Filipina Minta ICC Buka Kembali Penyelidikan Soal Perang Narkoba Era Duterte

Jum'at, 27 Januari 2023 - 16:00 WIB
loading...
Filipina Minta ICC Buka...
Filipina Minta ICC Buka Kembali Penyelidikan Soal Perang Narkoba Era Duterte. FOTO/Reuters
A A A
MANILA - Pemerintah Filipina bermaksud mengajukan banding atas keputusan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) untuk membuka kembali penyelidikan atas kampanye anti-narkoba brutal Manila, yang menewaskan ribuan orang.

Pengadilan yang berbasis di Den Haag meluncurkan penyelidikan pada 2019, tetapi menangguhkannya akhir tahun itu atas permintaan Rodrigo Duterte, Presiden Filipina saat itu. Duterte telah meluncurkan tindakan keras pada 2016, dengan Manila mengatakan akan memeriksa kembali kasus-kasus dugaan pelanggaran.

Baca: Duterte: Saya Tidak Akan Pernah Meminta Maaf Atas Kematian di Perang Narkoba

Mengumumkan dimulainya kembali penyelidikan pada Kamis (26/1/2023), ICC mengatakan, majelis praperadilannya "tidak puas bahwa Filipina melakukan penyelidikan yang relevan, yang akan menjamin penangguhan penyelidikan pengadilan".

"Ini adalah niat kami untuk menyelesaikan upaya hukum kami, terutama mengangkat masalah ini ke ruang banding ICC," kata Menardo Guevarra, Kepala Pengacara pemerintahan Presiden Ferdinand Marcos Jr, seperti dikutip dari AFP.

Secara resmi, 6.181 orang tewas dalam "perang melawan narkoba" Duterte, tetapi kelompok hak asasi mengatakan bahwa hingga 30.000 orang mungkin telah terbunuh. Beberapa korban diyakini tidak bersalah, dan korupsi merajalela di antara pasukan keamanan yang bertindak tanpa hukuman.

Presiden Marcos Jr, yang terpilih dengan telak tahun lalu, telah berjanji untuk melanjutkan perang narkoba, tetapi dengan fokus pada pencegahan dan rehabilitasi. Sejauh ini Marcos Jr mengesampingkan keputusan Duterte untuk menarik Filipina keluar dari ICC.

Baca: Duterte Sentil Putin: Saya Membunuh Penjahat, Bukan Anak-anak dan Orang Tua

"Kami ingin menekankan bahwa proses penyelidikan dan peradilan dalam negeri kami sendiri harus didahulukan" daripada ICC,” lanjut Guevarra.

"Kami dapat menunjukkan bahwa terlepas dari keterbatasan struktural dan sumber daya dalam sistem hukum kami, itu masih merupakan sistem yang berfungsi dengan baik yang memberikan hasil positif pada waktunya," tambahnya.

Namun, kelompok hak asasi menyambut baik pengumuman ICC, dan menuduh pembunuhan terus berlanjut di bawah Marcos.

"Ini benar-benar berita yang sangat disambut baik yang datang seperti halnya di tengah impunitas yang terus berlanjut, memori selektif dan penyangkalan yang diatur oleh pemerintah dulu dan sekarang," ujar Ketua National Union of People's Lawyers, Edre Olalia.

Baca: Marcos Jr Tunjuk Pensiunan Jenderal Jadi Panglima Militer Filipina

Kelompok tersebut mewakili beberapa keluarga tersangka yang tewas dalam beberapa kasus yang diadili di pengadilan Filipina melawan petugas polisi.

Olalia mengatakan, pengumuman ICC "memvalidasi" pernyataan kerabat tersangka yang terbunuh bahwa "tidak ada langkah yang memadai dan efektif untuk mencapai keadilan konkret bagi mereka di lapangan, meskipun klaim resmi sebaliknya".

Hanya tiga petugas polisi yang dihukum karena pembunuhan perang narkoba yang melanggar hukum, sementara petugas polisi lainnya dipenjara pada November tahun lalu karena menanam bukti dan menyiksa dua remaja yang tewas pada puncak tindakan keras.
(esn)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Gempa Guncang Filipina,...
Gempa Guncang Filipina, 15 Orang Tewas
Gempa Magnitudo 8,1...
Gempa Magnitudo 8,1 Guncang Filipina, Peringatan Tsunami Dikeluarkan, Warga Kocar-kacir Selamatkan Diri
Bermusuhan dengan China,...
Bermusuhan dengan China, Negara Tetangga Indonesia Ini Tingkatkan Anggaran Militernya
Diburu ICC, Sekutu Duterte...
Diburu ICC, Sekutu Duterte Diperingatkan Tak Kabur dari Filipina
Berkonflik dengan Presiden...
Berkonflik dengan Presiden Marcos Jr, Wapres Sara Duterte Terancam Dimakzulkan
Para Pemimpin Asia Tenggara...
Para Pemimpin Asia Tenggara Bahas Cara Hadapi Dampak Perang Iran di KTT ASEAN
Perkuat Kolaborasi Kampus,...
Perkuat Kolaborasi Kampus, MNC University Inisiasi Konsorsium Perguruan Tinggi ASEAN
Serangan Rusia Tewaskan...
Serangan Rusia Tewaskan 9 Orang di Ukraina, Katedral Bersejarah Kyiv Terbakar
Pesawat Air Force One...
Pesawat Air Force One Hadiah dari Qatar untuk Trump Diuji Terbang
Rekomendasi
Rekor 32 Tahun Tumbang...
Rekor 32 Tahun Tumbang di Piala Dunia 2026
Libatkan Mahasiswa saat...
Libatkan Mahasiswa saat Kunker, Gibran Dinilai Perkuat Dialog dan Partisipasi Publik
Jakarta Rawan Sinkhole,...
Jakarta Rawan Sinkhole, Wagub DKI Rano: Ada Daerah Berpotensi Ambles
Berita Terkini
Swiss: Perundingan AS...
Swiss: Perundingan AS dan Iran Berlanjut di Burgenstock
Warga Moskow Sudah Merasakan...
Warga Moskow Sudah Merasakan Perang Ukraina di Depan Halaman Rumah
Israel Terus Serang...
Israel Terus Serang Lebanon, Utusan AS Kirim Negosiator ke Jenewa
3 Penyebab Batalnya...
3 Penyebab Batalnya Penandatanganan Perjanjian Damai AS dan Iran
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Demo Anti-Pemerintah...
Demo Anti-Pemerintah Digelar selama 50 Hari, Bolivia Deklarasikan Status Darurat
Infografis
Ancaman Perang Kian...
Ancaman Perang Kian Nyata, 8 Negara Minta Warganya Tinggalkan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved