Sebanyak 44 Orang Terinfeksi Pneumonia Misterius di China

Sabtu, 04 Januari 2020 - 14:38 WIB
Sebanyak 44 Orang Terinfeksi...
Sebanyak 44 Orang Terinfeksi Pneumonia Misterius di China
A A A
WUHAN - Otoritas kesehatan China sedang mengidentifikasi misteri apa yang menyebabkan wabah pneumonia melanda pusat kota Wuhan. Sudah 44 orang terinfeksi penyakit yang menyerang paru-paru tersebut.

Pemerintah Singapura mengatakan akan melakukan screening terhadap orang-orang yang datang dengan penerbangan dari China.

Pihak berwenang di China pada pekan ini mengaku sedang menyelidiki 27 kasus infeksi setelah desas-desus di media sosial menyatakan bahwa wabah tersebut terkait dengan Sindrom Pernafasan Akut Parah (SARS).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengaku sudah mengetahui laporan tersebut. Organisasi itu kini memantau situasi dan menghubungi pemerintah China tentang wabah penumonia.

"Investigasi masih sedang dilakukan dan pihak berwenang belum dapat mengonfirmasi patogen apa yang menyebabkan penyakit ini," kata juru bicara WHO, Tarik Jasarevic, seperti dikutip Reuters, Sabtu (4/1/2020).

Dia menambahkan bahwa ada beberapa penyebab potensial pneumonia virus, banyak di antaranya lebih umum daripada SARS.

Pejabat kesehatan kota Wuhan, China, mengatakan dalam sebuah pernyataan di situs web mereka pada hari Jumat bahwa mereka telah mengesampingkan penyakit pernapasan umum, seperti influenza, flu burung dan infeksi adenovirus, sebagai penyebabnya.

Menurut pejabat tersebut, 11 dari mereka yang terinfeksi berada dalam kondisi kritis dan sisanya stabil. Dia menambahkan bahwa semua pasien telah diisolasi dan dokter memantau 121 orang yang memiliki riwayat kontak dengan para pasien.

Upaya pembersihan di pasar kuliner seafood di mana beberapa korban adalah pedagang telah selesai. Menurut pejabat kota Wuhan, tidak ada penularan dari manusia ke manusia yang terlihat dan tidak ada staf medis yang terinfeksi.

Pada hari Jumat, Kementerian Kesehatan Singapura mengaku akan memulai pemeriksaan suhu pada para penumpang yang tiba dengan penerbangan dari Wuhan, China.

Pada tahun 2003, para pejabat China menutup-nutupi wabah SARS selama berminggu-minggu sebelum meningkatnya jumlah kematian. Kasus itu memaksa pemerintah untuk mengungkapkan epidemi, meminta maaf, dan berjanji bertanggung jawab penuh tentang wabah itu di masa depan.

Penyakit ini, yang muncul di China selatan pada akhir tahun 2002, menyebar dengan cepat ke kota-kota dan negara-negara lain pada tahun 2003. Lebih dari 8.000 orang terinfeksi dan 775 orang lainnya meninggal pada saat itu.

Polisi Wuhan minggu ini mengatakan mereka telah memanggil delapan orang yang "mem-posting dan meneruskan informasi palsu secara online, yang menyebabkan dampak sosial yang merugikan".
(mas)
Berita Terkait
Dua Anggota Penyelidik...
Dua Anggota Penyelidik WHO Masih Tertahan di Singapura
Usut Asal-usul Virus...
Usut Asal-usul Virus Corona, Tim Penyelidik WHO Tiba di Wuhan
Australia Desak China...
Australia Desak China Segera Beri Akses Kepada Tim Investigasi WHO
Gara-Gara Pandemi Virus...
Gara-Gara Pandemi Virus Corona, Mereka Saling Berselisih
Hentikan Dana untuk...
Hentikan Dana untuk WHO, China Kecam Keputuan Trump
Meski Sulit, Taiwan...
Meski Sulit, Taiwan Berusaha Keras Dapat Undangan Pertemuan WHO
Berita Terkini
5 Negara yang Mampu...
5 Negara yang Mampu Membuat Jet Tempur Sendiri, Ada yang Produksinya Mencapai Ratusan Unit per Tahun
1 jam yang lalu
Rudal Iran Guncang Israel,...
Rudal Iran Guncang Israel, Trump: Netanyahu Tak Boleh Balas Dendam
1 jam yang lalu
IRGC Serang 3 Pangkalan...
IRGC Serang 3 Pangkalan Militer Zionis, Israel Gempur 5 Kota Iran
1 jam yang lalu
AS Hendak Beli Kepulauan...
AS Hendak Beli Kepulauan Chagos, Ini Tujuannya
2 jam yang lalu
Iran Luncurkan Gelombang...
Iran Luncurkan Gelombang Kedua Serangan Rudal, Jenderal Tertinggi Israel Sembunyi di Bunker
3 jam yang lalu
Tak Hanya Iran, Houthi...
Tak Hanya Iran, Houthi Yaman Juga Tembakkan Rudal ke Israel
4 jam yang lalu
Infografis
10 Universitas Paling...
10 Universitas Paling Diminati di SNBT 2026, UI Paling Favorit
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved