau Departemen Pertahanan AS, kapal perusak Angkatan Laut AS telah menembak jatuh 38 drone dan beberapa rudal di Laut Merah selama dua bulan terakhir.
Itu terjadi ketika kelompok Houthi Yaman meningkatkan serangan terhadap kapal komersial yang mengangkut energi dan minyak melalui jalur pelayaran paling vital di dunia.
Baca Juga: Pemimpin Houthi Yaman Ancam Serang Kapal Perang AS
Pada hari Sabtu pekan lalu saja, kapal perusak USS Carney menembak jatuh 14 drone serang satu arah yang diluncurkan Houthi Yaman.
Para pemimpin Houthi mengatakan serangan itu adalah bentuk dukungan mereka terhadap Palestina, dan mereka tidak akan berhenti sampai Israel menghentikan operasinya di Gaza.
Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin pada hari Senin mengumumkan koalisi maritim internasional baru untuk melindungi pelayaran di Laut Merah dan melawan serangan Houthi Yaman.
Biaya penggunaan rudal Angkatan Laut Amerika yang mahal—yang bisa mencapai USD2,1 juta (lebih dari Rp32 miliar) per tembakan—untuk menghancurkan drone Houthi yang tidak canggih—diperkirakan mencapai beberapa USD2.000 (lebih dari Rp31 juta) per unit—semakin mengkhawatirkan, menurut tiga pejabat Pentagon lainnya.
Para pejabat tersebut, seperti pejabat lain yang diwawancarai untuk laporan ini, tidak disebutkan namanya untuk menggambarkan operasi sensitif dan pertimbangan internal.
“Penggantian biaya tidak ada di pihak kami,” kata salah satu pejabat Departemen Pertahanan AS.
Para pakar mengatakan ini adalah masalah yang perlu diatasi, dan mendesak Departemen Pertahanan Amerika untuk mulai mencari opsi pertahanan udara yang berbiaya lebih rendah.
“Hal ini dengan cepat menjadi masalah karena keuntungan terbesar, bahkan jika kita berhasil menembak jatuh rudal dan drone mereka, tetap menguntungkan mereka,” kata Mick Mulroy, mantan pejabat Departemen Pertahanan dan perwira CIA.
Lihat Juga :