Militer Suriah rebut senjata Israel
Jum'at, 13 Juli 2012 - 15:08 WIB
Militer Suriah rebut senjata Israel
A
A
A
Sindonews.com - Pasukan keamanan Suriah dilaporkan telah menyita senjata yang sebagian besar buatan Israel. Senjata yang disita diperoleh dari beberapa kelompok pemberontak dalam kekerasan di kota Hama.
Pemberontak tersebut terperangkap dalam daerah al-Treimseh pada Kamis lalu, seperti dikutip dari Presstv, Jumat (13/7/2012).
Seorang Pejabat Suriah menjelaskan, kelompok bersenjata telah melakukan pembantaian terhadap rakyat di al-Treimseh. Karena itu, penduduk di sana meminta tentara untuk mengakhiri kejahatan yang dilakukan kelompok bersenjata.
Sementara Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Gennady Gatilov mengatakan, Rusia akan memveto resolusi Barat terhadap penyelesaian konflik di Suriah melalui PBB. Bahkan beberapa negara akan memberlakukan sanksi terhadap Suriah.
Pemerintah Suriah menyalahkan penjahat, pelaku sabotase, dan kelompok teroris bersenjata atas kekerasan yang terjadi di negara itu. Suriah menduga kekerasan yang terjadi diatur dari luar negeri.
Amerika Serikat (AS) dan Eropa bersekutu untuk menerapkan sanksi diplomatik dan ekonomi terhadap Suriah melalui PBB.
Saat ini, Suriah telah menjadi ajang kekerasan yang dipimpin kelompok bersenjata sejak Maret 2011. Ironisnya, kekerasan itu telah merenggut nyawa ratusan orang, termasuk warga sipil dan pasukan keamanan.
Pemberontak tersebut terperangkap dalam daerah al-Treimseh pada Kamis lalu, seperti dikutip dari Presstv, Jumat (13/7/2012).
Seorang Pejabat Suriah menjelaskan, kelompok bersenjata telah melakukan pembantaian terhadap rakyat di al-Treimseh. Karena itu, penduduk di sana meminta tentara untuk mengakhiri kejahatan yang dilakukan kelompok bersenjata.
Sementara Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Gennady Gatilov mengatakan, Rusia akan memveto resolusi Barat terhadap penyelesaian konflik di Suriah melalui PBB. Bahkan beberapa negara akan memberlakukan sanksi terhadap Suriah.
Pemerintah Suriah menyalahkan penjahat, pelaku sabotase, dan kelompok teroris bersenjata atas kekerasan yang terjadi di negara itu. Suriah menduga kekerasan yang terjadi diatur dari luar negeri.
Amerika Serikat (AS) dan Eropa bersekutu untuk menerapkan sanksi diplomatik dan ekonomi terhadap Suriah melalui PBB.
Saat ini, Suriah telah menjadi ajang kekerasan yang dipimpin kelompok bersenjata sejak Maret 2011. Ironisnya, kekerasan itu telah merenggut nyawa ratusan orang, termasuk warga sipil dan pasukan keamanan.
()