Akankah Falcon menjadi Wagnernya Mesir? Berikut 5 Kontroversinya
Sabtu, 02 Desember 2023 - 19:51 WIB
Falcon menjadi tentara bayaran di Mesir yang meniru konsep Wagner dari Rusia. Foto/Middle East Monitor/Facebook
GAZA - Berbagai hal mulai bermunculan di Mesir , dalam rangka merumuskan peran baru, yang mungkin mencurigakan. Kenapa? sebuah perusahaan keamanan besar, yang memiliki hubungan dengan pemerintah, departemen keamanan dan intelijen, di tengah kekhawatiran besar bahwa tugas-tugas kotor dan rahasia akan diberikan kepadanya di masa mendatang.
Timbul pertanyaan tentang sifat tugas Kelompok Keamanan dan Penjagaan Falcon, yang secara eksplisit mengumumkan partisipasinya dalam kampanye untuk mendukung dan menjamin masa jabatan presiden ketiga bagi presiden saat ini, Abdel Fattah Al-Sisi.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin banyak muncul karena ketidakjelasan seputar aktivitas perusahaan, mekanisme kerja, formasi, laporan keuangan, tugas yang diberikan kepadanya, dan sifat penanggung jawab pengelolaannya.
Menurut sumber informasi yang berbicara kepada Middle East Monitor tanpa menyebut nama, perusahaan tersebut tidak terdaftar di bursa saham, tidak tunduk pada pengawasan keuangan atau hukum apa pun, dan cakupan atau sifat kegiatannya tidak diketahui.
Menurut situs web perusahaan, layanan Falcon mencakup perlindungan fasilitas, perlindungan pribadi, dukungan dan intervensi cepat, konsultasi keamanan, keamanan acara publik, keamanan industri, keamanan wanita, anjing penjaga, dan pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja.
Baca Juga: 3 Pintu Perbatasan Jalur Masuk Bantuan ke Gaza, Mana yang Masih Berfungsi?
Perusahaan ini dianggap yang terbesar di bidang keamanan, dengan total kontrak lebih dari dua miliar pound Mesir (USD65 juta), dan paling berpengaruh, mengingat sejumlah besar pensiunan jenderal dan perwira militer, intelijen dan polisi memegang posisi senior di dalamnya. Ketua Dewan Direksinya adalah mantan Wakil Sekretaris Badan Intelijen, Jenderal Khaled Sharif.
Timbul pertanyaan tentang sifat tugas Kelompok Keamanan dan Penjagaan Falcon, yang secara eksplisit mengumumkan partisipasinya dalam kampanye untuk mendukung dan menjamin masa jabatan presiden ketiga bagi presiden saat ini, Abdel Fattah Al-Sisi.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut semakin banyak muncul karena ketidakjelasan seputar aktivitas perusahaan, mekanisme kerja, formasi, laporan keuangan, tugas yang diberikan kepadanya, dan sifat penanggung jawab pengelolaannya.
Berikut adalah 9 kontroversi Falcon yang meniru konsep Wagner.
1. Diuntungkan karena Kudeta Militer
Melansir Middle East Monitor. Grup keamanan (yang mencakup tujuh perusahaan) bukanlah hal baru. Didirikan pada tahun 2006, namun perannya meningkat setelah kudeta militer pada 3 Juli 2013 yang dilakukan oleh Al-Sisi yang saat itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan.Menurut sumber informasi yang berbicara kepada Middle East Monitor tanpa menyebut nama, perusahaan tersebut tidak terdaftar di bursa saham, tidak tunduk pada pengawasan keuangan atau hukum apa pun, dan cakupan atau sifat kegiatannya tidak diketahui.
Menurut situs web perusahaan, layanan Falcon mencakup perlindungan fasilitas, perlindungan pribadi, dukungan dan intervensi cepat, konsultasi keamanan, keamanan acara publik, keamanan industri, keamanan wanita, anjing penjaga, dan pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja.
Baca Juga: 3 Pintu Perbatasan Jalur Masuk Bantuan ke Gaza, Mana yang Masih Berfungsi?
2. Menekan Demonstrasi di Kampus
Kelompok ini memainkan peran penting dalam menekan demonstrasi universitas-universitas Mesir yang menentang kudeta, dan menangkap ratusan mahasiswa, selain perannya dalam mengamankan fasilitas umum, bandara, klub, kedutaan asing, pejabat terkemuka dan acara politik, olahraga dan seni.3. Mendapatkan Kontrak Bernilai Jutaan Dolar
Perusahaan ini dianggap yang terbesar di bidang keamanan, dengan total kontrak lebih dari dua miliar pound Mesir (USD65 juta), dan paling berpengaruh, mengingat sejumlah besar pensiunan jenderal dan perwira militer, intelijen dan polisi memegang posisi senior di dalamnya. Ketua Dewan Direksinya adalah mantan Wakil Sekretaris Badan Intelijen, Jenderal Khaled Sharif.
Lihat Juga :