Apa Arti Anti-Semit yang Selalu Ditudingkan pada Pendukung Palestina?

Rabu, 21 Agustus 2024 - 13:01 WIB

Banyak Akademisi Pro-Palestina Dipecat



ELSC mendokumentasikan 53 tuduhan anti-Semitisme berdasarkan definisi IHRA antara tahun 2017 dan 2022 di Austria, Jerman, dan Inggris, sebagian besar ditujukan kepada warga Palestina, aktivis Yahudi, dan organisasi yang mengadvokasi hak-hak Palestina.

Definisi kerja IHRA (dikenal sebagai IHRA WDA) tentang anti-Semitisme adalah “tidak mengikat secara hukum”, tetapi pemerintah Eropa serta lembaga publik dan swasta menggunakan definisi tersebut seolah-olah itu adalah hukum.

"Ketika digugat secara hukum, sebagian besar tuduhan anti-Semitisme ini ditolak karena tidak berdasar," ungkap laporan itu.

Banyak reputasi tertuduh yang hancur. Anna Younes, pakar kebijakan dan peneliti independen yang tinggal di Jerman, mengatakan kariernya hancur setelah menerbitkan artikel yang menentang serangan Israel di Jalur Gaza pada tahun 2014.

"Reputasi saya di depan publik adalah sebagai seorang anti-Semit dan karier akademis saya di negara ini sudah berakhir... Saya pada dasarnya diabaikan atau dikesampingkan sepenuhnya," ujar Younes kepada Al Jazeera.

Dia mengaku tidak lagi diundang untuk berpartisipasi dalam panel atau menjalankan lokakarya karena penyelenggara khawatir bahwa bergaul dengannya akan membahayakan pendanaan publik mereka.

"Klausul negara untuk pendanaan di Berlin, misalnya, menyatakan pendanaan negara dapat dicabut dari lembaga jika orang atau kelompok yang mendukung BDS diundang," jelas dia, mengacu pada gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi sipil yang pro-Palestina.

Pada tahun 2019, Younes tidak diundang dalam diskusi panel yang diselenggarakan Partai Sosialis Demokratik Die Linke setelah penyelenggara menerima berkas rahasia beberapa jam sebelum acara berlangsung.

Berkas tersebut disusun oleh Pusat Penelitian dan Informasi tentang Anti-Semitisme Berlin dan Layanan Konseling Bergerak Melawan Ekstremisme Sayap Kanan Berlin.

Berkas tersebut menuduh Younes sebagai seorang anti-Semit, simpatisan "teroris", dan seorang seksis berdasarkan makalah yang ditulisnya tentang gerakan perempuan di Hamas, kelompok yang memerintah Jalur Gaza.

“Jelas dari pernyataan itu bahwa mereka tidak pernah membaca artikel tersebut,” ujar Younes. “Juga menjadi jelas bahwa representasi diri dan kami menulis tentang subjek kami sendiri sudah menjadi alasan yang cukup untuk dituduh mendukung (ekstremisme) dan seksisme.”

“Itu salah satu cara untuk mematikan peredaran pengetahuan di publik, dengan meminggirkan dan menstigmatisasi kami dengan cara seperti itu hingga tidak ada yang akan mengundang kami untuk berbicara di depan umum lagi,” papar dia.

IHRA WDA dan PBB

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!