Gawat, Perang Iran Bisa Picu Krisis Dunia
Selasa, 05 Januari 2021 - 10:15 WIB
Jika perang AS-Iran yang terjadi, maka negara yang diuntungkan adalah Saudi dan Israel. “Trump selalu ditekan aliansi kuncinya di Timur Tengah untuk bertindak terhadap Iran,” kata Danny Postel, asisten direktur Center for International and Area Studies di Universitas Northwestern, dilansir Al Jazeera.
Postel mengungkapkan, Trump sangat terluka dan terpojok pada skenario akhir permainan karena dia memiliki kesempatan beberapa pekan lalu. Namun, Trump bsia saja melakukan tindakan berbahaya. “Itu mungkin sebagai kasus yang paling berbahaya,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, informasi intelijen di Iran mengindikasikan agen Israel akan memprovokasi dengan menyerang fasilitas AS. Itu bertujuan agar Trump bisa menyerang Iran. “Trump harus hati-hati dengan jebakan itu,” katanya. Namun, Zarif tidak mengungkapkan bukti tersebut. (Baca juga: Positif Covid, Kevin Sanjaya Batal Tampil di Thailand Open)
Namun demikian, ancaman perang Iran-AS masih tetap di depan mata. Barbara Slavin, Direktur Future of Iran Initiative at the Atlantic Council, mengatakan bahwa ancaman perang masih terbuka lebar karena Trump dan Israel telah menempatkan banyak aset di Timur Tengah. “Konflik itu akan memiliki klimaks yang menakutkan jika AS gagal menerapkan kebijakan maksimum,” kata Slavin.
Bagaimana pintu diplomasi? Slavin menilai, pintu diplomasi masih terbuka lebar karena pada Juni mendatang akan digelar pemilu presiden. “Diplomasi merupakan cara efektif untuk menekan aktivitas nuklir Iran,” sarannya. Diplomasi, kata dia, menjadi salah satu cara paling sensitif untuk menghadapi Iran.
Dalam pandangan Simon Tisdall, analis Iran, pembunuhan terhadap ilmuwan Iran memicu dugaan kalau Trump dan aliansinya terutama Israel dan Arab Saudi, mencoba untuk mengajak rezim Teheran melakukan konfrontasi total. "Trump masih memiliki kekuasaan untuk memicu kerusakan. Itu akan dianggap sebagai klimaks dalam kebijakannya terhadap Iran," katanya dilansir The Guardian. (Lihat videonya: Bangkai Pesawat Diduga Air Asia Ditemukan di Kalteng)
Sebenarnya bukan Trump semata yang ingin berperang melawan Iran. Adalah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu yang memiliki kepentingan dengan kekuatan nuklir di Iran. Netanyahu juga menjadikan isu Iran untuk komoditas politik di dalam negerinya. Apalagi, dia akan menghadapi pemilu tahun depan. Dia pun telah kehilangan sekutu sejatinya, yakni Trump, yang harus lengser pada pertengahan Januari mendatang.
"Israel tidak ingin berperang sendiri melawan Iran," kata Nick Paton Walsh, analis politik Timur Tengah dilansir CNN. Dia mengungkapkan, Israel tidak ingin menghadapi misil Iran dari utara dan selatan, meskipun mereka memiliki sistem perlindungan misil yang canggih. (Andika H Mustaqim)
Postel mengungkapkan, Trump sangat terluka dan terpojok pada skenario akhir permainan karena dia memiliki kesempatan beberapa pekan lalu. Namun, Trump bsia saja melakukan tindakan berbahaya. “Itu mungkin sebagai kasus yang paling berbahaya,” katanya.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengatakan, informasi intelijen di Iran mengindikasikan agen Israel akan memprovokasi dengan menyerang fasilitas AS. Itu bertujuan agar Trump bisa menyerang Iran. “Trump harus hati-hati dengan jebakan itu,” katanya. Namun, Zarif tidak mengungkapkan bukti tersebut. (Baca juga: Positif Covid, Kevin Sanjaya Batal Tampil di Thailand Open)
Namun demikian, ancaman perang Iran-AS masih tetap di depan mata. Barbara Slavin, Direktur Future of Iran Initiative at the Atlantic Council, mengatakan bahwa ancaman perang masih terbuka lebar karena Trump dan Israel telah menempatkan banyak aset di Timur Tengah. “Konflik itu akan memiliki klimaks yang menakutkan jika AS gagal menerapkan kebijakan maksimum,” kata Slavin.
Bagaimana pintu diplomasi? Slavin menilai, pintu diplomasi masih terbuka lebar karena pada Juni mendatang akan digelar pemilu presiden. “Diplomasi merupakan cara efektif untuk menekan aktivitas nuklir Iran,” sarannya. Diplomasi, kata dia, menjadi salah satu cara paling sensitif untuk menghadapi Iran.
Dalam pandangan Simon Tisdall, analis Iran, pembunuhan terhadap ilmuwan Iran memicu dugaan kalau Trump dan aliansinya terutama Israel dan Arab Saudi, mencoba untuk mengajak rezim Teheran melakukan konfrontasi total. "Trump masih memiliki kekuasaan untuk memicu kerusakan. Itu akan dianggap sebagai klimaks dalam kebijakannya terhadap Iran," katanya dilansir The Guardian. (Lihat videonya: Bangkai Pesawat Diduga Air Asia Ditemukan di Kalteng)
Sebenarnya bukan Trump semata yang ingin berperang melawan Iran. Adalah Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu yang memiliki kepentingan dengan kekuatan nuklir di Iran. Netanyahu juga menjadikan isu Iran untuk komoditas politik di dalam negerinya. Apalagi, dia akan menghadapi pemilu tahun depan. Dia pun telah kehilangan sekutu sejatinya, yakni Trump, yang harus lengser pada pertengahan Januari mendatang.
"Israel tidak ingin berperang sendiri melawan Iran," kata Nick Paton Walsh, analis politik Timur Tengah dilansir CNN. Dia mengungkapkan, Israel tidak ingin menghadapi misil Iran dari utara dan selatan, meskipun mereka memiliki sistem perlindungan misil yang canggih. (Andika H Mustaqim)
(ysw)
Lihat Juga :