Pertemuan tertutup Presiden Sudan & Sudan Selatan
Minggu, 15 Juli 2012 - 16:38 WIB
Pertemuan tertutup Presiden Sudan & Sudan Selatan
A
A
A
Sindonews.com – Presiden Sudan dan Sudan Selatan bertemu untuk pertama kalinya sejak sengketa perbatasan membawa kedua negara pada konflik bulan April lalu. Presiden Omar al-Bashir duduk bersama Presiden Salva Kiir di sela-sela pertemuan puncak Uni Afrika (African Union/AU) di Ibu Kota Ethiopia.
Sayangnya, pertemuan Presiden Sudan dan Sudan Selatan di Addis Ababa besifat tertutup, sehingga belum diketahui apa saja yang dibahas di dalamnya. Namun, kedua presiden itu saling berjabat tangan di depan umum untuk pertama kalinya.
Seperti dikutip dari BBC, Sabtu (14/7/2012), pertemuan kedua pemimpin ini memang tidak akan menghasilkan keputusan apapun, namun setidaknya pertemuan itu telah menunjukan mereka ikut merasakan tekanan untuk menyelesaikan sengketa kedua negara.
Sudan Selatan merdeka dari Sudan bagian utara sejak 2011, tetapi banyak masalah yang belum terselesaikan antara dua negara tersebut. Saat ini, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah memberikan batas waktu bagi Sudan dan Sudan Selatan untuk menyelesaikan perselisihan hingga 2 Agustus 2012.
Dari sekian banyak masalah yang melanda kedua negara, masalah utama Sudan dan Sudan Selatan yaitu ketidakjelasan wilayah perbatasan, perselisihan ladang minyak, pembayaran transportasi, dan divisi utang nasional.
Pembicaraan resmi terakhir antara Presiden Kiir dan Bashir dilakukan pada puncak Delegasi AU bulan Januari lalu. Ketika itu, delegasi AU mendesak pemerintah di Khartoum dan Juba untuk menyelesaikan persengketaan minyak dan demarkasi perbatasan sebelum batas waktu yang ditentukan PBB.
PBB menawarkan opsi penyelesaian mandiri kepada kedua negara untuk berdialog guna menyelesaikan persoalan mereka selama tiga bulan. Sudan dan Sudan Selatan hampir terlibat perang terbuka pada April lalu, akibat pertikaian yang memperebutkan hak pengelolaan kawasan ladang minyak di Heglig.
Sayangnya, pertemuan Presiden Sudan dan Sudan Selatan di Addis Ababa besifat tertutup, sehingga belum diketahui apa saja yang dibahas di dalamnya. Namun, kedua presiden itu saling berjabat tangan di depan umum untuk pertama kalinya.
Seperti dikutip dari BBC, Sabtu (14/7/2012), pertemuan kedua pemimpin ini memang tidak akan menghasilkan keputusan apapun, namun setidaknya pertemuan itu telah menunjukan mereka ikut merasakan tekanan untuk menyelesaikan sengketa kedua negara.
Sudan Selatan merdeka dari Sudan bagian utara sejak 2011, tetapi banyak masalah yang belum terselesaikan antara dua negara tersebut. Saat ini, Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) telah memberikan batas waktu bagi Sudan dan Sudan Selatan untuk menyelesaikan perselisihan hingga 2 Agustus 2012.
Dari sekian banyak masalah yang melanda kedua negara, masalah utama Sudan dan Sudan Selatan yaitu ketidakjelasan wilayah perbatasan, perselisihan ladang minyak, pembayaran transportasi, dan divisi utang nasional.
Pembicaraan resmi terakhir antara Presiden Kiir dan Bashir dilakukan pada puncak Delegasi AU bulan Januari lalu. Ketika itu, delegasi AU mendesak pemerintah di Khartoum dan Juba untuk menyelesaikan persengketaan minyak dan demarkasi perbatasan sebelum batas waktu yang ditentukan PBB.
PBB menawarkan opsi penyelesaian mandiri kepada kedua negara untuk berdialog guna menyelesaikan persoalan mereka selama tiga bulan. Sudan dan Sudan Selatan hampir terlibat perang terbuka pada April lalu, akibat pertikaian yang memperebutkan hak pengelolaan kawasan ladang minyak di Heglig.
()