Nasib Devadasi India: Korbankan Keperawanan, Jadi Budak Seks atas Nama Sang Dewi
Selasa, 24 Januari 2023 - 09:52 WIB
loading...
Para anak gadis di India yang dijadikan devadesi dipaksa mengorbankan keperawanan kepada pria yang lebih tua dan hidupnya menjadi budak seks atas nama sang Dewi. Praktik ini telah dilarang tapi masih terjadi. Foto/via Ground Report
A
A
A
NEW DELHI - Didedikasikan untuk seorang Dewi India sebagai seorang anak gadis, tahun-tahun perbudakan seksual Huvakka Bhimappa dimulai ketika pamannya mengambil keperawanannya , memerkosanya untuk ditukar dengan saree dan beberapa perhiasan.
Bhimappa belum berusia 10 tahun ketika dia menjadi "devadasi"--gadis-gadis yang dipaksa oleh orang tua mereka untuk melakukan ritual pernikahan yang rumit dengan Dewa Hindu, banyak dari mereka kemudian dipaksa melakukan prostitusi ilegal.
Devadasi diharapkan menjalani kehidupan yang taat beragama, dilarang menikahi manusia lain, dan dipaksa saat pubertas untuk mengorbankan keperawanan mereka kepada pria yang lebih tua, dengan imbalan uang atau hadiah.
"Dalam kasus saya, itu adalah saudara laki-laki ibu saya," kata Bhimappa, yang kini berusia akhir 40-an tahun, kepada AFP, yang dilansir Selasa (24/1/2023).
Yang terjadi selanjutnya adalah perbudakan seksual selama bertahun-tahun, menghasilkan uang untuk keluarganya melalui pertemuan dengan pria lain atas nama melayani sang Dewi.
Baca juga: Diperkosa Tetangga sebelum Pernikahan, Pengantin Ini Dipaksa Tes Keperawanan
Bhimappa akhirnya lolos dari perbudakan seks tetapi tanpa pendidikan, dia menghasilkan sekitar uang setara satu dolar Amerika Serikat sehari dengan bekerja keras di ladang.
Waktunya sebagai pemuja Dewi Hindu; Yellamma, juga membuatnya dikucilkan di mata komunitasnya.
Dia pernah mencintai seorang pria, tetapi tidak terpikirkan olehnya untuk memintanya menikah.
"Jika saya bukan seorang devadasi, saya akan memiliki keluarga, anak, dan sejumlah uang. Saya akan hidup dengan baik," katanya.
Devadasi telah menjadi bagian integral dari budaya India selatan selama berabad-abad dan pernah menikmati tempat terhormat di masyarakat.
Banyak yang berpendidikan tinggi, terlatih dalam tarian dan musik klasik, menjalani kehidupan yang nyaman dan memilih pasangan seksual mereka sendiri.
"Gagasan tentang perbudakan seksual yang disetujui secara agama bukanlah bagian dari sistem patronase asli," kata sejarawan Gayathri Iyer kepada AFP.
Iyer mengatakan bahwa pada abad ke-19, selama era kolonial Inggris, pakta ke-Tuhan-an antara devadasi dan Dewi berkembang menjadi institusi eksploitasi seksual.
Sekarang ini berfungsi sebagai sarana bagi keluarga yang dilanda kemiskinan dari hierarki kasta kaku India yang paling bawah untuk membebaskan diri dari tanggung jawab atas anak perempuan mereka.
Bhimappa belum berusia 10 tahun ketika dia menjadi "devadasi"--gadis-gadis yang dipaksa oleh orang tua mereka untuk melakukan ritual pernikahan yang rumit dengan Dewa Hindu, banyak dari mereka kemudian dipaksa melakukan prostitusi ilegal.
Devadasi diharapkan menjalani kehidupan yang taat beragama, dilarang menikahi manusia lain, dan dipaksa saat pubertas untuk mengorbankan keperawanan mereka kepada pria yang lebih tua, dengan imbalan uang atau hadiah.
"Dalam kasus saya, itu adalah saudara laki-laki ibu saya," kata Bhimappa, yang kini berusia akhir 40-an tahun, kepada AFP, yang dilansir Selasa (24/1/2023).
Yang terjadi selanjutnya adalah perbudakan seksual selama bertahun-tahun, menghasilkan uang untuk keluarganya melalui pertemuan dengan pria lain atas nama melayani sang Dewi.
Baca juga: Diperkosa Tetangga sebelum Pernikahan, Pengantin Ini Dipaksa Tes Keperawanan
Bhimappa akhirnya lolos dari perbudakan seks tetapi tanpa pendidikan, dia menghasilkan sekitar uang setara satu dolar Amerika Serikat sehari dengan bekerja keras di ladang.
Waktunya sebagai pemuja Dewi Hindu; Yellamma, juga membuatnya dikucilkan di mata komunitasnya.
Dia pernah mencintai seorang pria, tetapi tidak terpikirkan olehnya untuk memintanya menikah.
"Jika saya bukan seorang devadasi, saya akan memiliki keluarga, anak, dan sejumlah uang. Saya akan hidup dengan baik," katanya.
Devadasi telah menjadi bagian integral dari budaya India selatan selama berabad-abad dan pernah menikmati tempat terhormat di masyarakat.
Banyak yang berpendidikan tinggi, terlatih dalam tarian dan musik klasik, menjalani kehidupan yang nyaman dan memilih pasangan seksual mereka sendiri.
"Gagasan tentang perbudakan seksual yang disetujui secara agama bukanlah bagian dari sistem patronase asli," kata sejarawan Gayathri Iyer kepada AFP.
Iyer mengatakan bahwa pada abad ke-19, selama era kolonial Inggris, pakta ke-Tuhan-an antara devadasi dan Dewi berkembang menjadi institusi eksploitasi seksual.
Sekarang ini berfungsi sebagai sarana bagi keluarga yang dilanda kemiskinan dari hierarki kasta kaku India yang paling bawah untuk membebaskan diri dari tanggung jawab atas anak perempuan mereka.
Lihat Juga :