9 Pemimpin Militer Paling 'Berdarah' Sepanjang Sejarah

Senin, 27 Juli 2020 - 06:35 WIB
Setidaknya 10.000 orang dibantai karena aksinya. Dalam satu sesi eksekusi, Blokhin bisa membantai 300 orang dengan cepat. (Baca juga: Jejak Revolusi Paling Berpengaruh di Dunia)

Kepiawaiannya dalam membunuh membuat Stalin sangat bangga. Bahkan dia mendapatkan penghargaan cukup tinggi dari pemerintah. Meski tenar dan mendapatkan banyak posisi terbaik, Vasili justru mengakhiri hidupnya dengan gantung diri pada 1955 saat usianya menginjak 60 tahun

4. Oskar Dirlewanger (Pemimpin Militer Nazi)



Oskar adalah pemimpin militer SS Nazi yang disebut-sebut memiliki mental tidak stabil, fanatik dan pecandu alcohol. Dia dan tentaranya membantai dan memperkosa ribuan orang di Jerman, Polandia, dan Belarus.

Atas kejahatannya itu Dirlewanger disebut sangat menikmatinya. Banyak orang Yahudi dan Slavia yang terbunuh tidak bersenjata alias warga sipil pemberontak yang dilabeli sebagai "bandit". (Baca juga: Ini Pesan Rahasia Terakhir Nazi dalam Perang Dunia II)

5. Matsui Iwane (Pemimpin Militer Jepang di China)



Matsui adalah salah seorang pemimpin militer Kekaisaran Jepang pada tahun 1937. Beberapa tahun sebelum dimulainya Perang Dunia II di Eropa, ia memerintahkan salah satu pembantaian paling mengerikan di kota Nanjing China.

Diperkirakan 100.000 hingga 300.000 orang dibantai, banyak dari mereka bukan tentara, sementara kota dibakar dan dijarah. Kekejaman ini juga dinamai Perkosaan Nanjing (Rape of Nanjing), secara simbolis berkisah tentang kota yang dihancurkan, tetapi juga secara harfiah adalah ketika puluhan ribu wanita dan gadis diperkosa oleh tentara Jepang. (Lihat grafis: 10 Kapal Induk Terbesar di Dunia, Salah Satunya Dimiliki Thailand)

6. Napoleon Bonaparte (Kaisar Prancis)



Revolusi Prancis ingin membentuk pemerintahan yang lebih inklusif tetapi kemudian Napoleon mengambil kekuasaan untuk menaklukkan Eropa dengan pasukannya. Napoleon adalah seorang pemimpin militer sukses, tetapi ia memerintah dengan tangan besi. (Baca juga: Kesalahan Konyol yang Mengubah Sejarah Dunia)

Prancis di era kekuasaannya mampu menaklukkan sebagian wilayah Eropa pada 1812. Simbol kekuatannya yang besar adalah ketika ia tidak menunggu Paus Katolik untuk memahkotainya selama upacara penahbisannya sebagai kaisar. Dia justru mengambil mahkota dari tangan Paus dan mengenakannya sendiri, sebuah tindakan yang menunjukkan betapa besarnya kekuatan yang dia miliki saat itu.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!